Wabah hantavirus yang mematikan di kapal pesiar MV Hondius telah menjadi sorotan di berbagai negara. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana virus ini dapat menginfeksi penumpang, hingga akhirnya terungkap sosok yang diduga sebagai 'pasien nol', yaitu Leo Schilperoord, seorang pria berusia 70 tahun dari Haulerwijk, Belanda, yang jatuh sakit saat berlayar di Atlantik Selatan pada bulan April 2026.
Leo dan istrinya, Mirjam Schilperoord, memulai perjalanan mereka dengan menaiki kapal tersebut pada 1 April 2026 setelah berbulan-bulan menjelajahi beberapa negara di Amerika Selatan, termasuk Argentina, Chile, dan Uruguay. Kasus Leo kini menjadi fokus penyelidikan oleh otoritas kesehatan global, yang sedang melacak penyebaran virus Andes hantavirus, jenis langka yang dapat menular antar manusia, di antara penumpang kapal.
Awal Penyebaran Virus
Leo Schilperoord, yang merupakan seorang ornitolog berpengalaman, dan istrinya dikenal sebagai pengamat burung. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pasangan ini sebagai kasus pertama dalam wabah di kapal pesiar tersebut. Leo dikategorikan sebagai 'kasus probable' sementara infeksi Mirjam telah terkonfirmasi melalui tes PCR. WHO bekerja sama dengan otoritas kesehatan Argentina dan Chile untuk menyelidiki asal mula wabah, terutama setelah Argentina melaporkan peningkatan kasus hantavirus.
Menurut WHO, penyelidikan awal menunjukkan bahwa pasangan tersebut kemungkinan terpapar virus saat melakukan aktivitas pengamatan burung, yang mungkin terjadi di lokasi pembuangan sampah dekat Ushuaia, Patagonia. Tempat tersebut dikenal sebagai titik favorit bagi pengamat burung untuk melihat spesies langka seperti Caracara Darwin, namun juga diduga menjadi habitat bagi hewan pengerat yang membawa virus Andes hantavirus. Virus ini umumnya menular melalui partikel dari urine atau kotoran tikus yang terhirup oleh manusia.
Gejala dan Dampak Kematian
WHO melaporkan bahwa Leo mulai menunjukkan gejala pada 6 April, kurang dari seminggu setelah pelayaran dimulai. Ia mengalami demam, sakit kepala, dan gangguan pencernaan sebelum meninggal dunia di atas kapal pada 11 April. Pada saat itu, hantavirus belum dicurigai karena gejalanya mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa kematian Leo awalnya tidak dapat dijelaskan dan tidak ada sampel yang diambil pada saat itu.
Sementara itu, Mirjam tetap berada di kapal hingga turun di Saint Helena pada 24 April dengan keluhan gangguan pencernaan. "Kondisinya kemudian memburuk dalam penerbangan ke Johannesburg, Afrika Selatan, pada tanggal 25 April," ungkap WHO. "Ia meninggal pada tanggal 26 April di sebuah klinik di Johannesburg," tambahnya. Kini, pasangan tersebut diyakini sebagai kasus paling awal dalam kluster wabah di kapal pesiar MV Hondius, dan Leo Schilperoord diperlakukan sebagai 'pasien nol' dalam wabah ini.
Wabah di MV Hondius melibatkan virus Andes hantavirus, yang diketahui dapat menular antar manusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan, berbeda dengan sebagian besar jenis hantavirus lainnya yang umumnya hanya menular dari hewan pengerat ke manusia. Munculnya wabah di kapal pesiar ini mendorong otoritas kesehatan di berbagai negara untuk melakukan pelacakan kontak secara internasional. Sejumlah penumpang dari Amerika Serikat dan Eropa yang telah kembali ke negara masing-masing kini masih dipantau untuk mendeteksi kemungkinan gejala infeksi lebih lanjut.