Nilai tukar rupiah diprediksi akan mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, Kamis, 2 Juli 2026. Faktor-faktor seperti ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan munculnya kembali defisit neraca perdagangan Indonesia setelah enam tahun menjadi penyebab utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, rupiah akan tetap berada dalam tekanan pada hari ini. "Sedangkan untuk perdagangan besok (Kamis, 2 Juli 2026), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.950-Rp18.010," ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 1 Juli 2026.
Pergerakan Rupiah dan Faktor Eksternal
Proyeksi tersebut muncul setelah pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, rupiah ditutup melemah 43 poin ke level Rp17.950 per dolar AS. Selama perdagangan, mata uang domestik sempat mengalami tekanan hingga 70 poin sebelum mengurangi sebagian pelemahannya. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.906 per dolar AS.
Dari sisi eksternal, Ibrahim mengamati bahwa penguatan indeks dolar AS dipicu oleh tingginya ketidakpastian dalam negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar menunggu kepastian mengenai arah pembicaraan setelah Iran menolak untuk melakukan perundingan langsung dengan utusan senior AS dan memilih jalur mediasi teknis.
Situasi ini membuat pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik dalam perhitungan mereka, meskipun produksi minyak mentah AS telah mencapai rekor tertinggi, mencerminkan peningkatan pasokan energi global. Ibrahim menjelaskan bahwa harga minyak sebelumnya mengalami koreksi tajam setelah konflik di Iran mereda. Minyak Brent tercatat anjlok sekitar 38 persen sepanjang kuartal kedua setelah sempat melonjak sekitar 94 persen pada kuartal pertama. Pada bulan Juni, harga Brent terkoreksi sekitar 21 persen setelah penurunan 19 persen pada bulan Mei, seiring meredanya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
Data Ekonomi dan Dampaknya
Meski demikian, ketidakpastian tetap ada karena belum adanya pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran, yang membuat pasar bertanya-tanya tentang seberapa cepat kedua negara dapat menyelesaikan berbagai isu dalam kerangka negosiasi selama 60 hari, termasuk masa depan Selat Hormuz. Selain itu, investor juga memperhatikan sejumlah data ketenagakerjaan di AS yang berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan bahwa jumlah lowongan kerja pada bulan Mei meningkat menjadi 7,594 juta, lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang sebesar 7,3 juta. Di sisi lain, indeks kepercayaan konsumen AS pada bulan Juni juga menunjukkan perbaikan setelah tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran, yang berpengaruh pada harga bahan bakar.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data perubahan tenaga kerja ADP dan laporan Nonfarm Payrolls yang diharapkan dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Sementara itu, dari dalam negeri, Ibrahim mencatat bahwa sentimen negatif muncul dari rilis neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2026, yang mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar (sekitar Rp27,37 triliun). Ini menjadi defisit pertama setelah Indonesia menikmati surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Nilai impor Indonesia pada bulan Mei tercatat mencapai USD24,81 miliar (sekitar Rp421,77 triliun), lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor yang sebesar USD23,20 miliar (sekitar Rp394,40 triliun). Ibrahim menjelaskan bahwa pelebaran defisit ini terutama disebabkan oleh sektor minyak dan gas yang mencatat defisit USD3,76 miliar (sekitar Rp63,92 triliun). Badan Pusat Statistik juga mencatat bahwa impor migas mencapai USD4,51 miliar (sekitar Rp76,67 triliun), meningkat 70,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara impor nonmigas mencapai USD20,30 miliar (sekitar Rp345,10 triliun) atau meningkat 14,69 persen secara tahunan.
Selain neraca perdagangan, inflasi tahunan Indonesia pada bulan Juni 2026 juga tercatat sebesar 3,34 persen. Kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, dan transportasi menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi, meskipun angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.