Ekonomi

Analisis Ekonomi: Penyebab Tekanan Nilai Tukar Rupiah Lebih Kompleks

Tekanan yang dialami rupiah tidak hanya disebabkan oleh faktor moneter, melainkan juga oleh persepsi investor terhadap kondisi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

D
Darma Yudhistira
13 May 2026 12 pembaca
Analisis Ekonomi: Penyebab Tekanan Nilai Tukar Rupiah Lebih Kompleks
Ilustrasi tekanan terhadap rupiah. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan saat ini dipandang tidak hanya disebabkan oleh faktor moneter. Para ekonom berpendapat bahwa pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh pandangan investor mengenai keadaan perekonomian Indonesia secara keseluruhan, terutama di tengah tingginya ketidakpastian di tingkat global.

Josua Pardede, ekonom dari Bank Permata, menyatakan bahwa sejak awal tahun hingga awal Mei, rupiah terus melemah, yang juga dipicu oleh keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik. “Dari awal tahun sampai dengan awal Mei ini, rupiah terus mengalami pelemahan dan ini juga dipengaruhi oleh aliran modal asing keluar,” jelas Josua pada Selasa, 13 Mei 2026.

Dampak Dinamika Pasar Global

Ia menambahkan bahwa dinamika pasar global saat ini sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi suku bunga serta risiko geopolitik, khususnya yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah. Menurutnya, kondisi ini menyebabkan fluktuasi yang signifikan dalam pergerakan pasar saham, obligasi, komoditas, dan nilai tukar. “Volatilitas ini bukan pengecualian, melainkan bagian dari lingkungan normal yang baru,” ungkapnya.

Josua juga menilai bahwa ketidakpastian di tingkat global diperkirakan akan terus berlanjut dalam jangka menengah, mengingat arah konflik geopolitik yang masih sulit diprediksi. Dalam situasi ini, Bank Indonesia dianggap telah mengambil berbagai langkah untuk menstabilkan nilai rupiah melalui berbagai instrumen moneter, termasuk SRBI dan SVBI, guna menjaga stabilitas pasar valuta asing dan menarik likuiditas dolar AS.

Persepsi Investor dan Isu Ekonomi Domestik

Di samping itu, langkah-langkah stabilisasi melalui kebijakan moneter juga dinilai cukup efektif dalam meredakan gejolak di pasar keuangan domestik. Namun, Josua menegaskan bahwa tekanan yang terjadi saat ini di pasar domestik tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor moneter. Ia menekankan bahwa ada faktor lain yang memengaruhi persepsi investor mengenai Indonesia. “Pasar keuangan domestik kita bukan semata-mata karena permasalahan moneter, tapi kita bisa melihat permasalahan dari perekonomian kita secara keseluruhan yang mungkin harus dijawab oleh pemerintah,” ujarnya.

Ia juga mencatat beberapa isu yang muncul sebelum meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk perhatian investor terhadap MSCI serta sorotan dari lembaga internasional mengenai kondisi domestik Indonesia. Oleh karena itu, Josua berpendapat bahwa tekanan terhadap rupiah perlu dianalisis secara lebih objektif dan tidak hanya dipandang dari sudut kebijakan moneter semata.

Artikel Terkait