Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa terdapat delapan perusahaan yang sedang dalam tahap penawaran umum perdana saham (IPO) hingga tanggal 26 Juni 2026. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai 15 perusahaan, kemudian berkurang menjadi 12 perusahaan. "Hingga 26 Juni 2026 terdapat delapan perusahaan dalam pipeline IPO yang sedang menjalani proses menuju pencatatan saham di BEI," ungkap Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna.
Rincian Perusahaan dalam Pipeline
Dari total delapan perusahaan yang ada dalam pipeline, enam di antaranya merupakan perusahaan dengan aset besar, yaitu memiliki total aset lebih dari Rp250 miliar. Satu perusahaan lainnya memiliki aset skala menengah dengan nilai antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, sedangkan satu perusahaan lainnya tergolong aset skala kecil dengan nilai di bawah Rp50 miliar.
Jika dilihat dari sektor, perusahaan di bidang kesehatan atau healthcare mendominasi dengan empat perusahaan, yang mencakup sekitar 50 persen dari total pipeline. Dua perusahaan berasal dari sektor consumer non-cyclicals, yang menyumbang sekitar 25 persen, satu perusahaan dari sektor consumer cyclicals, dan satu perusahaan dari sektor infrastruktur, masing-masing sebesar 12,5 persen.
Aktivitas Pencatatan dan Penghimpunan Dana
Sejak awal tahun ini, baru satu perusahaan yang resmi mencatatkan saham di BEI, yaitu PT BSA Logistics Indonesia Tbk dengan kode saham WBSA pada 10 April 2026. Dari pencatatan tersebut, perusahaan ini berhasil menghimpun dana sekitar Rp0,30 triliun. Berdasarkan daftar e-IPO, terdapat enam perusahaan yang sedang dalam proses penawaran umum perdana saham, antara lain PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) dengan kisaran harga Rp135–Rp170 per saham, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) Rp400–Rp500 per saham, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) Rp1.200–Rp1.400 per saham, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) Rp446–Rp515 per saham, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) Rp100–Rp120 per saham, serta PT Niramas Utama Tbk (JELI) Rp900–Rp1.120 per saham.
Selain itu, pengumpulan dana melalui instrumen efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) juga masih berlangsung. Hingga 26 Juni 2026, BEI mencatat telah menerbitkan 71 emisi dari 43 penerbit, dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp76,09 triliun. Di sisi lain, terdapat 48 emisi dari 33 penerbit EBUS yang masih dalam pipeline. Sektor keuangan menjadi penyumbang terbesar dengan 12 perusahaan, diikuti oleh sektor infrastruktur dengan enam perusahaan, serta sektor bahan dasar dan energi masing-masing lima perusahaan. Terdapat juga tiga perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, satu perusahaan dari sektor kesehatan, properti dan real estat, serta teknologi. Namun, belum ada perusahaan dari sektor consumer cyclicals, industrials, maupun transportasi dan logistik yang masuk dalam pipeline EBUS.
Untuk aksi korporasi rights issue, hingga 26 Juni 2026, BEI mencatat ada empat perusahaan yang telah menerbitkan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun. BEI juga mencatat masih terdapat satu perusahaan dalam pipeline rights issue yang berasal dari sektor properti dan real estat, yang saat ini sedang menjalani proses menuju pelaksanaan aksi korporasi di pasar modal.