Kesehatan

Fenomena 'Carb Face': Apakah Mengurangi Karbohidrat Dapat Meningkatkan Penampilan?

Istilah 'carb face' menjadi perbincangan hangat di media sosial, di mana banyak orang mengaitkan konsumsi karbohidrat dengan perubahan penampilan wajah. Namun, para ahli menegaskan bahwa tidak ada buk...

E
Eko Prasetyo
05 July 2026 20 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/mtreasure)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/mtreasure)

Istilah 'carb face' atau wajah akibat konsumsi karbohidrat kini tengah ramai dibahas di platform media sosial di China. Tren ini muncul setelah sejumlah konten kreator mengklaim bahwa konsumsi berlebihan makanan yang kaya karbohidrat seperti nasi, mi, atau roti kukus dapat menyebabkan wajah terlihat lebih bengkak, kulit tampak kusam, muncul jerawat, dan garis rahang yang kurang tegas. Beberapa pengguna media sosial bahkan membagikan foto perbandingan sebelum dan sesudah mengurangi asupan karbohidrat, mengklaim bahwa wajah mereka menjadi lebih tirus dan terlihat lebih tegas setelah menerapkan pola makan rendah karbohidrat.

Akibat dari tren ini, makanan pokok seperti nasi, mi, dan roti kukus mulai dipandang negatif, dianggap sebagai penyebab penampilan yang kurang menarik, bahkan dinilai sebagai tanda kurangnya disiplin dalam menjaga pola makan. Namun, benarkah konsumsi karbohidrat dapat memengaruhi penampilan dan kesehatan seseorang?

Penjelasan tentang 'Carb Face'

Menurut laporan dari The Global Times, istilah 'carb face' merujuk pada keyakinan bahwa konsumsi karbohidrat dapat menyebabkan berbagai perubahan pada penampilan wajah, seperti wajah yang tampak sembap, kulit yang kendur atau kusam, munculnya jerawat, serta garis rahang yang tidak terlihat tegas. Namun, Cui Yongqiang, seorang profesor di Beijing Guang'anmen Hospital, menyatakan bahwa tidak ada alasan untuk langsung menghubungkan konsumsi makanan bertepung dengan perubahan penampilan seseorang.

Faktanya, karbohidrat merupakan bagian penting dari pola makan sehari-hari. Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi dan menyediakan berbagai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Zhu Yi, seorang profesor madya di China Agricultural University, menambahkan bahwa anggapan bahwa karbohidrat membuat seseorang tampak kurang menarik atau tidak sehat tidak memiliki dukungan bukti ilmiah. Ia menjelaskan bahwa pola makan yang seimbang harus mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam proporsi yang tepat. Tidak ada makanan yang secara otomatis membuat seseorang menjadi 'jelek'. Yang berbahaya justru adalah pola makan yang tidak seimbang dan kecemasan yang muncul akibat tren di media sosial.

Dampak Diet Rendah Karbohidrat

Para ahli juga mengingatkan bahwa tren 'carb face' dapat berpotensi membahayakan kesehatan fisik dan mental. Menghindari karbohidrat dalam jangka panjang untuk tujuan menurunkan berat badan atau terlihat lebih muda dapat menyebabkan kelelahan, mudah marah, suasana hati yang buruk, hingga masalah kesehatan yang lebih serius. Kekurangan asupan karbohidrat dapat mengakibatkan tubuh kekurangan energi, yang dapat mengganggu fungsi organ dan otak. Oleh karena itu, membatasi karbohidrat secara ketat dalam waktu lama bukanlah cara yang aman atau berkelanjutan untuk menjaga penampilan atau kesehatan.

Di sisi lain, para ahli berpendapat bahwa mengaitkan makanan seperti nasi atau roti kukus dengan standar kecantikan hanya akan menambah kecemasan di masyarakat. Mereka menekankan bahwa kecantikan tidak memiliki satu standar yang berlaku untuk semua orang. Kesehatan, rasa percaya diri, sikap positif, dan keunikan setiap individu juga merupakan bagian dari kecantikan. Dengan menerima diri sendiri dan menghargai perbedaan, seseorang dapat terhindar dari kecemasan yang tidak perlu akibat tekanan dari tren di media sosial.

Walaupun demikian, ahli juga mengingatkan bahwa pola makan sehat tidak berarti menghilangkan karbohidrat sepenuhnya. Mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat olahan, seperti nasi putih dan tepung terigu dalam jumlah berlebihan, memang dapat berdampak negatif bagi kesehatan. Sebagai alternatif, masyarakat disarankan untuk lebih banyak mengonsumsi biji-bijian utuh seperti oat dan quinoa, kacang-kacangan, serta umbi-umbian seperti ubi jalar dan talas. Mengombinasikan berbagai sumber karbohidrat ini dapat meningkatkan asupan serat dan membantu memperlambat kenaikan kadar gula darah. Selain itu, menjaga pola makan seimbang, tidur yang cukup, rutin berolahraga, dan memiliki pola pikir positif tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan.

Artikel Terkait