Jakarta - Depresi dan keinginan untuk bunuh diri adalah isu serius yang tidak boleh dianggap remeh. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika mengalami gejala depresi yang memburuk, penting untuk segera berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog atau psikiater, atau mengunjungi klinik kesehatan jiwa. Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) juga menyediakan layanan konsultasi kesehatan jiwa melalui situs resmi mereka, www.pdskji.org, yang menawarkan pemeriksaan mandiri untuk mengevaluasi kondisi kesehatan jiwa individu.
Tren bunuh diri di Indonesia semakin menjadi perhatian, terutama dengan meningkatnya perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm) di kalangan anak-anak yang lebih muda. Data dari layanan konsultasi kesehatan jiwa menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah dasar mulai memanfaatkan layanan ini untuk mencari bantuan.
Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, menyatakan bahwa data kasus bunuh diri yang dikumpulkan dari kepolisian masih memerlukan klarifikasi. Ia mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan angka dalam proses rekapitulasi. "Jadi data kasus bunuh diri ini kan kita ngambil dari polisi. Jadi kemarin kami coba rekap ternyata masih ada selisih. Jadi saya harus klarifikasi lagi ke kepolisian apakah angka ini benar," ujarnya.
Faktor Penyebab Meningkatnya Kasus Bunuh Diri
Meski demikian, Imran mencatat bahwa banyak kasus bunuh diri terjadi pada kelompok usia muda, sementara secara global, angka bunuh diri lebih tinggi pada lansia. Ia juga menyebutkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap masalah kesehatan mental, salah satunya adalah rasa kesepian. "Loneliness itu juga kills. Dan ini sekarang jadi kalau saya bilang wabah, karena banyak sekali orang-orang yang merasa sendirian, terasing," tuturnya.
Psikolog klinis Annelia Sari Sani menambahkan bahwa layanan kesehatan mental gratis Healing 119.id kini mulai diakses oleh anak-anak yang sangat muda. "Yang mengakses Healing 119 itu mulai dari umur 8-10 tahun," katanya. Salah satu keluhan yang paling umum adalah rasa kesepian, dengan puncak keluhan terjadi pada anak usia 12-14 tahun. "Terutama masalahnya kesepian. Biasanya saat ditanya kamu ada sama siapa? Nggak ada. Dia sendirian," ujarnya.
Perbedaan Gender dalam Kasus Bunuh Diri
Tingginya jumlah akses ke layanan tersebut juga membuat tenaga psikolog harus melakukan triase. Setiap pasien dibatasi waktu konsultasinya agar lebih banyak orang yang membutuhkan pertolongan dapat ditangani. Dalam satu shift selama tiga jam, terdapat sekitar 500-600 orang yang mengakses layanan, sementara jumlah psikolog yang bertugas hanya sekitar lima orang. Oleh karena itu, konsultasi dibatasi maksimal 30 menit, dan kasus yang tidak dianggap sebagai krisis psikologis akan dialihkan ke layanan yang lebih sesuai.
Imran juga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara kelompok yang mencari pertolongan dan mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Pengakses layanan Healing 119.id sebagian besar adalah perempuan, sekitar 70 persen, sedangkan kasus bunuh diri lebih banyak terjadi pada laki-laki. "Laki-laki tidak bercerita. Langsung bertindak," katanya. Hal ini sejalan dengan kecenderungan global, di mana laki-laki memiliki risiko kematian akibat bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Peneliti dari Universitas Kanazawa Jepang, Sandersan Onie, menyoroti tren self-harm yang semakin meningkat di kalangan anak muda, terutama perempuan. "Tren yang kita sedang lihat sebenarnya di banyak sekali negara di seluruh dunia adalah yang lakukan self-harm semakin lama semakin muda. Dan terutama kepada kaum perempuan, young girls," ujarnya. Menurutnya, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah Indonesia mengikuti tren serupa.
Imran mengidentifikasi beberapa faktor yang menjadi pemicu seseorang melakukan percobaan bunuh diri, di antaranya dukungan keluarga dan masalah dalam pertemanan, termasuk bullying. "Pertama adalah dukungan keluarga, jadi masalah support system-nya. Kemudian dari pertemanan, bullying itu juga ada. Kemudian masalah ekonomi," jelasnya. Menariknya, masalah ekonomi bukanlah faktor utama yang sering ditemukan, melainkan dukungan keluarga yang lebih berpengaruh.
Imran menekankan pentingnya peran keluarga dalam pencegahan bunuh diri, terutama di Indonesia yang memiliki karakter masyarakat komunal. Oni juga menekankan pentingnya keluarga sebagai sistem pendukung bagi anak dan remaja yang mengalami masalah kesehatan jiwa. "Kalau kita benar-benar mau mencegah bunuh diri secara serius, kita tidak bisa melupakan faktor keluarga. Terutama di negara yang komunal seperti Indonesia," katanya.