Kesehatan

Risiko Masalah Jantung Akibat Tidur dengan Pencahayaan Terang

Tidur di ruangan yang terang dapat memengaruhi kesehatan jantung, menurut penelitian terbaru yang menunjukkan hubungan antara paparan cahaya saat tidur dan perubahan pada otot jantung.

D
Darma Yudhistira
13 September 2026 24 pembaca
Foto: Getty Images/twinsterphoto
Foto: Getty Images/twinsterphoto

Jakarta - Tidur di lingkungan yang sedikit terang dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa paparan cahaya saat tidur, meskipun dalam intensitas rendah, dapat berhubungan dengan perubahan pada struktur dan fungsi otot jantung. Penelitian yang dimuat dalam European Heart Journal menunjukkan bahwa paparan cahaya lebih dari 3 lux saat tidur berhubungan dengan penebalan dinding otot jantung. Hal ini menunjukkan bahwa semakin terang ruangan, semakin besar pula perubahan yang terjadi.

"Polusi cahaya telah muncul sebagai faktor risiko baru penyakit kardiovaskular," ungkap Dr. Lu Qi, penulis senior studi dan profesor di Tulane University Obesity Research Center di New Orleans.

Kondisi Tidur yang Ideal

Para peneliti merekomendasikan agar kondisi kamar tidur sebaiknya sangat gelap. Mereka menyarankan agar tingkat pencahayaan maksimal berada di sekitar 1 lux untuk mencapai kualitas tidur yang optimal. Sebagai perbandingan, cahaya 3 lux setara dengan cahaya bulan atau cahaya yang masuk melalui celah pintu kamar yang tertutup.

Analisis Dampak pada Jantung

Studi ini melibatkan lebih dari 11.000 individu tanpa penyakit kardiovaskular yang terdaftar dalam UK Biobank, sebuah basis data kesehatan dan genetik besar di Inggris. Para peserta menggunakan sensor di pergelangan tangan selama tujuh hari untuk mengukur paparan cahaya di malam hari. Sekitar tiga tahun kemudian, mereka menjalani pemeriksaan MRI jantung untuk mengevaluasi struktur dan fungsi jantung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang tidur dengan paparan cahaya lebih dari 3 lux mengalami penebalan dinding ventrikel kiri jantung dibandingkan mereka yang tidak terpapar cahaya saat tidur. Penebalan ini menyebabkan ruang di dalam bilik jantung menjadi lebih sempit dan mengurangi kemampuan otot jantung untuk mengembang saat berdetak, yang bisa menjadi indikasi awal gangguan fungsi jantung. Perubahan bentuk dan struktur jantung ini dikenal sebagai remodeling jantung.

"Kita tidak ingin otot jantung menebal. Kita tidak ingin otot jantung menjadi kaku. Kita tidak ingin jantung menjadi terlalu besar," kata Dr. Andrew Freeman, direktur pencegahan kardiovaskular dan kesejahteraan di National Jewish Health, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Freeman menambahkan bahwa perubahan ini dapat terjadi akibat paparan cahaya yang berlebihan dan dapat berpengaruh pada kualitas tidur.

Peran Durasi Tidur

Penelitian juga menemukan bahwa sekitar 24-49 persen dampak terhadap jantung dapat dijelaskan oleh durasi tidur yang lebih pendek, yakni kurang dari lima hingga enam jam. Menurut Lu Qi, paparan cahaya di malam hari mungkin juga memengaruhi faktor risiko penyakit kardiovaskular lainnya, seperti stres, tekanan darah, dan detak jantung. Dengan kata lain, cahaya di malam hari tidak hanya berpotensi mengganggu tidur tetapi juga dapat berhubungan dengan berbagai perubahan biologis yang memengaruhi kesehatan jantung.

Namun, penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa paparan cahaya secara langsung menyebabkan perubahan pada jantung. Karl Lawrence, dosen di Institute of Pharmaceutical Science, King's College London, mengungkapkan bahwa penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk pengukuran paparan cahaya yang hanya dilakukan selama satu minggu. Selain itu, sensor cahaya di pergelangan tangan mungkin tidak mencerminkan jumlah cahaya yang sebenarnya diterima oleh mata. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara paparan cahaya saat tidur dan perubahan pada struktur jantung.

Artikel Terkait