Logika pasar minyak biasanya menunjukkan bahwa ketika stok minyak mentah menurun drastis, harga seharusnya mengalami kenaikan karena pasokan yang semakin terbatas. Namun, di Amerika Serikat, situasi ini justru berbalik. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat jatuh di bawah USD70 per barel, yang setara dengan sekitar Rp1,19 juta, sebelum ditutup pada harga USD70,34 per barel atau sekitar Rp1,20 juta.
Penurunan harga ini terjadi meskipun cadangan minyak di pusat penyimpanan utama di Amerika Serikat terus menurun, mencapai level terendah dalam 12 tahun terakhir. Menurut laporan dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat, stok minyak di fasilitas penyimpanan Cushing, Oklahoma, tercatat turun menjadi sekitar 19 juta barel pada pekan lalu, angka ini merupakan yang terendah sejak 2014.
Faktor Penekan Harga Minyak
Cushing dikenal sebagai salah satu pusat penyimpanan minyak terbesar di dunia dan menjadi acuan penting bagi pasar minyak di Amerika Serikat. Dalam kondisi normal, penurunan stok biasanya menjadi indikasi bahwa pasokan mulai mengetat, yang seharusnya mendorong harga naik. Sejak terjadinya konflik antara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari, harga WTI bahkan sempat melonjak hingga USD119,48 per barel atau sekitar Rp2,03 juta. Namun, pelepasan cadangan minyak strategis oleh pemerintah berhasil menahan lonjakan harga tersebut.
Di sisi lain, aktivitas kapal tanker yang kembali melintasi Selat Hormuz juga berkontribusi meredakan kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan global. Meskipun stok di Cushing terus menurun, kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak.
Analisis Pasar dan Permintaan Ekspor
Manajer Penjualan di perusahaan analisis pasar energi Enverus, Carl Larry, mengungkapkan bahwa secara fundamental, harga minyak seharusnya berada pada level yang lebih tinggi. Dia menyatakan, “Secara fundamental, harga seharusnya lebih tinggi jika melihat kondisi Cushing, kebutuhan mengganti pasokan yang hilang, serta persoalan yang masih terus terjadi terhadap arus kapal keluar dan masuk Selat Hormuz.”
Menurut Larry, penurunan harga saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar ketimbang kondisi pasokan yang sebenarnya. “Penurunan harga ini lebih merupakan kelanjutan aksi jual yang didorong sentimen pasar. Dana investasi masih terus menekan harga kontrak berjangka dengan harapan menemukan titik dukungan yang lemah lalu memanfaatkan peluang ketika harga kembali naik,” ujarnya.
Menipisnya stok di Cushing juga disebabkan oleh tingginya permintaan ekspor dari kawasan Pantai Teluk Amerika Serikat. Di sisi lain, pasokan minyak impor dari Kanada mengalami penurunan akibat gangguan produksi yang tidak terduga. Akibatnya, volume minyak yang tersimpan di Cushing kini berada di bawah ambang 20 juta barel, yang selama ini dianggap sebagai batas minimum agar operasional fasilitas penyimpanan tetap berjalan normal.
Para analis memperingatkan bahwa ketika volume minyak dalam tangki penyimpanan turun di bawah 10 persen hingga 20 persen dari kapasitasnya, proses pengambilan minyak akan menjadi jauh lebih sulit. Selain itu, kualitas minyak juga berisiko menurun karena endapan air dan sedimen akan semakin banyak mengumpul di dasar tangki penyimpanan.