Ekonomi

--- Wall Street Menguat Didukung Lonjakan Saham Teknologi dan Penurunan Harga Minyak ---

--- Indeks bursa Wall Street di AS mengalami kenaikan pada perdagangan Kamis, didorong oleh penurunan imbal hasil obligasi dan harga minyak yang lebih rendah. Investor berusaha untuk memulihkan kerugi...

A
Adhe Dharma
18 September 2026 22 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri
---TITLEEXCERPT--- Indeks bursa Wall Street di AS mengalami kenaikan pada perdagangan Kamis, didorong oleh penurunan imbal hasil obligasi dan harga minyak yang lebih rendah. Investor berusaha untuk memulihkan kerugian setelah kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. ---CONTENT---

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mencatatkan kenaikan pada perdagangan yang berlangsung pada hari Kamis, 17 September, berkat penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak. Pergerakan positif di bursa AS ini didorong oleh peningkatan sejumlah saham teknologi terkemuka. Para investor juga berupaya untuk mengatasi kerugian yang dialami pada sesi perdagangan sebelumnya setelah Federal Reserve mengumumkan kenaikan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Dow Jones Industrial Average meningkat sebesar 316,14 poin atau 0,61% menjadi 51.778,04. S&P 500 juga mengalami kenaikan sebesar 1,14% menjadi 7.637,76, sementara Nasdaq Composite bertambah 1,69% hingga mencapai 26.418,30. CEO The Wealth Alliance, Robert Conzo, menilai bahwa penguatan pasar pada hari Kamis mencerminkan rasa lega di kalangan investor setelah The Fed mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi. “Reaksi pasar dapat dirangkum dalam satu kata: lega. Saya pikir ada rasa lega bahwa The Fed sedang menangani masalah inflasi yang sulit turun,” ungkap Conzo.

Potensi Volatilitas di Pasar

Meski demikian, Conzo memperingatkan bahwa pasar masih berpotensi mengalami volatilitas yang tinggi, terutama yang berkaitan dengan perkembangan konflik di Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa lonjakan harga minyak yang berkepanjangan dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi. “Jika harga minyak tetap tinggi, inflasi harga akan diteruskan kepada peritel dan tertanam dalam harga yang mereka bebankan kepada konsumen,” jelasnya. Menurutnya, harga minyak yang bertahan di level tinggi dapat memperburuk masalah inflasi, sehingga semakin sulit untuk diatasi.

Sektor teknologi menjadi salah satu pendorong utama bagi penguatan Wall Street. Saham dari kelompok Magnificent Seven, seperti Nvidia dan Amazon, masing-masing mengalami kenaikan lebih dari 2%, sementara Microsoft mencatatkan penguatan sebesar 1,5%. Saham-saham lain yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), seperti Qualcomm dan Intel, juga mengalami kenaikan masing-masing sebesar 2% dan 7%.

Sentimen Positif dari Penurunan Harga Minyak

Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun kembali berada di bawah level 5%, dengan penurunan lebih dari 7 basis poin menjadi 4,93%, setelah sebelumnya sempat menembus level 5% akibat keputusan suku bunga The Fed. Penurunan harga minyak juga memberikan sentimen positif bagi pasar saham, di mana harga minyak mentah AS ditutup turun 0,51% menjadi US$ 101,91 per barel, sedangkan minyak Brent turun 0,95% menjadi US$ 104,82 per barel. Penurunan harga minyak ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan, setelah Arab Saudi dilaporkan memutuskan untuk menyediakan lebih banyak kargo minyak mentah bagi perusahaan pengilangan di Asia melalui transfer antarkapal di sekitar Pelabuhan Sohar, Oman.

Kenaikan yang terjadi di Wall Street pada hari Kamis menjadi rebound setelah pasar mengalami koreksi pada hari Rabu, menyusul keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin.

Artikel Terkait