Ekonomi

Saham KLBF Alami Penurunan Signifikan, Analis Melihat Peluang Pemulihan

Saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mengalami penurunan sebesar 31 persen, namun analis percaya ada potensi untuk rebound. Penurunan ini dipicu oleh faktor eksternal yang mempengaruhi biaya produksi.

A
Agus Wigati
24 June 2026 22 pembaca
Ketika rupiah melemah tajam, saham KLBF mengalami koreksi. Sebaliknya, ketika rupiah mulai menguat, saham KLBF menjadi salah satu emiten yang paling cepat melakukan pulih. (Foto: dok KLBF)
Ketika rupiah melemah tajam, saham KLBF mengalami koreksi. Sebaliknya, ketika rupiah mulai menguat, saham KLBF menjadi salah satu emiten yang paling cepat melakukan pulih. (Foto: dok KLBF)

Belakangan ini, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mengalami penurunan yang cukup dalam, mencapai angka 31 persen. Penurunan ini terjadi setelah harga saham KLBF jatuh ke level Rp680 pada 23 Juni 2026, yang merupakan dampak dari ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun demikian, beberapa analis melihat bahwa perusahaan ini masih memiliki peluang untuk bangkit kembali.

Penurunan harga saham KLBF jauh lebih signifikan dibandingkan dengan proyeksi penurunan laba yang diperkirakan oleh analis. Bisnis farmasi sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu harga bahan baku dan nilai tukar. Mengingat sebagian besar bahan baku obat diimpor, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya produksi. Hal ini menjadi alasan di balik aksi jual besar-besaran yang terjadi pada saham KLBF dalam beberapa pekan terakhir.

Proyeksi Laba dan Dampak Perang

Dalam analisis yang dilakukan oleh Stockbit, sebelum terjadinya perang AS-Iran, KLBF diperkirakan akan mencatatkan laba bersih sekitar Rp3,96 triliun pada tahun 2026, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 8,1 persen. Namun, setelah pecahnya perang dan perubahan drastis dalam asumsi makroekonomi, proyeksi ini perlu direvisi. Dalam skenario dasar, jika kurs rupiah berada di Rp17.450 per dolar AS dan harga minyak Brent mencapai USD82 per barel, laba bersih KLBF diperkirakan turun menjadi Rp3,45 triliun, mencerminkan penurunan sekitar 14,1 persen dibandingkan proyeksi awal.

Dalam skenario yang lebih pesimis, dengan harga minyak mencapai USD90 per barel dan rupiah melemah ke Rp17.600 per dolar AS, laba bersih KLBF diperkirakan hanya sekitar Rp3,14 triliun, yang menunjukkan penurunan sebesar 22,3 persen dibandingkan asumsi awal. Meski dampak ini cukup signifikan, angka tersebut masih lebih ringan dibandingkan penurunan harga saham yang telah mencapai 31 persen, yang memunculkan indikasi bahwa pasar mungkin bereaksi berlebihan.

Peluang Pemulihan dan Nilai Tukar

Saat ini, situasi pasar telah berubah dibandingkan beberapa pekan lalu. Harga minyak global menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, dan nilai tukar rupiah mulai menunjukkan perbaikan. Kondisi ini membuka peluang bagi KLBF untuk tampil lebih baik dibandingkan skenario terburuk yang dikhawatirkan oleh para investor. Dari sisi operasional, tekanan utama saat ini terletak pada margin laba kotor. Sebelum konflik, margin laba kotor KLBF diperkirakan mencapai 40,3 persen, namun dalam skenario dasar, margin tersebut diperkirakan turun menjadi 37,4 persen, dan dalam skenario pesimistis menjadi 36,4 persen.

Walaupun terjadi penurunan, angka-angka tersebut masih berada dalam rentang yang pernah dialami perusahaan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pasar seolah menghukum KLBF seakan bisnisnya mengalami kerusakan permanen, padahal yang terjadi lebih mirip dengan tekanan siklus akibat faktor makroekonomi. Optimisme terhadap pemulihan KLBF juga didukung oleh hubungan historis antara nilai tukar rupiah dan harga saham KLBF, di mana saham ini cenderung pulih dengan cepat ketika rupiah menguat.

Dengan proyeksi laba bersih sekitar Rp3,45 triliun pada tahun 2026, KLBF saat ini diperdagangkan dengan valuasi sekitar 10 kali price to earnings ratio (PER), yang jauh di bawah rata-rata historis perusahaan selama lima tahun terakhir. Data konsensus menunjukkan bahwa 27 analis masih memiliki pandangan positif terhadap KLBF, dengan 24 di antaranya merekomendasikan untuk membeli saham ini.

Target harga rata-rata yang diberikan oleh analis berada di level Rp1.324 per saham, dengan target terendah mencapai Rp1.000 dan target tertinggi di Rp1.810. Dengan harga pasar saat ini yang berada di kisaran Rp770, potensi kenaikan terlihat sangat besar. Bahkan, dengan pendekatan yang lebih konservatif, yaitu valuasi kembali ke level sekitar 12 kali PER, harga wajar KLBF diperkirakan berada di sekitar Rp920 per saham, menunjukkan potensi kenaikan lebih dari 20 persen dari level saat ini.

Beberapa hari terakhir, pergerakan perdagangan juga menunjukkan tanda-tanda bahwa tekanan jual mulai mereda. Setelah sempat terjun ke Rp680 pada 23 Juni, saham KLBF langsung rebound dan ditutup naik 11,76 persen dalam sehari. Pada perdagangan 24 Juni, saham ini kembali menguat ke Rp770 dengan volume yang cukup solid. Meskipun belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren jangka panjang, pantulan ini menunjukkan bahwa investor mulai melihat harga saat ini sebagai peluang untuk akumulasi.

Risiko terhadap KLBF tetap ada, terutama jika harga minyak kembali melonjak atau jika rupiah tertekan akibat kebijakan hawkish dari The Fed. Namun, jika sentimen makro terus membaik, saham ini berpotensi menjadi salah satu kandidat pemulihan yang paling menarik di sektor kesehatan.

Artikel Terkait