Soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diberikan di jenjang pendidikan dasar hingga menengah sering kali dianggap menantang dan sulit oleh para siswa. Pertanyaan yang muncul adalah, apa yang menyebabkan soal-soal ini terasa sulit? Berdasarkan informasi dari akun Instagram resmi @litbangdikbud pada Minggu (17/5/2026), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelaskan alasan di balik tantangan yang dihadapi siswa saat mengerjakan tes ini.
Salah satu penyebab utama adalah bahwa TKA tidak hanya menguji kemampuan menghafal, melainkan juga melatih kemampuan logika siswa. Dalam penjelasan tersebut, disebutkan bahwa “TKA bukan sekadar menguji hafalan.” Dengan kata lain, soal-soal TKA dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, di mana siswa diharapkan dapat menganalisis masalah daripada hanya memberikan jawaban langsung.
Standar yang Relevan dengan Kehidupan Sehari-hari
Kemendikdasmen menekankan bahwa standar yang digunakan dalam penyusunan soal TKA sangat relevan dengan dunia nyata, terutama dalam penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun soal-soal tersebut menantang, pada dasarnya semua materi yang diujikan diambil dari pelajaran yang diajarkan di sekolah. Sebelumnya, Kemendikdasmen juga telah menjelaskan keluhan mengenai soal Matematika TKA yang dianggap tidak sesuai dengan simulasi yang disediakan.
Pernyataan dari Kepala Badan Kebijakan Pendidikan
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa perbedaan antara soal yang diujikan dan yang ada di simulasi bukanlah untuk membuat siswa kesulitan. Ia menyatakan, “Saya kira soal TKA ini dibuat bukan untuk menarik, tetapi kita untuk mengungkap bagaimana kemampuan berpikir siswa ini yang lebih mendalam.” Toni juga mengakui adanya banyak keluhan mengenai kesulitan soal, terutama dalam materi Matematika dan numerasi.
Ia menambahkan bahwa meskipun telah dilakukan pengukuran dan pengujian terhadap soal-soal yang diberikan, keluhan tetap muncul. “Jadi secara teori kami sudah melalui proses progres yang akademis, menguji soal itu dan lain-lain. Dan pada akhirnya memang selalu terjadi keluhan seperti itu. Tetapi pada prinsipnya kami ingin mengukur yang tadi,” ujarnya.