Kesehatan

Ancaman Kesehatan Paru-paru dan Jantung bagi 3,8 Juta Lansia Akibat Karhutla

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman serius bagi jutaan lansia di Indonesia, dengan dampak kesehatan yang signifikan.

J
Jarot Kusna
02 September 2026 3 pembaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/Zhanna Danilova
Foto: Getty Images/iStockphoto/Zhanna Danilova

Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap menjadi ancaman besar bagi jutaan lansia yang tinggal di daerah terdampak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa sekitar 3,8 juta lansia berada di delapan provinsi yang terkena dampak karhutla. Paparan asap tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga memperburuk kondisi kesehatan lansia yang sudah memiliki penyakit penyerta.

Lansia Rentan Terhadap Kualitas Udara Buruk

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyatakan bahwa lansia termasuk kelompok yang paling rentan ketika kualitas udara menurun. "Lansia itu memang kelompok yang rentan karena biasanya sudah mempunyai penyakit penyerta atau komorbid," ungkap Imran. Asap yang dihasilkan dari karhutla mengandung partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 yang dapat masuk ke dalam saluran pernapasan. Bagi lansia yang memiliki riwayat asma, bronkitis, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kondisi ini dapat memicu kekambuhan atau memperburuk gejala yang ada.

Dampak Kesehatan yang Meluas

Risiko kesehatan akibat paparan polusi udara tidak hanya terbatas pada masalah paru-paru. Hal ini juga dapat meningkatkan beban pada sistem kardiovaskular, terutama bagi lansia yang menderita hipertensi atau penyakit jantung. Laporan dari Kemenkes menunjukkan bahwa lebih dari 50 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat hingga akhir Agustus 2026, dengan hampir 40 ribu kasus terjadi pada individu di atas usia lima tahun. Kalimantan Barat melaporkan lebih dari 16 ribu kasus, sementara Kalimantan Tengah mencatat lebih dari 6 ribu kasus.

Upaya Kemenkes dalam Menangani Dampak Karhutla

Dalam menghadapi situasi ini, Kemenkes telah menyiapkan layanan kesehatan di puskesmas, rumah sakit rujukan, hingga pos pengungsian. Fasilitas kesehatan tersebut dilengkapi dengan kebutuhan seperti oksigen konsentrator, tabung oksigen, dan obat-obatan. Selain itu, distribusi masker juga dilakukan ke berbagai wilayah yang terdampak, dengan lebih dari 267 ribu masker dikirim ke Kalimantan Tengah dan lebih dari 470 ribu masker ke Jambi. Kemenkes juga melakukan pemantauan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Situasi Khusus serta menyiagakan Public Safety Center (PSC) 119 dan tenaga kesehatan cadangan untuk menghadapi keadaan darurat.

Di tingkat keluarga, sangat disarankan agar lansia mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Jika harus keluar, penggunaan masker harus diperhatikan. Selain itu, asupan cairan dan konsumsi obat rutin juga harus tetap terjaga. Imran mengingatkan agar keluarga atau pengasuh dapat mengenali tanda-tanda bahaya, seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, hingga kebingungan yang muncul secara tiba-tiba. "Jangan sampai karena bencana, pengobatan penyakit kronis mereka terputus," tegasnya.

Artikel Terkait