PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), yang juga dikenal sebagai Harita Nickel, kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diadakan pada Selasa, 30 Juni 2026, perusahaan ini menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp42,64 per saham, dengan total nilai mencapai sekitar Rp2,69 triliun untuk tahun buku 2025. Keputusan ini menegaskan posisi Harita Nickel sebagai emiten yang rutin membagikan dividen sejak terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada April 2023.
Peningkatan Dividen Setiap Tahun
Melihat ke belakang, tren pembagian dividen perusahaan ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Untuk tahun buku 2022, NCKL memberikan dividen sebesar Rp22,19 per saham yang dibayarkan pada 3 Agustus 2023. Selanjutnya, dividen meningkat menjadi Rp26,72 per saham untuk tahun buku 2023, yang dijadwalkan dibayarkan pada 31 Juli 2024. Pada tahun buku 2024, dividen kembali naik menjadi Rp30,36 per saham dan akan dibayarkan pada 18 Juli 2025. Dengan persetujuan RUPST, dividen untuk tahun buku 2025 kini meningkat menjadi Rp42,64 per saham.
Konsistensi dalam pembagian dividen ini mencerminkan bahwa manajemen perusahaan mempertahankan kebijakan Dividend Payout Ratio (DPR) sebesar 30 persen dari laba bersih. Kenaikan dividen tahun ini juga cukup mencolok, meningkat dari sebelumnya yang sebesar Rp30,36 per saham menjadi Rp42,64 per saham. Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan operasional perusahaan di tengah dinamika industri nikel global.
Simulasi Pembayaran Dividen
Dengan harga saham NCKL yang berada di kisaran Rp795 setelah RUPST, dividen ini memberikan dividend yield sekitar 5,3 persen, yang tergolong kompetitif bagi perusahaan tambang yang masih menjalankan berbagai proyek ekspansi dan hilirisasi. Bagi investor ritel, perhitungan dividen ini cukup sederhana. Satu lot saham terdiri dari 100 lembar saham, sehingga dengan dividen Rp42,64 per saham, pemegang 1 lot akan menerima dividen kotor sekitar Rp4.264. Kepemilikan 10 lot akan menghasilkan dividen sekitar Rp42.640, sedangkan 100 lot akan memperoleh sekitar Rp426.400. Investor yang memiliki 1.000 lot akan menerima dividen sekitar Rp4,264 juta sebelum memperhitungkan pajak.
Menurut regulasi yang berlaku, dividen bagi investor perorangan domestik dapat dikenakan tarif 0 persen jika diinvestasikan kembali di Indonesia sesuai ketentuan dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Namun, jika tidak memenuhi ketentuan tersebut, dividen akan dikenakan PPh Final sebesar 10 persen.
Kinerja Keuangan NCKL
Kebijakan dividen ini didukung oleh kinerja operasional yang solid. Sepanjang tahun buku 2025, Harita Nickel mencatat pendapatan sebesar Rp29,63 triliun. Hingga September 2025, laba bersih mencapai Rp6,44 triliun, meningkat 33,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini berlanjut pada kuartal pertama 2026, di mana perusahaan mencatat pendapatan Rp6,81 triliun dan laba bersih melonjak menjadi Rp2,71 triliun dari Rp1,66 triliun pada periode yang sama tahun lalu, didorong oleh kontribusi laba dari entitas asosiasi, terutama dari fasilitas HPAL dan produksi nikel sulfat.
Namun, pergerakan harga saham masih dalam fase koreksi. Hingga perdagangan 30 Juni 2026, saham NCKL berada di level Rp795, turun sekitar 10,17 persen dibandingkan posisi awal Juni. Sepanjang bulan ini, harga saham sempat menyentuh kisaran Rp965 sebelum mengalami koreksi. Pada perdagangan terakhir, saham dibuka di Rp805, bergerak di rentang Rp775 hingga Rp810 dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp50,79 triliun. Jika dibandingkan dengan posisi tertinggi 52 minggu di Rp1.595, harga saat ini masih jauh di bawah puncaknya. Di sisi lain, valuasi perusahaan juga relatif rendah dengan Price to Earnings Ratio (PER) sebesar 5,63 kali.
Dari perspektif teknikal, harga saham saat ini berada di bawah rata-rata pergerakan jangka panjang atau Moving Average 200 hari (MA200) yang berada di kisaran Rp870. Posisi ini menunjukkan bahwa harga masih berada di bawah rata-rata historis jangka panjang, sementara area Rp775 menjadi salah satu level yang dekat dengan kisaran pergerakan harga saat ini. Salah satu perhatian investor selanjutnya adalah periode cum dividen dan ex-dividen. Dalam mekanisme pasar modal, harga saham secara teoritis akan disesuaikan sebesar nilai dividen pada hari ex-date. Dengan dividen Rp42,64 per saham, penyesuaian harga merupakan bagian dari mekanisme perdagangan yang berlaku di Bursa Efek Indonesia dan bukan mencerminkan penurunan fundamental perusahaan.
Rekomendasi untuk Investor
Bagi investor yang membeli saham hanya untuk mengejar dividen dalam jangka pendek, penyesuaian harga tersebut perlu diperhitungkan. Sebaliknya, bagi investor yang berorientasi jangka panjang, perubahan harga akibat ex-dividen lebih merupakan konsekuensi teknis pasar karena nilai kas perusahaan berkurang sebesar dividen yang dibagikan. Selain itu, program buyback senilai Rp1 triliun menjadi salah satu aksi korporasi yang direncanakan setelah RUPST, yang akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku dan menjadi bagian dari kebijakan perusahaan setelah pembagian dividen.
Indikator fundamental juga menunjukkan posisi keuangan yang kuat. Ekuitas perusahaan telah meningkat menjadi sekitar Rp50,02 triliun, sementara kontribusi bisnis hilirisasi melalui fasilitas HPAL terus bertambah terhadap laba perusahaan. Dari sisi valuasi, konsensus analis hingga Juni 2026 menempatkan target harga rata-rata NCKL di kisaran Rp1.609 per saham, dengan rentang rekomendasi mulai dari sekitar Rp1.200 sebagai target terendah hingga Rp1.900–Rp2.100 sebagai target tertinggi. Salah satu pendekatan valuasi menggunakan metode Price to Earnings (P/E) juga menghasilkan estimasi nilai sekitar Rp1.633 per saham, dengan menggunakan EPS tahunan sebesar Rp171,92 dan asumsi P/E industri sekitar 9,5 kali.