JAKARTA — Grafik harga logam mulia yang mendadak melandai sering kali menyulut dorongan spontan bagi banyak orang untuk segera memborongnya. Namun, mengamankan aset emas saat harganya merosot ternyata butuh perhitungan matang, bukan sekadar respons emosional.
Jangan Terjebak Penawaran 'Murah'
Edukasi penting ini disuarakan oleh Perencana Keuangan sekaligus Founder Finante, Rista Zwestika. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak tergesa-gesa menguras tabungan hanya demi menambah portofolio emas saat melihat label harga yang tampak terjangkau.
Ditemui pada Selasa (13/10/2026), Rista menggarisbawahi bahwa fleksibilitas kas harian jauh lebih vital dibanding sekadar menumpuk logam bernilai.
"Murah belum tentu tepat kalau uang yang digunakan sebenarnya dibutuhkan untuk hidup," ujar Rista kepada Kompas.com.
Sebelum melangkah lebih jauh untuk membeli, ia membeberkan tiga poin krusial yang patut dicermati baik-baik.
Tiga Langkah Check-up Sebelum Beli
1. Kaji Ulang Kondisi Dapur Finansial
Langkah perdana yang pantang dilewati adalah mengaudit posisi keuangan saat ini. Hasrat berinvestasi jangan sampai mengganggu alokasi biaya hidup dasar apalagi sampai mengganggu dana simpanan darurat.
"Jangan sampai karena tergoda harga emas turun, masyarakat menggunakan dana darurat, uang sekolah anak, atau bahkan berutang untuk membeli emas," tegas Rista.
2. Petakan Kembali Tujuan dan Target Waktu
Selanjutnya, perjelas horizon atau rentang waktu investasi yang dibidik. Jika emas dibeli untuk kebutuhan jangka pendek dalam kurun 1–2 tahun ke depan, potensi naik-turun harga serta selisih harga jual-beli (spread) wajib masuk dalam kalkulasi. Sebaliknya, bila niatnya adalah memupuk aset jangka panjang, momen penurunan harga bisa dimanfaatkan untuk mengumpulkan emas secara bertahap.
Strategi Cicil Demi Menekan Risiko
3. Hindari Membeli Sekaligus dalam Jumlah Besar
Pada poin ketiga, Rista menyarankan agar masyarakat menghindari metode pembelian langsung secara sekaligus (lump sum) hanya karena menganggap harga sudah berada di titik terendah.
"Strategi pembelian berkala atau dollar cost averaging dapat menjadi pilihan untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu pembelian," saran Rista.
Sebagai gambaran, bila seseorang menyiapkan dana investasi Rp1 juta tiap bulannya, alokasi tersebut dapat dibelanjakan secara konsisten dan bertahap sesuai kemampuan porsi keuangan. Langkah ini dinilai lebih bijak daripada membelanjakan seluruh dana dalam satu transaksi. Kendati demikian, Rista memberi pencerahan bahwa strategi ini tidak serta-merta menjamin keuntungan instan atau menghapus risiko kerugian sepenuhnya.
Fokus pada Kesehatan Portofolio Keuangan
Muara dari semua keputusan finansial pada dasarnya adalah keseimbangan. Memiliki simpanan emas tentu bagus, tetapi menjaga ketersediaan uang tunai untuk menopang kehidupan harian tetaplah menjadi prioritas utama.
"Menurut saya, yang harus dikejar bukan sebanyak-banyaknya memiliki emas, tetapi seberapa sehat komposisi aset dalam keuangan kita," pungkas Rista.
Sebagai catatan, harga emas produksi Antam pada Selasa (13/10/2026) tercatat berada di level Rp2.594.000 per gram.