Ekonomi

Yudha Keling Tetap Setia pada Saham GOTO Meski Menghadapi Kerugian Besar

Komika Yudha Keling mengungkapkan kesedihannya atas kondisi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang terus merosot, namun ia memilih untuk bertahan.

A
Adhe Dharma
15 October 2026 19 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Yudha Keling, seorang komika dan kreator konten keuangan, merasa prihatin dengan pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang saat ini berada dalam kondisi buruk. Ia menjelaskan bahwa GOTO sebelumnya merupakan salah satu saham favoritnya. Saat ini, Yudha mengaku masih mengalami floating loss atau terjebak dalam saham GOTO, tetapi di tengah kerugian yang besar, ia memilih untuk bersikap pasrah.

“Ya gimana? Kalau setiap hari harganya turun ya pasti sedih, saya sama seperti bapak Garibaldi “Boy” Thohir, loss-nya udah kedaleman jadi didiemin aja,” ungkap Yudha saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Rabu (14/10).

Yudha enggan mengungkapkan jumlah lembar saham yang dimilikinya. Namun, ia pernah memberikan 1.412.025 lembar saham GOTO sebagai mahar pernikahannya dengan Fadhilah Eryanda di Hotel Grand Savero, Bogor, pada Minggu (14/12/2025).

Pergerakan Saham GOTO

Pada perdagangan Rabu (14/10), saham GOTO mengalami kenaikan sebesar 3,70% menjadi Rp 28 per saham. Volume perdagangan tercatat mencapai 9,37 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp 256,67 miliar, serta kapitalisasi pasar mencapai Rp 31,94 triliun. Meskipun demikian, secara year to date (ytd), saham GOTO anjlok 56,25% dan mengalami penurunan 44% dalam sebulan terakhir.

Strategi Investasi di Tengah Kerugian

Yudha Keling berpendapat bahwa strategi yang paling tepat dalam kondisi pasar saat ini adalah menahan dana dalam bentuk tunai atau stay cash di rekening dana nasabah (RDN). Ia menekankan bahwa investor tidak selalu harus membeli saham, karena tidak melakukan apa-apa juga merupakan bagian dari strategi investasi.

Bagi investor yang sudah terjebak, Yudha menyarankan untuk mengevaluasi kembali alasan awal mereka membeli saham. Jika penurunan harga hanya disebabkan oleh sentimen pasar dan fundamental perusahaan tetap tidak berubah, investor disarankan untuk wait and see. Sebaliknya, jika harga saham jatuh dan mengubah tesis awal untuk trading, ia menyarankan untuk mempertimbangkan cut loss.

“Kalau tesisnya untuk trading, ya berarti penurunannya memang harus di cut loss gitu. Tapi kalau benarnya karena fundamentalnya dan sejauh ini fundamentalnya gak berubah, ya mungkin bisa jadi pilihan untuk wait and see atau mungkin tambah,” jelas Yudha.

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id. Nikmati pengalaman membaca yang lebih nyaman dan fitur menarik lainnya melalui aplikasi mobile Katadata.

Artikel Terkait