PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), perusahaan yang bergerak di bidang produk kesehatan, mengumumkan rencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan total nilai maksimal mencapai Rp 500 miliar. Keputusan ini diambil di tengah kondisi harga saham KLBF yang mengalami penurunan sebesar 36,93% sejak awal tahun.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa pada Selasa (15/9) pukul 15.16 WIB, saham KLBF mengalami kenaikan sebesar 2,72% menjadi Rp 1.130. Meskipun demikian, dalam satu bulan terakhir, harga saham tersebut telah turun sebesar 5%.
Sumber Dana dan Dampak Keuangan
Manajemen KLBF mengungkapkan bahwa dana untuk buyback akan diambil dari kas internal perusahaan. Diperkirakan, langkah ini akan mengurangi pendapatan bunga sekitar Rp 8,4 miliar setelah periode buyback selesai. Namun, pihak KLBF meyakini bahwa penurunan pendapatan tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan.
“Biaya yang timbul dari pembelian kembali saham adalah biaya perantara pedagang efek dan biaya lain yang berkaitan dengan buyback adalah sebanyak-banyaknya 0,1% dari jumlah nilai buyback,” ungkap manajemen KLBF dalam keterbukaan informasi di BEI pada Selasa (15/9).
Manajemen juga memperkirakan bahwa dengan mempertimbangkan penurunan pendapatan bunga dan berkurangnya jumlah saham yang beredar, proforma laba per saham jika seluruh rencana buyback dilaksanakan saat ini akan mencapai Rp 81,44. Angka ini lebih tinggi dibandingkan laba per saham yang tercatat untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025, yang sebesar Rp 80,51.
Jadwal dan Pelaksanaan Buyback
Proses buyback direncanakan berlangsung dari 16 September hingga 16 Desember 2026, atau maksimal selama tiga bulan sesuai dengan ketentuan POJK Nomor 13 Tahun 2023. Namun, perusahaan memiliki opsi untuk mengakhiri periode buyback lebih awal dengan tetap mematuhi peraturan yang berlaku.
Pelaksanaan buyback akan dilakukan melalui transaksi di BEI, dan KLBF akan menggunakan jasa perusahaan perantara pedagang efek untuk proses ini. Pihak manajemen berharap bahwa aksi buyback ini dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap nilai fundamental saham KLBF. Selain itu, saham hasil buyback atau yang dikenal sebagai saham treasuri diharapkan memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam pengelolaan modal jangka panjang.
Saham treasuri tersebut dapat dialihkan di masa mendatang ketika perusahaan mendapatkan nilai yang optimal, sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Dalam paparan publik, manajemen KLBF juga membuka kemungkinan untuk menghapus pencatatan saham atau delisting anak usahanya, PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT), dari BEI. Opsi ini muncul karena porsi saham publik atau free float EPMT yang hanya mencapai 7,51% per Agustus 2026, sementara BEI telah menaikkan batas free float setiap emiten menjadi 15%.
Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy, mengakui bahwa porsi free float anak usahanya saat ini belum memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh BEI. Perusahaan masih melakukan kajian untuk memenuhi ketentuan tersebut secara bertahap pada tahun 2027 dan 2028.
Kartika menjelaskan bahwa Kalbe Farma sedang melakukan perhitungan internal dan menjajaki opsi untuk meningkatkan porsi free float anak usahanya. Namun, perusahaan juga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan delisting jika penambahan saham publik tidak dapat direalisasikan. “Jadi saat ini kami masih menjajaki kedua opsi tersebut dan tentunya kita akan comply dengan peraturan IDX sebagai kita merupakan bagian dari pasar modal Indonesia,” ujar Kartika dalam paparan publik 2026, Jumat (11/9).
Ia juga menambahkan bahwa Kalbe Farma terbuka terhadap masukan dari pelaku pasar mengenai opsi yang dapat diambil dan akan tetap mengikuti ketentuan serta tenggat waktu yang ditetapkan oleh BEI.