Ekonomi

CLEO Memangkas Dividen Menjadi Rp250 per Lot, Apa Penyebabnya?

PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp250 per lot, yang merupakan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun pendapatan perusahaan men...

E
Eira Orelia
22 June 2026 19 pembaca
CLEO memutuskan pembagian dividen tunai sebesar Rp25o per lot yang diambil dari tahun buku 2025. (Foto: dok CLEO)
CLEO memutuskan pembagian dividen tunai sebesar Rp25o per lot yang diambil dari tahun buku 2025. (Foto: dok CLEO)

KABARBURSA.COM – Pada Senin, 22 Juni 2026, PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp250 per lot yang diambil dari laba tahun buku 2025. Angka ini menunjukkan penurunan hampir setengah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. CLEO dikenal sebagai salah satu emiten di sektor barang konsumen yang mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis secara konsisten, sehingga pertanyaan muncul mengenai penyebab penurunan ini.

Melihat sejarah pembagian dividen, tren penurunan cukup jelas terlihat. Untuk tahun buku 2024, CLEO membagikan dividen sebesar Rp5 per saham, sementara tahun sebelumnya sedikit lebih tinggi, yaitu Rp5,05 per saham. Pada tahun 2022, dividen berada di angka Rp1,65 per saham. Di tahun 2021, perusahaan ini membagikan dua kali dividen mini, masing-masing sebesar Rp2,5 dan Rp1 per saham. Kini, dividen kembali berada di angka Rp2,5 per saham, yang hanya setengah dari dividen yang dibagikan untuk laba tahun buku sebelumnya. Dengan harga saham saat ini yang berada di kisaran Rp390-an, dividend yield CLEO hanya sekitar 0,5 persen, yang terbilang rendah jika dibandingkan dengan rata-rata emiten barang konsumen lainnya di Bursa Efek Indonesia.

Peningkatan Pendapatan dan Laba Bersih

Dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, CLEO mencatat penjualan sebesar Rp774 miliar, meningkat hampir 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebesar Rp669 miliar. Laba bersih juga menunjukkan pertumbuhan, mencapai Rp123 miliar hingga akhir Maret 2026, naik dari Rp117 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Struktur profitabilitas perusahaan tetap relatif sehat, dengan laba usaha meningkat menjadi Rp168 miliar dari Rp157 miliar pada kuartal pertama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan dividen bukan disebabkan oleh penurunan laba, melainkan karena perusahaan melakukan investasi besar-besaran.

Investasi Besar-Besaran dan Strategi Pertumbuhan

Manajemen perusahaan mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2026, mereka menganggarkan belanja modal sekitar Rp700 miliar, jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan total dividen yang diberikan kepada pemegang saham. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun pabrik baru di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru serta memperluas jaringan distribusi nasional. CLEO juga berencana membuka setidaknya 500 titik distribusi baru untuk menghadapi kenaikan biaya logistik yang telah meningkat lebih dari 50 persen. Dengan demikian, manajemen tampaknya lebih memilih untuk fokus pada pertumbuhan dibandingkan dengan memberikan dividen kepada pemegang saham.

Strategi ini tercermin dalam payout ratio perusahaan. Dari laba bersih kuartal pertama 2026 yang mencapai Rp123 miliar, total dividen yang dibagikan sebesar Rp60 miliar menunjukkan bahwa manajemen masih sangat konservatif dalam mengalokasikan laba untuk pemegang saham. Sebagian besar keuntungan ditahan untuk mendukung ekspansi yang sedang berlangsung.

Dari sisi teknikal, saham CLEO menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Indikator teknikal memberikan sinyal "sangat beli" dengan lebih banyak rekomendasi beli dibandingkan jual. RSI berada di kisaran 54, menunjukkan bahwa saham ini belum berada dalam kondisi jenuh beli maupun jenuh jual. Moving average jangka pendek juga memberikan gambaran positif, dengan harga saham saat ini berada di atas MA5, MA10, dan MA20, menunjukkan momentum jangka pendek yang masih mengarah ke atas. Namun, tantangan berikutnya ada di area MA50 di sekitar Rp390 dan MA100 di kisaran Rp401 yang bisa menjadi resistance penting.

Secara fundamental, tidak terdapat tanda-tanda pelemahan yang mengkhawatirkan pada CLEO. Pendapatan tumbuh dua digit, laba terus meningkat, profitabilitas tetap terjaga, dan ekspansi berlangsung agresif. Oleh karena itu, penurunan dividen lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi dari strategi pertumbuhan yang diambil perusahaan, bukan sebagai indikasi memburuknya kinerja keuangan. Bagi investor yang mencari saham dengan dividend yield tinggi, keputusan ini mungkin kurang menarik. Namun, bagi investor yang berfokus pada pertumbuhan jangka panjang, langkah CLEO untuk menahan lebih banyak laba demi memperluas kapasitas produksi dan jaringan distribusi dapat menjadi sinyal positif bahwa manajemen masih melihat peluang besar di pasar air minum dalam kemasan di Indonesia.

(*) Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Artikel Terkait