Kesehatan

Risiko Iritasi Mata bagi Pengidap Glaukoma di Tengah Debu Vulkanik

Paparan debu dan abu vulkanik dapat memicu iritasi mata, terutama pada pengidap glaukoma. Penanganan yang tepat dan kontrol rutin menjadi sangat penting bagi mereka yang menjalani terapi atau pasca-op...

V
Vina Maharani
13 September 2026 30 pembaca
Periksa mata. Foto: Getty Images/Edwin Tan
Periksa mata. Foto: Getty Images/Edwin Tan

Jakarta - Paparan debu tebal dan abu vulkanik di luar ruangan dapat menyebabkan iritasi bagi siapa saja. Namun, bagi individu yang mengidap glaukoma, risiko yang dihadapi jauh lebih rumit, terutama bagi mereka yang rutin menggunakan obat atau telah menjalani operasi mata. Pertanyaannya, bagaimana cara menangani paparan debu untuk pengidap glaukoma, dan seberapa sering mereka perlu melakukan kontrol ke dokter?

Kondisi Khusus Pengidap Glaukoma

Pengidap glaukoma memiliki kondisi kesehatan mata yang berbeda dibandingkan dengan orang tanpa gangguan tersebut. Dokter mata dari Mayapada Eye Center (MEC), dr Rini Sulastiwaty Situmorang, SpM(K), membagi risiko paparan debu bagi pengidap glaukoma ke dalam dua kategori utama.

Pasien Glaukoma Pengguna Obat Tetes Rutin

Pengidap glaukoma yang menggunakan obat tetes mata untuk mengontrol tekanan bola mata dalam jangka panjang biasanya mengalami kondisi mata yang lebih kering. Ketika terpapar abu atau debu vulkanik, ketidaknyamanan yang dirasakan akan semakin meningkat. "Nah ini kita sekarang lagi bicara baseline kesehatan mata orang dengan glaukoma. Yang satu, kondisinya misalnya udah pakai obat tetes mata banyak jumlahnya. Matanya relatif lebih kering," ujar dr Rini.

Pasien Glaukoma Pasca-Operasi

Pasien glaukoma yang telah menjalani operasi memerlukan perhatian ekstra. Prosedur operasi bertujuan untuk menciptakan saluran pembuangan cairan di dalam mata. Jika mata terpapar abu vulkanik dan kemudian digosok, bekas saluran operasi tersebut berisiko mengalami kerusakan. "Biasanya kalau sudah dioperasi tuh udah ada saluran di dalamnya. Dan kalau ada debu vulkanik terus dia kena, terus iritasi, dia kucek-kucek, itu ada robekan di bekas tempat operasinya. Mungkin resiko infeksi dia lebih tinggi daripada orang lainnya," jelas dr Rini.

Menurut dr Rini, risiko infeksi pada pasien pasca-operasi bisa meningkat karena kotoran dapat masuk ke mata melalui saluran yang dibuat oleh dokter saat operasi.

Pentingnya Kontrol Rutin

Pengidap glaukoma, khususnya yang telah menjalani operasi, harus segera melakukan kontrol jika terpapar abu. Mereka sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan langsung di fasilitas kesehatan. dr Rini menekankan bahwa pasien glaukoma dengan riwayat operasi yang merasa tidak nyaman setelah terpapar abu harus segera memeriksakan diri secara fisik, bukan hanya berkonsultasi melalui telepon atau foto.

Pemeriksaan fisik dengan alat khusus seperti slit lamp diperlukan untuk memastikan tidak ada luka kecil atau robekan yang dapat meningkatkan risiko infeksi. "Karena once itu (abu vulkanik) masuk, di daerah mata kita ini banyak pembuluh darah. Kenapa sih ini jadi penting? Karena lewat aliran darah itu risiko infeksi bisa mengalir ke sistem. Gitu," tambahnya.

Langkah Pencegahan bagi Pengidap Glaukoma

Untuk mengurangi risiko saat beraktivitas di area yang berdebu atau terkena abu vulkanik, pengidap glaukoma disarankan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan, seperti melindungi mata secara maksimal, tidak mengucek mata, menyediakan air mata buatan, dan rutin melakukan kontrol.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan pengidap glaukoma dapat mengurangi risiko iritasi mata akibat paparan debu dan abu vulkanik.

Artikel Terkait