Ekonomi

Tantangan Besar PT Krakatau Steel dalam Mewujudkan Swasembada Baja

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menghadapi tantangan fundamental yang serius dengan akumulasi kerugian mencapai USD2,01 miliar, yang mengancam kelangsungan usaha perusahaan. Berbagai faktor sep...

J
Jarot Kusna
27 June 2026 38 pembaca
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) memikul beban fundamental yang sangat berat. (Foto: Dok. Krakatau Steel)
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) memikul beban fundamental yang sangat berat. (Foto: Dok. Krakatau Steel)

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) kini tengah menghadapi beban fundamental yang sangat berat. Laporan keuangan konsolidasi menunjukkan bahwa akumulasi kerugian, atau defisit saldo laba, telah mencapai USD2,01 miliar, setara dengan sekitar Rp31 triliun. Defisit ini menjadi tumpukan inefisiensi operasional dan "dosa masa lalu" yang mengancam kelangsungan usaha perusahaan.

Dalam dokumen laporan auditor independen, terdapat peringatan yang jelas mengenai keraguan signifikan terhadap kemampuan perusahaan untuk bertahan. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa total liabilitas jangka pendek melebihi aset lancar, serta arus kas operasi yang negatif sebesar USD1,75 juta sepanjang tahun 2025. Laba yang diperoleh pada tahun 2025 tercatat sebagai anomali akuntansi akibat restrukturisasi utang, bukan hasil dari kegiatan perdagangan baja yang murni.

Penyebab Kerugian yang Signifikan

Defisit sebesar Rp31 triliun ini berasal dari empat sumber utama. Pertama, terdapat penghapusan nilai (impairment) aset tetap yang mencapai USD977,27 juta, lebih dari Rp15 triliun. Proyek Blast Furnace (ISM-BF) yang tidak berhasil beroperasi menjadi penyebab utama aset tersebut menjadi mangkrak. Kedua, perusahaan menghadapi beban keuangan yang sangat besar, dengan pembayaran bunga utang yang mencapai USD153,65 juta pada tahun 2024.

Ketiga, kebakaran yang terjadi di Finishing Mill pabrik Hot Strip Mill (HSM) 1 pada Mei 2023 telah melumpuhkan proses produksi baja dan menyebabkan perusahaan gagal memenuhi kewajiban restrukturisasi pada Agustus 2023. Keempat, kerugian dari entitas asosiasi, terutama PT Krakatau Posco, yang menyumbang kerugian sebesar USD49,68 juta pada tahun 2024 dan meningkat menjadi USD124,45 juta pada tahun 2025. Kerugian operasional yang dialami di masa lalu masih tercatat di neraca, menjadikan laba 2025 hanya sebagai ilusi akibat penghapusan utang.

Struktur Utang yang Membebani

Hingga akhir tahun 2025, total liabilitas KRAS mencapai USD2,04 miliar, atau sekitar Rp34,11 triliun. Utang sindikasi dari restrukturisasi utama (Tranche A, B, dan C) mencapai USD1,17 miliar. Kreditur terbesar termasuk Bank Mandiri dengan utang USD414,38 juta, BNI USD276,81 juta, dan BRI USD174,05 juta. Selain itu, perusahaan juga bergantung pada dukungan dari PT Danantara Asset Management, yang saldonya melonjak menjadi USD242,32 juta pada kuartal I tahun 2026.

KRAS juga memiliki utang kepada sindikasi lain seperti CIMB Niaga, OCBC NISP, LPEI, dan ICBC Indonesia. Pinjaman dari PT Danantara Asset Management telah meningkat menjadi ekuivalen USD242,32 juta pada akhir kuartal I-2026, berfungsi sebagai "napas buatan" untuk menjaga operasional pabrik tetap berjalan.

Mewujudkan swasembada baja dengan beban defisit yang ada saat ini tampaknya hampir mustahil dilakukan secara mandiri. KRAS kini beroperasi dengan mengandalkan empat pilar eksternal: suntikan modal kerja dari Danantara, kemitraan asing dengan PT Krakatau Posco yang didanai utang dan PMN, proteksi pasar melalui bea masuk anti-dumping, serta relaksasi bunga sindikasi menjadi hanya 1 persen hingga tahun 2035. Tanpa dukungan eksternal ini, fundamental KRAS dipastikan akan terjerumus ke dalam krisis likuiditas yang berpotensi mengarah pada kebangkrutan teknis.

Artikel Terkait