Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau mengakibatkan abu vulkanik terlihat di berbagai daerah, termasuk Jakarta dan Serang, Banten. Warga mulai merasakan efek dari paparan abu, seperti mata perih, serta keluhan pilek dan batuk kering.
Devandra Abi Prasetyo, seorang warga Jakarta, mengungkapkan bahwa ia merasakan gangguan akibat abu vulkanik ketika berada di luar ruangan. Saat mengikuti lomba lari di Jakarta Selatan, ia merasakan napasnya sedikit lebih berat dan matanya terasa perih. "Kalau urusan sesak, aku malah biasa aja kayak yang nggak mengganggu banget, cuma ya memang terasa kayak lebih berat. Terus lebih perih di mata tadi pas lari," jelasnya pada Minggu (6/9/2026).
Upaya Mengurangi Ketidaknyamanan
Untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang dirasakannya, Devandra mengaku sering mencuci mata dan wajah di setiap titik air yang tersedia. Ia juga menyatakan bahwa paparan abu terasa lebih parah sekitar pukul 08.00 WIB. "Menurutku, justru yang abunya terasa agak parah di sekitaran jam 8 ke atas. Karena aku kan lari dari subuh, masih oke kurasa," tuturnya.
Ia juga mencatat bahwa abu vulkanik terlihat cukup tebal di sekitar Gelora Bung Karno (GBK), bahkan menempel pada kendaraan yang terparkir, termasuk pada mobil yang terlindung oleh pepohonan. "Tapi memang di sekitaran GBK, abunya termasuk tebal sih. Kelihatan nempel-nempel di mobil parkir, bahkan yang terbilang terlindung pohon," tambahnya.
Kondisi Warga di Serang dan Pandeglang
Sementara itu, Fitri Noviyanti, seorang warga Kasemen di Serang, melaporkan bahwa kondisi di sekitar rumahnya relatif aman. Ia menyebutkan bahwa dampak abu vulkanik tidak terlalu parah karena tempat tinggalnya cukup jauh dari pesisir. "Alhamdulillah kondisi rumah di Serang masih aman karena agak jauh dari pesisir, jadi nggak terlalu parah dampaknya. Paling ada sedikit abu yang nempel," ujarnya.
Namun, Fitri mengakui bahwa ia merasakan gatal di mata seperti kelilipan saat berada di luar tanpa kacamata. "Sejauh ini efeknya gatal ke mata kayak kelilipan aja sih kalau keluar nggak pakai kacamata. Jadi kalau mau keluar harus pakai kacamata," katanya.
Di sisi lain, Ratu Aisyah, seorang warga Labuan di Pandeglang, mengungkapkan bahwa abu vulkanik sudah terlihat sejak malam sebelumnya. Selain abu yang masuk ke rumah, ia juga mengalami pilek dan batuk kering. "Abunya dari semalam sudah ada. Pilek-pilek, batuk kering sih," ungkap Ratu.
Ratu menjelaskan bahwa meskipun pintu dan jendela sudah ditutup, abu tetap dapat masuk ke dalam rumah melalui ventilasi. "Udah tutup jendela sama pintu juga kan tetap masuk ya itu debu. Karena masuk ke ventilasi jendela," tuturnya. Ia juga mencatat bahwa cuaca di wilayahnya terlihat lebih mendung meskipun matahari bersinar, yang ia duga berkaitan dengan keberadaan asap dan abu vulkanik.
Selain dampak abu vulkanik, Ratu menyatakan bahwa sebagian masyarakat di daerahnya sudah mengungsi sejak hari Jumat. Getaran yang kuat membuat warga merasa takut dan kembali teringat pada pengalaman tsunami tahun 2018. "Masyarakat di sini sebagian sudah mengungsikan diri dari Jumat. Getaran yang kencang bikin warga ketakutan, trauma tsunami 2018," katanya.