Ekonomi

Morgan Stanley Turunkan Proyeksi Harga Minyak Brent Menjadi USD75 per Barel, Apa Penyebabnya?

Morgan Stanley telah merevisi proyeksi harga minyak Brent untuk tahun ini dan tahun depan, menyusul normalisasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Penurunan ini mencerminkan perubahan kondisi pas...

A
Agus Wigati
30 June 2026 42 pembaca
Martijn Rats memangkas proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi USD75 per barel. (Foto: KabarBursa)
Martijn Rats memangkas proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi USD75 per barel. (Foto: KabarBursa)

Bank investasi global Morgan Stanley telah mengubah proyeksi harga minyak mentah untuk tahun ini dan tahun depan. Penyesuaian ini disebabkan oleh kembalinya aktivitas pengiriman minyak di Selat Hormuz ke kondisi normal, lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Dalam laporan yang dirilis pada Senin, 29 Juni 2026, tim analis yang dipimpin oleh Martijn Rats menurunkan proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi USD75 per barel, dari estimasi sebelumnya yang mencapai USD80 per barel, sehingga terjadi pemotongan sebesar USD5 per barel.

Selain itu, proyeksi untuk jangka panjang juga mengalami revisi. Diperkirakan harga minyak Brent pada akhir 2027 akan berada di angka USD70 per barel, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya yang mencapai USD80 per barel. Dengan demikian, penurunan proyeksi untuk tahun 2027 menjadi lebih signifikan, yakni sebesar USD10 per barel.

Rekomendasi Saham Sektor Energi Diperbarui

Sejalan dengan perubahan proyeksi harga, Morgan Stanley juga menurunkan rekomendasi untuk saham-saham di sektor energi di Eropa dari kategori menarik menjadi sejalan. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa prospek kenaikan harga minyak tidak sekuat sebelumnya. Perubahan ini didasarkan pada perkembangan terkini di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting dalam distribusi minyak global. Setelah sempat terhambat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arus pelayaran kini kembali mendekati kondisi normal.

Pada Kamis, 25 Juni 2026, tercatat ada 35 kapal tanker minyak dan gas yang melintas keluar melalui Selat Hormuz, jumlah ini berada dalam kisaran normal, yaitu sekitar 30 hingga 40 kapal per hari, seperti sebelum ketegangan meningkat. Dari total kapal yang melintas, terdapat lima Very Large Crude Carrier (VLCC) yang secara keseluruhan dapat mengangkut sekitar 10 juta barel minyak mentah. Pada hari yang sama, juga tercatat 15 kapal tanker yang memasuki kawasan tersebut, termasuk lima VLCC lainnya.

Perubahan Proyeksi Keseimbangan Pasar Minyak Global

Pulihnya aktivitas pengiriman ini menjadi salah satu faktor yang mengubah proyeksi keseimbangan pasar minyak global. Morgan Stanley mencatat bahwa risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah kini mulai berkurang, sehingga tekanan terhadap harga minyak juga mereda. Lembaga ini menilai bahwa pasar selama ini didorong oleh dua faktor utama, yaitu tingginya ekspor minyak dari Amerika Serikat dan lemahnya impor bersih minyak dari China. Kombinasi kedua faktor ini diperkirakan telah mengimbangi sekitar 70 hingga 80 persen dari penurunan ekspor minyak melalui jalur laut dari Timur Tengah, yang diperkirakan mencapai hampir 10 juta barel per hari.

Dengan kembalinya pengiriman minyak dari Timur Tengah, pasokan global diperkirakan akan lebih melimpah. Morgan Stanley memperkirakan bahwa kondisi ini akan meningkatkan jumlah kargo minyak yang belum terserap oleh pasar, sehingga surplus pasokan berpotensi semakin besar.

Sebelum terjadinya konflik di Timur Tengah, Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak dunia akan mengalami surplus sekitar 2 juta hingga 3 juta barel per hari dalam beberapa tahun mendatang. Namun, setelah mempertimbangkan pemulihan aktivitas di Selat Hormuz, proyeksi surplus tersebut direvisi menjadi sekitar 4,8 juta barel per hari pada tahun 2027. Selain normalisasi distribusi minyak dari Timur Tengah, Morgan Stanley juga mengidentifikasi beberapa faktor lain yang diperkirakan akan menambah pasokan minyak global, termasuk rencana Uni Emirat Arab untuk meningkatkan produksi minyak setelah keluar dari OPEC, pelonggaran sanksi terhadap Iran, serta produksi minyak Venezuela yang lebih tinggi dari perkiraan.

Di sisi lain, pasokan minyak dari Amerika Serikat tetap kuat, sementara prospek permintaan minyak global masih relatif lemah. Pandangan ini sejalan dengan pergerakan harga minyak di pasar internasional. Pada perdagangan terbaru, kontrak minyak Brent tercatat di level USD73,76 per barel, turun 15 sen dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Harga tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan level tertinggi intraday yang mencapai USD119,50 per barel pada awal Maret saat ketegangan geopolitik meningkat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran USD70,59 per barel.

Revisi proyeksi oleh Morgan Stanley menunjukkan bahwa perhatian pasar minyak kini beralih dari kekhawatiran akan gangguan distribusi menuju kondisi pasokan global yang semakin longgar. Dengan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang telah kembali mendekati tingkat normal, lembaga ini menilai bahwa surplus pasokan akan menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan prospek harga minyak di masa mendatang.

Artikel Terkait