Kesehatan

Saat Udara Kering Mengancam Setiap Hembusan Napas: Cerita Pahit di Balik Kenaikan Kasus ISPA di Blitar

S
Safeera Anisa
16 October 2026 16 pembaca
llustrasi anak terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) (Dokumentasi Freepik)  KOMPAScOm
llustrasi anak terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) (Dokumentasi Freepik) KOMPAScOm

BLITAR – Debu jalanan yang beterbangan dan terik matahari yang tak kunjung terhalang awan menjadi pemandangan harian warga Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kemarau panjang sepanjang tahun 2026 bukan sekadar urusan cuaca panas, melainkan ujian nyata bagi kesehatan saluran pernapasan ribuan kepala keluarga di wilayah ini.

Ketika Puluhan Ribu Warga Mulai Mengeluhkan Sesak dan Batuk

Di balik pintu-pintu fasilitas kesehatan milik Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, penderita yang mengeluhkan batuk, pilek, hingga sesak napas tercatat makin padat. Terhitung sejak awal tahun hingga memasuki pekan ke-40 (28 September sampai 4 Oktober 2026), akumulasi penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus angka 29.352 orang.

Angka ini menceritakan betapa tajamnya dampak perubahan cuaca tahun ini. Jika dibandingkan dengan catatan di pekan ke-40 tahun 2025 yang berhenti pada 16.496 kasus, lonjakan penderita saat ini meroket hingga 77,9 persen—hampir dua kali lipat dalam kurun waktu satu tahun saja.

Jejak Perjalanan Gelombang Kasus dari Minggu ke Minggu

Bila dirunut kembali, krisis kesehatan ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan merayap perlahan seiring mengeringnya tanah Blitar. Berdasarkan data pemantauan dari pekan ke-1 hingga pekan ke-40 di tahun 2026, kenaikan penderita ISPA mulai terasa signifikan sejak pekan ke-31 (27 Juli hingga 2 Agustus) dengan membukukan 809 kasus.

Sejak pekan itu, jumlah penderita terus bertambah hingga mencapai titik terberatnya pada pekan ke-38, yakni rentang 14–20 September 2026, di mana 1.211 orang terinfeksi hanya dalam waktu satu minggu. Puncak kasus di September 2026 ini jauh melampaui puncak tahun lalu yang terjadi pada pekan ke-37 (8–14 September 2025) sebanyak 713 kasus.

Angka infeksi ini baru memperlihatkan pergerakan melandai secara perlahan ketika memasuki pekan ke-39 dengan 1.182 kasus, lalu kembali turun tipis pada pekan ke-40 menjadi 1.134 kasus.

Penjelasan dari Dinkes dan Penyebab di Balik Wabah

ISPA sendiri secara medis dipicu oleh infeksi mikroorganisme berupa virus maupun bakteri yang menyerang organ pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto, membenarkan bahwa kondisi cuaca ekstrem di Blitar merupakan faktor utama di balik memburuknya kesehatan warga.

“Karena cuaca yang sangat kering dan tidak sehat sehingga memperparah gejala. Cuaca kering ini juga mengakibatkan turunnya daya tahan tubuh masyarakat,” ujar Anggit kepada Kompas.com, Kamis (15/10/2026).

Langkah Sederhana Melindungi Diri dan Keluarga

Menghadapi lingkungan yang sarat debu dan polusi, Anggit menyarankan warga untuk tak segan menjaga pertahanan tubuh dari hal-hal mendasar. Memenuhi kebutuhan cairan harian dengan rajin minum air putih menjadi langkah paling awal agar tenggorokan tak mudah terirritasi.

Selain asupan cairan, benteng fisik saat keluar rumah juga menjadi kewaspadaan yang tidak boleh diabaikan.

“Kemarau panjang juga membuat polusi udara meningkat. Maka sebaiknya kita selalu menggunakan masker pelindung mulut dan hidung terutama saat berada di luar ruangan,” kata Anggit.

Terakhir, ia berpesan agar warga tetap menyempatkan berolahraga ringan secara teratur demi menjaga imunitas, menjaga kebersihan area sekitar, serta memperhatikan pola makan sehari-hari.

“Tingkatkan juga konsumsi buah dan sayur serta menjaga kesehatan lingkungan di sekitar kita,” pungkasnya.

Artikel Terkait