Kesehatan

Tingginya Jumlah Pasien Kanker Indonesia yang Berobat ke Luar Negeri: Apa Penyebabnya?

Fenomena pasien kanker dari Indonesia yang memilih berobat di luar negeri terus meningkat, dengan Malaysia menjadi tujuan utama. Hal ini dipengaruhi oleh akses terhadap obat-obatan kanker yang lebih c...

V
Vina Maharani
23 September 2026 24 pembaca
Ilustrasi. (Foto: iStock)
Ilustrasi. (Foto: iStock)

Keputusan pasien kanker di Indonesia untuk mencari perawatan medis di luar negeri menunjukkan tren yang terus berlanjut. Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Malaysia menjadi negara favorit bagi warga Indonesia yang mencari layanan kesehatan, diikuti oleh Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan.

Penyebab Pasien Memilih Berobat ke Luar Negeri

Dr. Kevin Tay, seorang konsultan senior onkologi medis di Singapura, menjelaskan bahwa alasan utama pasien kanker memilih berobat ke luar negeri bukanlah karena kurangnya kompetensi dokter di dalam negeri, melainkan terkait dengan ketersediaan dan kecepatan akses terhadap obat-obatan kanker terbaru. Ia menilai bahwa fasilitas kesehatan di luar negeri sering kali lebih cepat dalam mendapatkan persetujuan dan akses distribusi untuk terapi kanker modern.

“Saya pikir masalahnya bukan di dokter, tapi juga di akses ke pengobatan baru. Jadi akses ke pengobatan baru itu lebih cepat di Singapura,” ungkap Dr. Kevin saat ditemui di Jakarta Selatan pada Jumat (18/9/2026).

Ia memberikan contoh mengenai salah satu terapi obat untuk kanker pankreas yang baru saja disetujui oleh otoritas pengawas obat di Amerika Serikat (FDA) pada Agustus 2026. Terapi ini kini sudah dapat diakses oleh pasien di Singapura dalam waktu dekat.

Pentingnya Terapi yang Disesuaikan dengan Mutasi Kanker

Dr. Kevin juga menekankan bahwa penanganan kanker saat ini bersifat dinamis dan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien (personalized therapy). Setiap pasien memiliki profil mutasi sel kanker yang berbeda, sehingga pendekatan pengobatannya pun tidak bisa disamakan. Ada pasien yang memerlukan kemoterapi, ada yang bisa menggunakan terapi target, radiasi, atau kombinasi dari berbagai metode tersebut.

“Mutasi kanker punya obat berbeda dan dispesifikasi berdasarkan mutasinya. Kankernya mungkin sama, tapi penanganannya beda. Di sinilah muncul terapi target untuk kanker,” jelas Dr. Kevin.

Keberhasilan dalam menerapkan modalitas terapi yang tepat, baik itu kemoterapi, radiasi, atau terapi target, sangat bergantung pada ketepatan diagnosis di tahap awal pemeriksaan. Dr. Kevin memberi contoh mengenai kanker paru-paru akibat mutasi gen Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR). “Contoh pada kanker paru, paling banyak EGFR mutation. Kalau ada obat target, bisa menyasar mutasi itu saja. Beda jenis mutasi, ada obat tertentu dan spesifik. Jadi penting banget menegakkan diagnosis di awal jadi obatnya bisa tepat,” tutup Dr. Kevin.

Artikel Terkait