Ekonomi

Rencana Ekspansi PT Aman Agrindo Tbk Memicu Reaksi Pasar yang Beragam

PT Aman Agrindo Tbk (GULA) mengumumkan rencana akuisisi pabrik gula di Sragen, namun pasar merespons dengan tekanan jual yang signifikan.

I
Indriani Atmaja
17 June 2026 21 pembaca
Manajemen GULA sedang menyelesaikan proses due diligence untuk mengakuisisi sebuah pabrik gula di Sragen, Jawa Tengah. (Foto: KabarBursa)
Manajemen GULA sedang menyelesaikan proses due diligence untuk mengakuisisi sebuah pabrik gula di Sragen, Jawa Tengah. (Foto: KabarBursa)

PT Aman Agrindo Tbk (GULA) baru-baru ini mengungkapkan rencana ekspansi yang berpotensi mengubah arah bisnis mereka. Namun, pengumuman ini tidak direspons positif oleh pasar, yang terlihat dari tekanan jual yang cukup besar. Pada sesi perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, harga saham GULA mengalami penurunan sebesar 4,44 persen, turun menjadi 645 setelah sebelumnya dibuka di 675 dan mencapai puncak 710 sebelum akhirnya merosot hingga 630.

Saat ini, manajemen GULA sedang dalam proses due diligence untuk mengakuisisi sebuah pabrik gula yang terletak di Sragen, Jawa Tengah. Pabrik yang menjadi target ini memiliki kapasitas penggilingan sebesar 1.000 ton tebu per hari (TCD) dan mampu memproduksi sekitar 100 ton gula merah setiap harinya. Akuisisi ini bukan sekadar penambahan aset bagi GULA, melainkan juga langkah strategis untuk meningkatkan posisi mereka dalam rantai pasokan gula, dari yang sebelumnya hanya berfokus pada distribusi dan perdagangan menjadi produsen yang memiliki kontrol lebih besar atas pasokan gula.

Keunggulan Lokasi dan Target Operasional

Pemilihan lokasi pabrik di Sragen sangat strategis, mengingat daerah tersebut memiliki pasokan tebu yang melimpah. Dengan demikian, risiko kekurangan bahan baku akan lebih rendah dibandingkan jika pabrik berada di daerah dengan produksi tebu yang terbatas. Manajemen GULA menargetkan agar operasional pabrik dapat mulai diambil alih pada Juni 2026, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan pada Semester II 2026. Fokus produksi juga akan diarahkan untuk memperkuat segmen pasar business-to-business (B2B), yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama perusahaan.

Jika utilisasi pabrik dapat dijaga pada tingkat yang tinggi, akuisisi ini berpotensi untuk meningkatkan volume penjualan serta memperbaiki margin usaha, karena sebagian dari rantai produksi kini berada di bawah kendali perusahaan sendiri. Pendanaan untuk akuisisi ini juga berasal dari kas internal, sehingga risiko penambahan utang menjadi relatif kecil.

Reaksi Pasar dan Aktivitas Investor

Meskipun ada sentimen positif terkait akuisisi, tekanan jual di pasar tetap kuat. Struktur orderbook menunjukkan ketidakseimbangan yang mencolok, dengan total antrean bid hanya mencapai 108.866 lot, sementara antrean offer mencapai 343.662 lot. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah saham yang ingin dijual hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan jumlah yang ingin dibeli. Tekanan ini terlihat jelas pada level harga, di mana antrean pada harga 670 mencapai lebih dari 21 ribu lot, dan di level 675 sekitar 25 ribu lot. Bahkan, pada rentang harga 700 hingga 715, antrean jual masih cukup tebal.

Di sisi lain, aktivitas broker pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, menunjukkan bahwa JP Morgan Sekuritas Indonesia menjadi salah satu broker dengan nilai jual terbesar, mencapai sekitar Rp1,3 miliar dengan volume sekitar 18,8 ribu lot pada harga rata-rata 667. Sementara itu, Trust Sekuritas menjadi pembeli terbesar dengan nilai sekitar Rp3,8 miliar, diikuti oleh NH Korindo Sekuritas Indonesia dengan nilai sekitar Rp2 miliar. Beberapa institusi memilih untuk merealisasikan keuntungan setelah kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir, sementara yang lain memanfaatkan koreksi untuk melakukan akumulasi.

Dalam sembilan hari perdagangan terakhir, investor asing menunjukkan dominasi pembelian yang signifikan, meskipun terdapat beberapa hari dengan arus keluar. Secara keseluruhan, pola yang muncul menunjukkan bahwa investor asing belum meninggalkan saham ini.

Pasar saat ini tampaknya berada dalam fase menunggu. Di satu sisi, investor melihat potensi besar dari akuisisi pabrik Sragen yang dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat bisnis B2B. Di sisi lain, pelaku pasar menyadari bahwa nilai akuisisi masih menunggu hasil penilaian yang diperkirakan akan selesai pada Agustus 2026. Ketidakpastian ini membuat sebagian investor memilih untuk mengamankan keuntungan terlebih dahulu. Oleh karena itu, tekanan jual yang besar saat ini belum tentu mencerminkan prospek perusahaan yang memburuk. Jika proses akuisisi berjalan sesuai rencana dan pabrik mulai memberikan kontribusi pada Semester II, maka fundamental GULA dapat berubah dari sekadar perusahaan distribusi menjadi pemain dengan kapasitas produksi yang lebih besar dan margin yang lebih baik.

Artikel Terkait