Ekonomi

DSSA Percepat Transformasi Energi Surya di Tengah Tekanan Jual Asing

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mempercepat transformasi bisnis energi terbarukan melalui peluncuran Solar Innovation Hub, meskipun sahamnya mengalami tekanan jual yang signifikan.

V
Vina Maharani
10 May 2026 12 pembaca
DSSA Percepat Transformasi Energi Surya di Tengah Tekanan Jual Asing
DSSA juga mulai memperluas arah pengembangan energi bersihnya ke sistem penyimpanan energi. (Foto: dok DSSA)

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mulai mempercepat transformasi dalam bisnis energi baru terbarukan melalui anak perusahaannya, PT Daya Mas Agra Sejahtera, yang dikenal sebagai Dian Solar. Peluncuran Solar Innovation Hub yang berlangsung di Sinar Mas Land Plaza, Thamrin, Jakarta, pada Kamis, 7 Mei 2026, menjadi langkah terbaru yang diambil oleh perusahaan ini.

Fasilitas tersebut bukan hanya sekadar ruang kontrol biasa, melainkan sebuah upaya untuk mengelola bisnis energi surya dengan pendekatan yang lebih berbasis data dan pemantauan secara real-time. Semua operasional Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik Dian Solar kini dipantau melalui sistem digital terintegrasi yang menggunakan teknologi FusionSolar dari Huawei Digital Power.

Pentingnya Solar Innovation Hub

Gisela Lesmana, Direktur PT Daya Mas Agra Sejahtera, menyatakan bahwa Solar Innovation Hub merupakan fondasi penting dalam memperkuat bisnis energi surya digital DSSA. Ia menjelaskan bahwa sistem pemantauan real-time memungkinkan respons operasional yang lebih cepat dan menjaga efisiensi aset PLTS yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, DSSA juga berencana untuk memperluas pengembangan energi bersihnya dengan sistem penyimpanan energi. Perusahaan menargetkan pengembangan Battery Energy Storage System (BESS) dengan kapasitas sekitar 25 MWh pada tahun ini. Kerja sama dengan Huawei semakin diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk pengembangan Smart PV dan ekosistem penyimpanan energi terintegrasi di Indonesia. Langkah ini menunjukkan keseriusan DSSA dalam membangun fondasi energi hijau yang berbasis digitalisasi dan efisiensi data.

Tekanan Jual Asing yang Signifikan

Namun, di tengah upaya transformasi bisnis energi surya yang dipercepat, pergerakan saham DSSA di pasar mengalami tekanan yang cukup besar. Dalam sepekan terakhir, saham DSSA menunjukkan fluktuasi yang signifikan dan cenderung dibayangi oleh aksi jual dari investor asing.

Pada perdagangan hari Jumat, 8 Mei 2026, saham DSSA mengalami penurunan sebesar 14,94 persen ke level 1.310. Penurunan ini menjadi yang terendah dalam sepekan setelah sebelumnya sempat rebound ke level 1.540. Tekanan jual asing sangat terlihat, dengan foreign sell pada hari Jumat mencapai Rp80,94 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan foreign buy yang hanya sebesar Rp22,01 miliar. Hal ini menyebabkan DSSA mencatat net foreign sell sekitar Rp58,93 miliar hanya dalam satu hari perdagangan.

Jika dilihat dari lima hari perdagangan terakhir, tekanan jual asing berlangsung secara konsisten. Pada 4 Mei 2026, DSSA mencatat net foreign sell Rp8,06 miliar, meningkat menjadi Rp21,71 miliar pada 5 Mei dan Rp17,93 miliar pada 6 Mei. Meskipun pada 7 Mei saham ini sempat rebound 4,05 persen ke level 1.540, tetap saja rebound tersebut diiringi dengan net foreign sell Rp26,08 miliar, menunjukkan bahwa investor asing masih melakukan distribusi saat harga naik.

Secara keseluruhan, dalam lima hari perdagangan terakhir, DSSA mencatat akumulasi net foreign sell sekitar Rp132,71 miliar. Tekanan ini menyebabkan sahamnya turun dari level 1.525 pada awal pekan menjadi 1.310 di akhir perdagangan Jumat. Meskipun demikian, volatilitas yang tinggi pada saham DSSA menunjukkan bahwa masih ada aktivitas transaksi yang cukup besar. Pada hari Jumat, nilai transaksi DSSA mencapai Rp139,73 miliar dengan volume perdagangan sekitar 993 ribu lot dan frekuensi transaksi lebih dari 25 ribu kali.

Kondisi ini menciptakan dua narasi yang berbeda di pasar mengenai DSSA. Di satu sisi, perusahaan sedang memperkuat transformasi menuju energi hijau dan digitalisasi bisnis energi surya. Namun, di sisi lain, tekanan jual asing dalam jangka pendek masih membuat pergerakan sahamnya cenderung agresif dan penuh volatilitas.

Artikel Terkait