Ekonomi

Kondisi Bitcoin Memanas, Whale Terjebak di Zona Rugi

Bitcoin mengalami penurunan signifikan setelah mencapai level tinggi, kini berada di sekitar USD79.500. Pasar menghadapi tekanan jual yang besar, dengan banyak investor mulai merealisasikan keuntungan...

J
Jarot Kusna
09 May 2026 11 pembaca
Kondisi Bitcoin Memanas, Whale Terjebak di Zona Rugi
Bitcoin turun sekitar 2,28 persen dalam 24 jam terakhir. (Foto: Unsplash)

Kondisi Bitcoin saat ini menunjukkan penurunan yang cukup tajam. Setelah sempat mencapai lebih dari USD80.000 di awal pekan, aset kripto terbesar ini kini kembali jatuh ke level USD79.500. Pasar menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan yang meningkat.

Penurunan ini bukanlah sekadar koreksi biasa. Pasar saat ini sedang menghadapi aksi ambil untung yang besar, keluarnya ratusan ribu wallet, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, posisi whale baru yang mulai terjebak dalam kerugian juga turut mempengaruhi situasi ini.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap, pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, Bitcoin tercatat berada di kisaran USD79.550, mengalami penurunan sekitar 2,28 persen dalam 24 jam terakhir. Selama perdagangan, BTC sempat menyentuh level terendah di sekitar USD79.637 sebelum akhirnya stabil di sekitar USD79.500.

Gejolak Geopolitik yang Mempengaruhi Pasar

Gejolak di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi pasar. Penolakan Iran terhadap proposal perdamaian dari Amerika Serikat membuat investor global kembali mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko, termasuk kripto.

Menurut analis dari Tokocrypto, koreksi harga Bitcoin ini disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran di pasar setelah negosiasi menjadi buntu. Hal ini mendorong investor untuk sementara waktu menjauh dari instrumen yang memiliki volatilitas tinggi.

Exodus Wallet yang Signifikan

Tekanan terhadap Bitcoin sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum situasi geopolitik ini. Data on-chain dari Santiment mencatat bahwa sekitar 245 ribu wallet Bitcoin telah keluar dalam waktu lima hari. Ini merupakan laju eksodus wallet tercepat dalam hampir dua tahun terakhir.

Fenomena ini umumnya terjadi ketika investor ritel mulai merealisasikan keuntungan. Ketika wallet kecil mulai keluar dari pasar, kepemilikan Bitcoin cenderung semakin terkonsentrasi pada investor yang memiliki keyakinan jangka panjang yang lebih kuat.

Data menunjukkan pola ini mirip dengan fase yang terjadi pada Juni-Juli 2024, ketika lebih dari 964 ribu wallet keluar dalam lima pekan. Menariknya, periode tersebut justru menjadi awal dari reli besar Bitcoin selanjutnya.

Artinya, saat ini pasar berada dalam fase yang cukup unik. Di satu sisi, tekanan jual meningkat karena investor mulai mengambil untung. Namun di sisi lain, distribusi kepemilikan mulai beralih ke holder jangka panjang yang cenderung tidak mudah melepaskan aset mereka.

Sinyal pengambilan keuntungan juga terlihat dari data CryptoQuant. Kepala riset CryptoQuant mencatat bahwa holder Bitcoin telah merealisasikan keuntungan harian sekitar 14.600 BTC pada 4 Mei 2026, angka tertinggi sejak Desember 2025.

Indikator Short-Term Holder Spent Output Profit Ratio (STH-SOPR) juga terus berada di atas level 1 sejak pertengahan April, menunjukkan bahwa investor jangka pendek masih aktif menjual Bitcoin dalam kondisi menguntungkan.

Secara bulanan, holder Bitcoin kini mencatat realisasi laba bersih sekitar 20 ribu BTC dalam basis rolling 30 hari, yang merupakan pembalikan signifikan setelah pasar mengalami kerugian bersih hingga 398 ribu BTC pada Februari-Maret lalu.

Namun, CryptoQuant belum melihat fase bullish yang besar dimulai. Menurut analis, angka profit saat ini masih jauh di bawah area historis 130 ribu hingga 200 ribu BTC yang biasanya menandakan transisi penuh menuju bull market baru. Oleh karena itu, reli yang terjadi pada April-Mei ini masih dianggap sebagai bear market rally.

Whale Terjebak dalam Kerugian

Tekanan tambahan datang dari posisi whale baru yang mulai berada di zona rugi. Analis menyebut level USD80.300 sebagai titik biaya rata-rata pembelian wallet yang masuk dalam 155 hari terakhir. Dengan harga Bitcoin yang kini berada di bawah level tersebut, banyak holder besar baru mulai terjebak dalam kerugian.

Kondisi ini berpotensi berbahaya karena dapat memicu aksi jual tambahan jika investor memilih untuk keluar demi menghindari kerugian yang lebih dalam. Analis melihat level USD80.300 sebagai area yang sangat penting. Jika Bitcoin mampu ditutup stabil di atas level ini, tekanan jual berpotensi mereda.

Namun, jika BTC gagal bertahan dan kembali melemah, pasar bisa menghadapi koreksi lebih dalam menuju area support berikutnya di USD77.423, dengan support kuat berikutnya berada di USD74.084, USD71.385, hingga USD68.686.

Dari sisi teknis, struktur pergerakan Bitcoin juga menunjukkan tanda-tanda yang belum sepenuhnya sehat. Dalam periode 5 Januari hingga 6 Mei, harga BTC terus membentuk pola lower high, sementara indikator RSI justru menciptakan higher high. Divergensi ini menunjukkan bahwa momentum penguatan belum sepenuhnya solid dan tren turun jangka menengah masih berlanjut.

Meski demikian, peluang rebound tetap ada. Resistance terdekat berada di area USD82.820, yang sebelumnya menjadi titik penolakan kuat pasar. Jika Bitcoin mampu menembus dan ditutup harian di atas area tersebut, pola bearish saat ini bisa terinvalidasi dan membuka ruang untuk reli yang lebih tinggi.

Saat ini, pasar kripto berada dalam fase yang sensitif. Investor dihadapkan pada kombinasi antara ketakutan geopolitik, aksi ambil untung, dan tantangan besar dalam mempertahankan level psikologis USD80.000. Seperti yang sering terjadi di pasar kripto, kondisi ini biasanya menjadi penentu apakah Bitcoin hanya beristirahat sejenak sebelum mengalami kenaikan kembali, atau justru memasuki fase tekanan yang lebih panjang.

Artikel Terkait