Nasional

Gol A Gong Kembali Ditetapkan Sebagai Duta Baca Indonesia 2026

Sastrawan Gol A Gong terpilih kembali sebagai Duta Baca Indonesia untuk tahun 2026, dalam upaya memperkuat budaya baca dan literasi di masyarakat.

D
Darma Yudhistira
18 May 2026 8 pembaca
Gol A Gong Kembali Ditetapkan Sebagai Duta Baca Indonesia 2026
Sastrawan Heri Hendrayana Harris atau Gol A Gong dikukuhkan jadi Duta Baca Indonesia 2026. (Liputan6.com/ Dok Ist)

Heri Hendrayana Harris, yang lebih dikenal sebagai Gol A Gong, kembali diangkat sebagai Duta Baca Indonesia (DBI) untuk tahun 2026. Pengukuhan ini dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026. Penunjukan ini merupakan bagian dari upaya Perpusnas untuk memperkuat budaya membaca dan gerakan literasi di masyarakat secara berkelanjutan.

Program Duta Baca Indonesia merupakan salah satu inisiatif unggulan dari Perpusnas yang bertujuan menghadirkan sosok-sosok inspiratif untuk mendorong masyarakat berpartisipasi aktif dalam meningkatkan minat baca. Melalui program ini, Perpusnas berupaya melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam gerakan literasi yang bersifat kolaboratif dan berdampak.

Komitmen Melanjutkan Misi Literasi

Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menyatakan bahwa penugasan kembali Gol A Gong sebagai DBI untuk tahun 2026 merupakan langkah untuk melanjutkan misi penguatan budaya baca dan literasi di Indonesia. "Kami lanjutkan misinya karena ini adalah misi yang mulia," ujarnya. Pengukuhan ini juga merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi dan kontribusi Gol A Gong dalam mempromosikan budaya literasi di berbagai daerah selama masa jabatannya sebagai DBI periode 2021–2025.

Menurut E. Aminudin, sosok seperti Gol A Gong sangat penting untuk menjaga semangat gerakan literasi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat ini. Ia menekankan bahwa gerakan literasi memerlukan penggerak yang dapat hadir langsung di masyarakat serta membangun jaringan kolaborasi lintas komunitas. Gol A Gong telah berperan aktif dalam melibatkan berbagai lapisan masyarakat dalam gerakan literasi, termasuk Taman Bacaan Masyarakat, pemerintah daerah, penulis, dan komunitas literasi di seluruh Indonesia.

Harapan untuk Masa Depan Gerakan Literasi

Di tahun 2026, Program DBI akan dilaksanakan dengan skema non-APBN. Meskipun demikian, Kepala Perpusnas berharap semua kegiatan yang bertujuan untuk membudayakan kegemaran membaca dapat dilakukan secara kreatif, kolaboratif, dan memberikan dampak yang luas bagi masyarakat. "Saya berharap tugas ini bisa dikerjakan dengan tetap sepenuh hati walaupun pro bono," ungkapnya.

Sementara itu, Gol A Gong mengungkapkan kesediaannya untuk melanjutkan amanah sebagai DBI tahun 2026, karena ingin menunjukkan bahwa gerakan literasi harus berasal dari kepedulian terhadap masyarakat. "Gerakan literasi memang harus muncul dari hati. Persoalan insentif mungkin bonus. Saya ingin memberi contoh kepada Relawan Literasi Masyarakat bahwa kerja-kerja literasi harus dijalankan dengan kesungguhan," tuturnya. Ia menekankan bahwa menjadi berguna jauh lebih penting daripada sekadar menjadi orang penting.

Gol A Gong berharap agar program DBI dan Relawan Literasi Masyarakat dapat terus diperkuat di masa mendatang, mengingat peran strategis mereka dalam membangun budaya baca di masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya perpustakaan dan gerakan literasi untuk tetap berada di garis depan dalam menghadapi tantangan rendahnya kapasitas literasi bangsa.

Gol A Gong mendorong Relawan Literasi Masyarakat untuk tidak hanya fokus pada tugas administratif, tetapi juga untuk terus meningkatkan kapasitas diri, kompetensi, konsistensi, dan jaringan kolaborasi di daerah masing-masing. Ia juga menyoroti pentingnya membangun citra dan jaringan gerakan literasi di era digital agar keberadaan Relawan Literasi Masyarakat semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Dalam kesempatan tersebut, Gol A Gong juga memaparkan rencana kolaborasi penulisan buku bersama Relawan Literasi Masyarakat yang ditargetkan terbit pada peringatan Hari Kunjung Perpustakaan, 14 September 2026. Buku ini dirancang sebagai ruang untuk berbagi gagasan, pengalaman, dan praktik baik gerakan literasi dari berbagai daerah di Indonesia.

Artikel Terkait