Ekonomi

--- Tekanan di Wall Street akibat Berita OpenAI, Saham Oracle Turun Lebih dari 5% ---

--- Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat mengalami penutupan yang bervariasi pada perdagangan Kamis, 8 Oktober, akibat kekhawatiran investor terkait informasi terbaru mengenai OpenAI yang berdam...

J
Jarot Kusna
09 October 2026 22 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila
---TITLEEXCERPT--- Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat mengalami penutupan yang bervariasi pada perdagangan Kamis, 8 Oktober, akibat kekhawatiran investor terkait informasi terbaru mengenai OpenAI yang berdampak pada saham sektor kecerdasan buatan. ---CONTENT---

Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat mengalami variasi dalam penutupan perdagangan pada hari Kamis, 8 Oktober. Fluktuasi ini disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap berita terbaru mengenai OpenAI, yang menekan saham-saham di sektor kecerdasan buatan. Indeks Nasdaq, yang banyak diisi oleh saham teknologi, mengalami penurunan sebesar 1,25% dan berada di level 27.193,34. S&P 500 juga mengalami penurunan sebesar 0,47% menjadi 7.765,36, sementara Dow Jones Industrial Average justru naik 51,77 poin atau 0,1% ke level 51.231,64.

Reaksi Pasar terhadap Pendapatan OpenAI

Tekanan pada saham teknologi semakin meningkat setelah terungkap bahwa pendapatan tahunan OpenAI berada di bawah ekspektasi. Hal ini menyebabkan saham Oracle anjlok lebih dari 5%. Saham produsen chip, Nvidia, juga turun hampir 3%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) mengalami penurunan sebesar 4%.

Pengaruh Harga Minyak dan Kebijakan AS

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa ia tidak ingin mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Di sisi lain, laporan menyebutkan bahwa AS sedang mempersiapkan serangan besar-besaran di Timur Tengah. Namun, Trump kemudian menegaskan bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela yang akan datang. Pernyataan ini menyebabkan harga minyak turun dari level tertingginya.

Meskipun demikian, harga minyak mentah Brent tetap naik 4,07% menjadi US$ 104,28 per barel, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 3,64% dan ditutup pada US$ 91,49 per barel. Investor juga memperhatikan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang sebelumnya mencapai level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan ini.

Pada perdagangan Kamis, 9 Oktober, imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 5,227%, sementara imbal hasil tenor 30 tahun terkoreksi 6 basis poin menjadi 5,601%. Penurunan ini terjadi setelah Departemen Keuangan AS melaksanakan lelang obligasi tenor 30 tahun yang mendapat respons positif dari investor.

Ross Mayfield, seorang ahli strategi investasi di Baird, menyatakan bahwa tekanan inflasi, terutama akibat kenaikan harga energi, telah memengaruhi sikap Federal Reserve dan pergerakan imbal hasil obligasi tenor panjang. Ia menambahkan, "Serta harga minyak turun dari US$ 90 per barel menjadi US$ 70 per barel, imbal hasil obligasi akan turun secara signifikan."

Pergerakan imbal hasil obligasi dan harga minyak yang fluktuatif belakangan ini telah memicu volatilitas di pasar saham. Investor khawatir bahwa kenaikan harga energi akan menjaga inflasi tetap tinggi dan mendorong Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga. Meski demikian, Mayfield menilai bahwa pasar saham secara keseluruhan masih cukup kuat menghadapi tekanan tersebut, terutama karena indeks S&P 500 dan Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi baru pada pekan ini.

Namun, Mayfield mengingatkan bahwa kenaikan kecil pada imbal hasil obligasi tenor panjang dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap saham. Ia memperkirakan imbal hasil obligasi dapat stabil di kisaran 5% hingga 6%. "Pasar sedang menyesuaikan diri dengan tingkat imbal hasil yang baru ini," ujarnya.

Menurutnya, imbal hasil yang lebih tinggi mencerminkan pertumbuhan nominal yang lebih kuat dan sedikit peningkatan inflasi. Jika tren ini berlanjut, kondisi suku bunga tinggi kemungkinan akan bertahan lebih lama. Mayfield juga memproyeksikan bahwa situasi ini bisa berubah jika terjadi resesi besar yang mendorong The Fed untuk memangkas suku bunga mendekati nol.

Di tengah tekanan pasar, saham Palantir Technologies justru mengalami kenaikan sebesar 2% pada perdagangan Kamis, 8 Oktober. Kenaikan ini terjadi setelah Goldman Sachs menaikkan peringkat saham perusahaan tersebut, dengan proyeksi bahwa saham Palantir masih memiliki potensi untuk menguat. Peralihan menuju kecerdasan buatan berdaulat dan pengembangan aplikasi khusus dianggap dapat membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar bagi perusahaan tersebut.

Artikel Terkait