Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar 2,73 persen atau 163 poin, berakhir di level 5.835 pada sesi pertama perdagangan yang berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2026. Hingga pertengahan sesi, total volume perdagangan di seluruh pasar mencapai 117,02 juta lot saham, dengan nilai transaksi yang mencapai Rp 6,39 triliun dan frekuensi perdagangan yang sangat aktif, mencapai 933,35 ribu kali.
Kondisi IHSG yang terpuruk ini menyebabkan semua sektor mengalami koreksi, tanpa ada satu pun yang mampu bertahan di zona positif. Data yang tercatat menunjukkan bahwa sektor Cyclical (Konsumen Primer) mengalami penurunan terdalam sebesar -3,20 persen. Sektor Energy (Energi) juga tidak luput dari dampak negatif, dengan penurunan mencapai -3,23 persen. Sektor Finance (Keuangan), yang biasanya menjadi pilar utama indeks, kali ini harus menerima kenyataan dengan penurunan sebesar -1,17 persen.
Kondisi Sektor yang Memprihatinkan
Sektor kesehatan, yang diwakili oleh saham-saham di sektor Health, juga merasakan dampak negatif dengan penurunan sebesar -1,65 persen. Sektor Industrial (Industri) mengalami tekanan yang lebih besar, ambruk hingga -5,31 persen. Sektor Non-Cyclical (Konsumen Non-Primer) mengikuti dengan penurunan sebesar -1,72 persen. Sektor Infrastructure (Infrastruktur) tidak ketinggalan, anjlok sebesar -4,04 persen. Saham-saham di sektor Transportasi mengalami koreksi sebesar -3,20 persen, sementara sektor Property (Properti) merosot hingga -2,26 persen.
Selain itu, sektor yang berfokus pada teknologi dan industri manufaktur dasar juga terkena dampak. Sektor Technology (Teknologi) mengalami penurunan sebesar -2,63 persen, sedangkan sektor Basic-Ind (Industri Dasar) mencatatkan penurunan paling dalam dengan -5,36 persen.
Penyebab Penurunan IHSG
BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan bahwa pasar kembali dibayangi oleh meningkatnya risiko geopolitik, terutama setelah adanya laporan mengenai serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz. "Yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global dan memicu kenaikan harga energi," tulis BRI Danareksa. Selain itu, sentimen negatif juga datang dari Amerika Serikat, di mana Core PCE Mei tercatat naik 0,3 persen MoM dan 3,4 persen YoY, yang memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih lama.
Di sisi lain, terdapat sedikit optimisme dari sektor AI setelah laporan keuangan yang positif dari Micron. Namun, di dalam negeri, rupiah kembali melemah mendekati Rp18.000/USD, mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat dan berpotensi membatasi aliran dana asing ke pasar saham domestik. "Investor juga mulai mencermati parade IPO pada awal Juli, yang berpotensi menyerap sebagian likuiditas pasar dalam jangka pendek," tulis BRI Danareksa.