Kesehatan

Sering Putus Asa Saat Olahraga? Coba Cek, Jangan-jangan Pilihan Latihanmu Berseberangan dengan Kepribadian

S
Safeera Anisa
22 September 2026 34 pembaca
Ilustrasi olahraga. Pelatih kebugaran mengungkap beberapa olahraga yang dinilai paling efektif membakar kalori dan membantu menurunkan berat badan, mulai dari lari hingga HIIT. (Freepik/pressahotkey)
Ilustrasi olahraga. Pelatih kebugaran mengungkap beberapa olahraga yang dinilai paling efektif membakar kalori dan membantu menurunkan berat badan, mulai dari lari hingga HIIT. (Freepik/pressahotkey)

Pernahkah Anda merasa sangat malas atau cepat bosan saat berulang kali mencoba rutin berlatih di pusat kebugaran? Rasa enggan tersebut sebenarnya bukan melulu disebabkan oleh kurangnya niat atau kedisiplinan diri. Dalam banyak kasus, penyebab utamanya justru terletak pada ketidakcocokan antara bentuk latihan fisik yang dijalani dengan karakter kepribadian yang Anda miliki.

Mengapa Motivasi Saja Tidak Cukup?

Kaitan erat antara kepribadian dan pilihan olahraga ini disorot oleh para ahli kebugaran. Pada Senin (21/9/2026), personal trainer sekaligus ilmuwan olahraga Domenic Angelino menjelaskan lewat Verywell Mind, "Kepribadianmu bisa menunjukkan jenis olahraga apa yang memiliki peluang tertinggi untuk kamu nikmati,".

Pernyataan tersebut didukung oleh hasil studi tahun 2025 bertajuk "Personality traits can predict which exercise intensities we enjoy most, and the magnitude of stress reduction experienced following a training program". Berpatokan pada model lima sifat kepribadian utama—yakni ekstrovert, mudah sepakat, keterbukaan, kehati-hatian, serta neurotisme—riset ini mendapati bahwa seseorang jauh lebih berpeluang menikmati dan konsisten berolahraga apabila gayanya sesuai dengan jati diri mereka.

Saran Pakar: Pilih Gerakan yang Menjadi Cerminan Diri

Sebaliknya, memaksakan rutinitas latihan yang berseberangan dengan karakter bawaan bisa berdampak buruk. Mark Kovacs, PhD, seorang ilmuwan kinerja manusia dan anggota American College of Sports Medicine (ACSM), menyebutkan bahwa memaksakan metode yang tidak pas membuat motivasi cepat anjlok hingga akhirnya berhenti di tengah jalan.

Oleh sebab itu, Kovacs kerap mengingatkan pesan penting saat mendampingi para kliennya. Ia menekankan, 'Olahragamu seharusnya tidak melawan kepribadianmu... itu harus mencerminkannya'. Ketika jenis olahraga selaras dengan kepribadian, suasana hati akan meningkat pesat, rasa malas terminimalkan, dan sesi latihan terasa jauh lebih menyenangkan.

Cocokkan Karakter Dirimu dengan Jenis Gerakan

Agar tidak salah pilih, berikut panduan memadukan tipe kepribadian dengan aktivitas fisik yang tepat:

Pribadi Ekstrovert:

Sangat cocok mengambil jenis latihan yang memicu interaksi sosial, seperti zumba, latihan interval intensitas tinggi (HIIT), atau olahraga permainan beregu. Kehadiran rekan berlatih yang kemampuan fisiknya sedikit di atas juga sangat membantu memacu semangat.

Pribadi Introvert:

Lebih nyaman melakukan aktivitas fisik secara mandiri di suasana yang tenang demi mengisi ulang energi. Pilihan seperti berenang, yoga, pilates, senam mandiri di rumah, atau lari santai di taman menjadi sarana yang pas untuk menjaga fokus.

Pribadi Terencana (Kehati-hatian Tinggi):

Tipe yang terstruktur ini menyukai program latihan beban berjadwal atau kelas olahraga dengan panduan yang jelas. Mereka dapat memantau progres latihan menggunakan catatan beban harian maupun perangkat pelacak kebugaran (fitness tracker).

Pribadi Kreatif dan Terbuka:

Pemilik jiwa petualang yang gemar bereksperimen akan lebih bergairah menjalani olahraga unik seperti panjat tebing, seni bela diri, hingga kelas menari.

Pribadi Rentan Cemas (Neurotisme Tinggi):

Untuk individu yang mudah tertekan atau cemas, gerakan fisik bernuansa lembut tanpa persaingan sangat ampuh menenangkan sistem saraf. Pilihan terbaiknya antara lain berjalan santai di alam terbuka, tai chi, peregangan tubuh, atau kelas yoga restoratif privat yang berdurasi singkat.

Jangan Takut Mencoba Hal Baru

Meskipun tipe kepribadian menjadi petunjuk arah yang berguna, hal ini bukan berarti menutup pintu untuk menjajaki hal baru. Pengalaman di lapangan membuktikan bahwa banyak pribadi introvert yang ternyata dapat menikmati kelas olahraga kelompok setelah menyadari peserta lain tidak benar-benar memperhatikan gerak-gerik mereka.

Sebagai penutup, Kovacs membagikan catatan penting dari pengalamannya melatih. "Saya juga pernah melatih atlet pencemas yang belajar menyukai latihan intens begitu mereka membingkainya sebagai tantangan yang terkendali, bukan sebuah kekacauan," ungkap Kovacs.

Artikel Terkait