Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan agar semua anak yang berusia 6 bulan ke atas menerima vaksinasi influenza setiap tahun, mengingat adanya peningkatan kasus Influenza A. Vaksin tersebut tersedia dalam dua jenis, yaitu vaksin inaktif (trivalen atau kuadrivalen) dan vaksin hidup intranasal yang diperuntukkan bagi anak berusia 2 hingga 49 tahun yang sehat.
Vaksin influenza dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi antara 40 hingga 60 persen, serta mengurangi tingkat keparahan penyakit dan kemungkinan komplikasi. "Vaksinasi influenza perlu dilakukan setiap tahun karena virus ini terus mengalami evolusi melalui mekanisme antigenic drift dan antigenic shift. Vaksin yang diberikan tahun ini dirancang untuk menyesuaikan dengan strain virus yang diperkirakan akan beredar," ungkap Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (22/9/2026).
Rekomendasi Penanganan untuk Anak Terinfeksi
Bagi anak yang terinfeksi virus influenza, IDAI menyarankan agar mereka mendapatkan istirahat yang cukup, menjaga hidrasi yang baik, dan menggunakan obat penurun demam sesuai dengan indikasi. Untuk anak-anak yang berada dalam kelompok berisiko tinggi atau memiliki gejala yang parah, obat-obatan sesuai resep dokter dapat diberikan dengan dosis yang disesuaikan dengan usia dan berat badan, idealnya dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul.
"Kami mengingatkan bahwa penggunaan antivirus harus berdasarkan evaluasi dari dokter. Hindari memberikan obat tanpa resep, dan waspadai tanda-tanda bahaya seperti kesulitan bernapas, demam tinggi yang tidak kunjung reda, penurunan kesadaran, atau dehidrasi. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala tersebut," pesan Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Langkah Pencegahan yang Dapat Dilakukan
Selain itu, IDAI mengajak orang tua, guru, dan masyarakat untuk melakukan beberapa langkah pencegahan, antara lain:
- Melakukan vaksinasi influenza tahunan untuk anak dan anggota keluarga lainnya.
- Menerapkan protokol kesehatan secara konsisten: mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.
- Mengenali gejala influenza dan segera berkonsultasi dengan dokter jika anak menunjukkan tanda-tanda bahaya.
- Jangan memaksa anak untuk bersekolah saat sakit; lakukan isolasi hingga minimal 24 jam setelah bebas demam tanpa obat penurun panas.
- Mencegah dehidrasi akibat cuaca panas dengan banyak minum air putih.
- Memperkuat surveilans genomik dan akses RT-PCR untuk identifikasi subtipe, termasuk subklad K, guna mendukung manajemen kasus dan komposisi vaksin di masa mendatang.
"Dengan adanya kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat mengurangi dampak influenza pada anak-anak dan keluarga. Lindungi anak, lindungi bangsa," tutup Prof Anggraini.