Kesehatan

Gejala Pneumonia pada Lansia yang Sering Salah Diartikan

Perubahan perilaku yang terlihat pada lansia sering dianggap sebagai tanda penuaan, padahal bisa jadi merupakan gejala pneumonia yang serius. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kondisi yang le...

J
Jaya Abdi
29 September 2026 21 pembaca
Media Roundtable Pneumonia Pneumokokus (Foto: Aura/detikHealth)
Media Roundtable Pneumonia Pneumokokus (Foto: Aura/detikHealth)

Jakarta - Ketika anggota keluarga yang berusia lanjut menunjukkan tanda-tanda kebingungan, sering kali dianggap sebagai hal yang wajar akibat faktor usia. Namun, perubahan mendadak dalam perilaku dan kesadaran pada lansia bisa jadi merupakan indikasi adanya infeksi paru-paru yang serius, seperti pneumonia. Berbeda dengan orang yang lebih muda, gejala pneumonia pada lansia sering kali tidak terlihat jelas dan dapat memengaruhi sistem saraf akibat rendahnya kadar oksigen dalam darah.

Perubahan Perilaku dan Usaha Bernapas

Dalam sebuah diskusi panel tentang kesehatan paru, dr. Joyce, seorang Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik Infeksi, menjelaskan bahwa gejala infeksi paru pada lansia sering kali tidak terdeteksi karena tidak selalu diawali dengan batuk. Ketika paru-paru lansia terinfeksi dan kadar oksigen menurun, perubahan yang terjadi bisa berupa perubahan dalam perilaku verbal, kognisi, hingga pola bernapas yang membutuhkan usaha lebih.

"Kalau pada lansia, kalau dia tidak perbaikan 3-4 hari apalagi ada gejala misalnya selain demam dia lebih lesu lebih banyak tidur. Kita perhatikan 15 menit sampai 20 menit diajak bicara tuh napasnya kayak agak ngos-ngosan," ungkap dr. Joyce dalam acara Media Roundtable Pneumonia Pneumokokus di Jakarta. "Kalau sudah semakin perburukan saturasinya, mereka (lansia) tuh bisa halusinasi. Bisa kayak ngantuk atau misalnya kayak bengong ya. Istilahnya lambat atau kalau ngomongnya gak nyambung, berarti itu harus segera dibawa ke rumah sakit," tambahnya.

Perbedaan Gejala pada Lansia

Penyebab utama dari munculnya gejala yang tidak biasa ini adalah perubahan fisik dan adanya penyakit penyerta (komorbid) yang sering dialami oleh lansia. Seiring bertambahnya usia, fungsi otot pernapasan dan silia yang berfungsi menyaring saluran napas mengalami penurunan, sehingga kemampuan untuk mengeluarkan dahak berkurang.

"Nah, problem-nya para lansia itu, sudah terjadi perubahan struktur. Karena apa? Satu, memang mereka rata-rata punya komorbid, ya," jelas dr. Joyce. Ketika bakteri atau mikroba masuk ke saluran napas bawah pada lansia yang memiliki komorbid, seperti diabetes atau hipertensi, peradangan dapat terjadi dengan cepat. Penumpukan cairan di alveoli menghambat pertukaran oksigen, yang akhirnya membuat lansia menjadi lemas dan mengantuk, serta mengandalkan usaha bernapas yang lebih berat.

Pencegahan untuk Keluarga dan Pengasuh

Mengingat gejala pneumonia pada orang tua sering kali tersembunyi di balik penurunan kondisi mental, keluarga dan pengasuh disarankan untuk tidak menunda pemeriksaan medis jika ada perubahan dalam respons lansia. Memantau kadar oksigen secara rutin di rumah, memperhatikan pola napas saat berbicara, serta membawa lansia ke fasilitas kesehatan saat mereka menunjukkan kelelahan yang luar biasa adalah langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Artikel Terkait