Kesehatan

RSCM Lakukan Operasi Ginekologi Jarak Jauh Menggunakan Teknologi Robotik

RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menciptakan sejarah baru dengan melaksanakan operasi ginekologi jarak jauh pertama di Indonesia pada 6 September 2026, menggunakan teknologi robotik.

E
Eira Orelia
11 September 2026 27 pembaca
Foto: Getty Images/mihailomilovanovic
Foto: Getty Images/mihailomilovanovic

RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah mencatatkan langkah bersejarah dalam pemanfaatan teknologi medis di Indonesia. Pada tanggal 6 September 2026, RSCM sukses melaksanakan tindakan bedah ginekologi jarak jauh (tele-robotic surgery) yang pertama di tanah air. Prosedur ini dilakukan di ruang operasi RSCM Kencana, Jakarta, dengan pengendalian robot yang dilakukan langsung dari Bali, berjarak lebih dari 1.000 kilometer.

Tindakan pembedahan ini disiarkan secara langsung dalam acara tahunan Asia Pacific Association for Gynecologic Surgery (APAGE) ke-26 yang berlangsung bersamaan dengan Indonesian Gynecological Endoscopy Society (IGES) ke-13 di Jimbaran Convention Center, Bali. "Pembedahan robotik ini merupakan operasi ginekologi jarak jauh pertama yang dikerjakan di Indonesia," ungkap dr Herbert Situmorang, SpOG Subs FER, yang terlibat dalam prosedur tersebut di RSCM Kencana.

Detail Tindakan Pembedahan

Pembedahan robotik ini ditujukan untuk seorang pasien wanita berusia 47 tahun yang mengalami perdarahan pervaginam di luar siklus menstruasi. Kondisi ini sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien, meningkatkan risiko anemia akibat penurunan kadar hemoglobin, serta mengganggu aktivitas sehari-hari. Spesialis obgyn yang ikut dalam operasi, dr Riyan Hari Kurniawan, SpOG Subs FER, menjelaskan bahwa kasus ini tergolong kompleks karena pasien memiliki beberapa kondisi kesehatan yang menyertainya, termasuk obesitas grade 2 dan riwayat operasi sesar sebelumnya.

"Waktu kita operasi itu ada perlengketan yang kita bebaskan dulu pada langkah pertamanya, kemudian baru akses ke rahimnya terbuka," jelas dr Riyan.

Keputusan untuk Melakukan Histerektomi

Sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan bedah, tim medis terlebih dahulu mencoba penanganan non-operatif dengan pemberian obat-obatan. Namun, karena tidak memberikan respons yang memuaskan, tim beralih ke jalur operatif. Mengingat usia pasien yang mendekati menopause, jumlah anak yang sudah cukup, dan keinginannya untuk mendapatkan penanganan yang tuntas, tim dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan histerektomi atau pengangkatan rahim.

Dr Herbert menambahkan bahwa penyebab utama perdarahan pada pasien ini adalah ismosil atau niche, yaitu kondisi bekas luka dari operasi sesar sebelumnya yang tidak sembuh dengan baik, sehingga menyebabkan darah berkumpul dan keluar secara tidak teratur. "Pada pasien ini kebetulan semuanya mendukung. Dari inklusi pendanaannya ada, pasien mau penanganan yang lebih komprehensif, waktu rawat lebih singkat, minimal invasif tercapai, presisinya bagus, dan alatnya di rumah sakit kami ada. Kebetulan semuanya mendukung, jadi cocok banget buat robotik," tutur dr Herbert.

Secara keseluruhan, proses inti operasi menggunakan sistem robotik berlangsung selama sekitar 1,5 jam, dengan persiapan awal (prarobotik) yang memakan waktu sekitar 1 jam untuk pembiusan, diagnostik awal melalui laparoskopi, dan pemasangan lengan robot (docking). Salah satu keunggulan utama dari teknologi pembedahan robotik dan laparoskopi sebagai metode bedah minimal invasif adalah masa pemulihan pasien yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional (laparatomi).

Artikel Terkait