Ekonomi

Rupiah Tertekan, Tercatat di Rp 17.947 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada pagi hari ini, mencapai Rp 17.947 per dolar. Pelemahan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan kondisi geopolitik di Timur Tengah.

A
Agus Wigati
13 October 2026 17 pembaca
Ade Rosman
Ade Rosman

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada pagi hari ini. Berdasarkan data dari Bloomberg, pada Selasa (13/10), rupiah dibuka di level Rp 17.947 per dolar AS. Ini mencerminkan depresiasi sebesar 34 poin atau sekitar 0,19% dibandingkan penutupan sebelumnya, di mana rupiah berada di level Rp 17.913 per dolar AS.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah kali ini diperkirakan disebabkan oleh meningkatnya harga minyak mentah. “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu harga minyak mentah dunia kembali naik,” ungkap Lukman saat dihubungi pada Selasa (13/10).

Faktor Global dan Domestik

Sementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menambahkan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dari perspektif global, ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu penyebab utama. “Sejumlah serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz telah dilaporkan sepanjang bulan ini, yang berpotensi menghambat pemulihan ekspor minyak mentah Timur Tengah yang sempat terlihat pada bulan September,” jelas Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa (13/10).

Di sisi domestik, pasar tampak menunggu pengumuman dari MSCI mengenai ancaman degradasi status Indonesia ke frontier market. Selain itu, potensi pembekuan yang terus berlangsung juga menghantui pasar saham Indonesia. “Jika solusi dapat diterapkan dengan cepat, perlakuan khusus (MSCI terhadap pasar RI) bakal tuntas dalam waktu sekitar satu tahun. Namun, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai maka pembekuan dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan berkembang menjadi penurunan klasifikasi (downgrade),” tambahnya.

Di sisi lain, Kantor Berita Anadolu melaporkan bahwa Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa komunikasi dengan AS masih berlangsung melalui perantara Pakistan dan Qatar. Baqaei menegaskan bahwa memanasnya situasi di Selat Hormuz merupakan konsekuensi langsung dari serangan AS dan Israel sejak 28 Februari. "Kami sedang meninjau usulan pihak Amerika untuk negosiasi. Prasyarat Iran harus dipenuhi dalam setiap negosiasi," kata Baqaei, seperti dilansir dari Anadolu.

Artikel Terkait