Ekonomi

--- Danantara Lakukan Penutupan 364 Perusahaan, Rencanakan Likuidasi 700 Perusahaan Hingga 2026 ---

--- Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah merampingkan 364 perusahaan hingga bulan Oktober ini dan berencana menutup 700 perusahaan lainnya sebelum akhir tahun 2026. ---

I
Indriani Atmaja
26 October 2026 3 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri
---TITLEEXCERPT--- Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah merampingkan 364 perusahaan hingga bulan Oktober ini dan berencana menutup 700 perusahaan lainnya sebelum akhir tahun 2026. ---CONTENT---

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mengumumkan bahwa mereka telah melakukan perampingan terhadap 364 perusahaan hingga bulan Oktober tahun ini. Langkah ini merupakan bagian dari upaya konsolidasi yang lebih besar untuk menggabungkan 1.074 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak perusahaannya menjadi sekitar 200 entitas.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa mereka berencana untuk menutup sekitar 700 perusahaan lainnya hingga akhir tahun 2026. Dony menjelaskan bahwa perampingan ini dilakukan melalui empat metode, yaitu restrukturisasi, penggabungan usaha atau merger, divestasi, dan likuidasi atau penutupan. Ia menekankan bahwa banyak BUMN saat ini tidak lagi sejalan dengan bisnis inti mereka.

Proses Perbaikan dan Transformasi

"Kita hanya nanti akan memiliki less than 200 companies under Danantara Indonesia," ujar Dony dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum yang berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, pada hari Senin, 26 Oktober. Ia menjelaskan bahwa proses perbaikan dilakukan secara menyeluruh untuk mengatasi berbagai masalah liabilitas antarperusahaan. Dari total 1.074 perusahaan, lebih dari 500 kasus utang-piutang internal BUMN telah teridentifikasi.

Danantara, sebagai sovereign wealth fund yang mengelola aset BUMN, telah menyusun peta jalan transformasi selama lima tahun. Pada tahun pertama, fokus utama adalah konsolidasi, restrukturisasi, dan perbaikan tata kelola perusahaan. Di tahun kedua, Danantara akan mengembangkan sumber daya manusia, mendorong inovasi melalui teknologi, dan menciptakan nilai. Target akhir adalah menjadikan Danantara sebagai perusahaan kelas dunia pada tahun 2030.

Langkah-Langkah Restrukturisasi

Dalam proses restrukturisasi, Danantara menerapkan dua langkah utama. Pertama, mereka menggunakan tolok ukur global untuk setiap sektor industri BUMN, menyesuaikan praktik dengan standar internasional yang terbaik, mulai dari sektor telekomunikasi hingga manufaktur. Kedua, mereka mengubah model bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Contoh perubahan model bisnis dapat dilihat pada industri pupuk BUMN. Sebelumnya, skema yang digunakan adalah cost-plus, di mana biaya produksi ditambah margin 7%, yang dinilai tidak efisien dan menyebabkan pemborosan. Model ini kini telah diubah menjadi berbasis harga pasar. "Kami meningkatkan profit kita lebih dari 200% dalam 6 bulan, setelah kami mengubah bisnis model," jelas Dony.

Selain menutup unit usaha, Danantara juga melakukan pembersihan laporan keuangan dan memperbaiki pencatatan yang tidak akurat dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk menyelesaikan cadangan kerugian serta piutang bermasalah di sejumlah BUMN.

Artikel Terkait