Ribuan civitas akademika dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Jawa Timur, akhirnya membubarkan diri dari area Gedung Rektorat pada Kamis (17/9/2026). Keputusan pembubaran ini diambil lantaran upaya demonstran untuk menemui pihak pimpinan universitas guna menyuarakan penolakan terhadap rektor periode 2026–2030, Prof. Akhmad Muzakki, tidak membuahkan hasil.
Awal Mula Penolakan dan Sikap BEM UINSA
Rangkaian unjuk rasa ini sejatinya telah berlangsung sejak Rabu (16/9/2026). Gelombang protes dipicu oleh keputusan pengangkatan kembali Prof. Akhmad Muzakki—yang sebelumnya menjabat pada periode 2022–2026—sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rektor hingga kembali ditetapkan menduduki jabatan rektor untuk periode berikutnya. Para mahasiswa memandang dua masa kepemimpinan Muzakki belum memberikan dampak maupun perubahan positif bagi mahasiswa dan lingkungan kampus.
Dalam kesempatan unjuk rasa di Gedung Rektorat pada Rabu (16/9/2026), Wakil Presiden BEM UINSA, Fadlurrakhman Fazle Purwardana, menegaskan sikap penolakan mahasiswa kepada awak media:
“Kami menolak dan mengecam, dan kami juga ingin menurunkan secara hormat ya, secara pribadi dari Prof Muzakki ini kemudian turun jadi Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya"
Fadlurrakhman Fazle Purwardana juga mengutarakan bahwa kepemimpinan Muzakki dinilai sangat otoriter dan diktator, yang mana kondisi tersebut turut dikeluhkan oleh sejumlah pengajar. Menurut penjelasannya, banyak dosen menyampaikan aspirasi melalui mahasiswa karena khawatir terhadap keselamatan karier mereka, mengingat pernah terjadi pencopotan Dekan Fahum secara sepihak di masa lalu.
Eskalasi Aksi Bakar Ban dan Penguasaan Gedung
Memasuki hari kedua pada Kamis (17/9/2026), ketegangan aksi meningkat di pelataran Gedung Rektorat. Para demonstran menyulut api pada ban di halaman gedung dan membentangkan berbagai spanduk kecaman, termasuk yang bertuliskan "Tolak Muzakki 2 Periode” serta “Rektor lalai mahasiswa dan dosen sengsara. Lengserkan Muzakki”.
Selanjutnya, massa mahasiswa berhasil merangsek masuk ke dalam area bangunan dan membentuk barisan melingkar di lantai satu Gedung Rektorat sambil terus menyuarakan orasi secara bergantian.
Orasi Satu Jam dan Pembubaran Selepas Dzuhur
Di tengah aksi penguasaan lantai dasar tersebut, seorang orator menyampaikan seruan tegasnya:
“Turun Prof. Muzakki! Temui kami kalau bukan pengecut!”
Kendati orasi berlangsung selama kurun waktu kurang lebih satu jam, Prof. Akhmad Muzakki tetap tidak kunjung menemui para demonstran. Berdasarkan pantauan di lokasi kejadian, massa aksi akhirnya mulai membubarkan barisan secara bertahap sekitar pukul 12.30 WIB atau selepas kumandang azan dzuhur.