Kesehatan

Bahaya Curhat ke ChatGPT Menurut Psikiater

Penggunaan chatbot seperti ChatGPT untuk curhat dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, terutama jika dilakukan tanpa batasan.

D
Darma Yudhistira
18 July 2026 10 pembaca
Foto: Ilustrasi curhat ke Chat GPT (Getty Images/iStockphoto/Pongchart)
Foto: Ilustrasi curhat ke Chat GPT (Getty Images/iStockphoto/Pongchart)

Chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti ChatGPT, kini banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak orang memanfaatkan teknologi ini tidak hanya untuk mencari informasi, tetapi juga untuk berbagi perasaan dan masalah yang dihadapi. Praktik ini dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan mental jika dilakukan tanpa batasan.

Tren Curhat ke AI di Kalangan Muda

Psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dr Krisiana Siste, menyatakan bahwa banyak remaja dan dewasa muda kini bergantung pada chatbot. "AI ini kan sering kali digunakan oleh gen Z dan gen Alpha untuk menanyakan, 'Aku kepribadiannya apa? Introvert atau ekstrovert? Aku depresi nggak sih?'" ujarnya. Beberapa pasien mengaku menjadikan AI sebagai tempat bercerita saat merasa kesepian, terutama ketika komunikasi dalam keluarga minim.

Berdasarkan survei yang dilakukan American Psychological Association (APA) pada tahun 2026, banyak psikolog melaporkan bahwa pasien mencari alternatif di luar psikoterapi konvensional untuk mengelola kesehatan mental mereka, salah satunya dengan menggunakan AI dan chatbot sebagai pelengkap interaksi dengan tenaga kesehatan mental berlisensi.

Bahaya Sering Curhat ke AI

Menurut psikolog klinis Ghina Sakinah Safari, penggunaan chatbot sebagai alat bantu memiliki batasan. Curhat kepada chatbot masih tergolong sehat jika digunakan sebagai media eksplorasi awal sebelum mencari bantuan profesional. "Selain itu, juga masih sehat jika sekadar menjadi alat bantu berpikir, menulis jurnal, atau memahami emosi," kata Ghina.

Prof Ridi Ferdiana dari Fakultas Teknik UGM menambahkan bahwa penggunaan AI sebagai tempat curhat tidak salah, namun harus dipahami bahwa konsistensi ini tidak boleh disalahartikan sebagai kepedulian yang tulus. "Pada dasarnya, apa pun yang Anda perintahkan untuk diucapkan akan menghasilkan kata-kata yang diinginkan. AI beroperasi berdasarkan prinsip 'masukan buruk menghasilkan keluaran buruk'," jelasnya. Ia juga menyarankan agar penggunaan AI tidak berlebihan, karena dapat menyebabkan ketergantungan.

Dampak Negatif dari Ketergantungan pada AI

Ketergantungan untuk curhat ke AI dapat menimbulkan beberapa efek negatif, antara lain:

1. Semakin Jauh dari Lingkungan Sosial: Ketergantungan yang berlebihan pada chatbot dapat membuat seseorang semakin menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa lebih dipahami oleh AI dibandingkan manusia. Dr Siste menegaskan bahwa AI harus ditempatkan sebagai alat pendukung, bukan pengganti tenaga kesehatan profesional.

2. Mengalami Distress Emosional: Distress emosional dapat berupa depresi dan kecemasan. Ghina menjelaskan bahwa ini mulai tidak sehat jika seseorang merasa distress emosional ketika tidak mendapatkan respons dari bot, atau merasa bahwa bot adalah teman sejati yang satu-satunya memahami mereka.

3. Memperburuk Kondisi Mental: Banyak orang menggunakan chatbot untuk mengetahui kondisi kesehatan mental mereka. Menurut dr Siste, informasi yang diberikan AI sering kali keliru atau tidak sesuai dengan konteks, sehingga tidak boleh dijadikan dasar untuk diagnosis. Ghina menambahkan bahwa informasi yang tidak akurat dapat membahayakan, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental.

Penggunaan AI sebagai dasar untuk melakukan self-treatment tanpa berkonsultasi dengan tenaga profesional berpotensi berbahaya karena dapat memperburuk kesehatan mental. Gejala yang tampak serupa sering kali memiliki penyebab yang berbeda dan memerlukan penanganan yang tepat.

Kasus ekstrem terjadi pada Februari 2024, ketika seorang remaja berusia 14 tahun di Florida bunuh diri setelah chatbot mendukung keinginannya untuk mewujudkan pikiran bunuh diri.

Artikel Terkait