Nasional

Di Balik Narasi “Reformasi Jilid 2”: Publik Mulai Pertanyakan Kejelasan Agenda dan Tujuan Gerakan

JAKARTA – Narasi mengenai kemungkinan munculnya “Reformasi Jilid 2” kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah aksi sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI Jawa Tengah memberikan teng...

A
Agus Wigati
10 June 2026 2 pembaca
Di Balik Narasi “Reformasi Jilid 2”: Publik Mulai Pertanyakan Kejelasan Agenda dan Tujuan Gerakan
Sumber gambar: kabarnetizenterkini.com
JAKARTA – Narasi mengenai kemungkinan munculnya “Reformasi Jilid 2” kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah aksi sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI Jawa Tengah memberikan tenggat waktu 18 hari kepada pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan menguatkan nilai tukar rupiah. Jika tuntutan tersebut tidak terpenuhi, mereka menyatakan akan mempertimbangkan aksi lanjutan dengan tajuk “Reformasi Jilid 2”.

Aksi yang digelar di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah itu mendapat perhatian luas publik. Selain tuntutan terkait pelemahan rupiah, penggunaan istilah “Reformasi Jilid 2” memicu berbagai respons, mulai dari dukungan hingga kritik terhadap arah gerakan tersebut.

Salah satu kritik yang mengemuka di media sosial menyoroti belum jelasnya peta jalan atau proposal perubahan yang ditawarkan oleh kelompok penggerak aksi. Dalam unggahan yang ramai diperbincangkan, seorang pengguna media sosial mempertanyakan apakah gerakan tersebut memiliki agenda yang konkret atau hanya berfokus pada kritik terhadap kekuasaan tanpa menawarkan solusi yang jelas.

Menurut pandangan tersebut, gerakan yang menyerukan desentralisasi kekuasaan seharusnya juga menjelaskan mekanisme transisi, distribusi kewenangan, serta model kepemimpinan yang akan menggantikan sistem yang dikritik. Tanpa penjelasan tersebut, publik dinilai berpotensi kesulitan memahami arah akhir dari tuntutan yang diajukan.

Perdebatan juga mengarah pada pelajaran sejarah Reformasi 1998. Sejumlah pengamat dan warganet menilai bahwa perubahan politik tidak selalu otomatis menghasilkan tata kelola yang lebih baik apabila tidak dibarengi desain kelembagaan yang kuat.

Pandangan ini berangkat dari pengalaman pasca-Reformasi 1998, ketika desentralisasi kewenangan berhasil memperluas demokrasi daerah, namun pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan baru seperti praktik korupsi yang menyebar ke berbagai level pemerintahan.

Karena itu, sebagian kalangan menilai bahwa setiap gerakan perubahan besar perlu memiliki agenda yang terukur, target yang jelas, serta alternatif kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Dalam demokrasi, demonstrasi dan kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari hak konstitusional warga negara. Namun, di tengah situasi ekonomi yang kompleks, masyarakat juga menuntut adanya argumentasi yang berbasis data dan solusi yang realistis.

Beberapa pihak mempertanyakan apakah istilah-istilah seperti “anti-populis”, “desentralisasi kekuasaan”, atau “Reformasi Jilid 2” telah diterjemahkan menjadi program yang konkret dan mudah dipahami masyarakat luas. Pertanyaan mengenai arah kebijakan ekonomi, tata kelola sumber daya alam, investasi, hingga keberlanjutan pembangunan nasional dinilai masih membutuhkan penjelasan lebih rinci.

Munculnya perdebatan ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi hanya menilai sebuah gerakan dari besarnya massa atau kerasnya slogan, tetapi juga dari kualitas gagasan yang ditawarkan.

Di era digital, legitimasi sebuah gerakan tidak hanya dibangun melalui aksi turun ke jalan, tetapi juga melalui kemampuan menjawab pertanyaan publik secara transparan, rasional, dan berbasis solusi.

Karena itu, jika narasi “Reformasi Jilid 2” ingin memperoleh dukungan yang lebih luas, banyak pihak menilai bahwa gerakan tersebut perlu menjelaskan secara rinci apa yang ingin diubah, bagaimana mekanisme perubahan dilakukan, serta seperti apa Indonesia yang ingin dibangun setelah perubahan tersebut terjadi. Dengan demikian, ruang publik tidak hanya dipenuhi oleh slogan politik, tetapi juga oleh diskusi yang substantif mengenai masa depan bangsa.

Artikel Terkait