Ekonomi

Harga Emas Tertekan, Pasar Tunggu Hasil Pertemuan AS-China

Harga emas global mengalami penurunan pada perdagangan Kamis, dipengaruhi oleh penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak. Pelaku pasar juga menantikan hasil dari pertemuan antara Presiden AS dan Pr...

V
Vina Maharani
15 May 2026 12 pembaca
Harga Emas Tertekan, Pasar Tunggu Hasil Pertemuan AS-China
Ilustrasi Emas Dalam Bentuk Perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com

Harga emas di pasar internasional menunjukkan penurunan pada perdagangan yang berlangsung pada hari Kamis, disebabkan oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak setelah munculnya laporan mengenai penyitaan dan tenggelamnya kapal di wilayah Timur Tengah. Di sisi lain, pelaku pasar juga menunggu perkembangan dari pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berlangsung di Beijing.

Harga emas spot tercatat turun 0,4 persen menjadi USD4.669,48 per ons pada pukul 01.48 WIB. Sementara itu, emas berjangka untuk kontrak Juni ditutup dengan penurunan 0,4 persen ke level USD4.685,30 per ons, menurut laporan dari Bengaluru pada Kamis, 14 Mei atau Jumat, 15 Mei 2026 dini hari WIB. Penguatan indeks dolar AS yang mencapai 0,3 persen membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang devisa lainnya, yang pada gilirannya mengurangi minat terhadap logam mulia yang selama ini dianggap sebagai aset aman.

Kenaikan Harga Minyak dan Dampaknya

Di saat yang bersamaan, harga minyak dunia justru mengalami kenaikan setelah beredar kabar mengenai tenggelamnya kapal kargo asal India dan penyitaan kapal lain di dekat perairan Uni Emirat Arab yang dilaporkan tengah menuju wilayah Iran. Sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa kapal-kapal dari China berhasil melintasi Selat Hormuz.

Peter Grant, Wakil Presiden Zaner Metals, berpendapat bahwa dinamika yang terjadi di Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang mendukung penguatan harga minyak dan meningkatkan ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat akan bertahan lebih lama. Grant menambahkan bahwa kombinasi antara kenaikan harga energi dan inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat membuat dolar AS semakin kuat, yang pada akhirnya menekan harga emas di pasar global.

Prospek Suku Bunga dan Geopolitik

Prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve juga semakin tidak jelas setelah data inflasi produsen dan konsumen di Amerika Serikat untuk bulan April menunjukkan lonjakan yang signifikan, yang dipicu oleh sektor energi. Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat kini semakin berkurang.

Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, memperingatkan bahwa harga emas masih berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut jika ketegangan di Timur Tengah tidak menunjukkan tanda-tanda deeskalasi. Ia menilai bahwa gangguan pada rantai pasokan dan distribusi energi global dapat menyebabkan kenaikan biaya energi yang lebih agresif, serta menciptakan tekanan inflasi tambahan di berbagai negara.

Walaupun emas sering dianggap sebagai instrumen untuk melindungi nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga sering kali menjadi sentimen negatif bagi logam ini karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya. Dalam konteks geopolitik, Xi Jinping menginformasikan kepada Donald Trump bahwa diskusi perdagangan antara China dan Amerika Serikat menunjukkan kemajuan positif, tetapi juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan mengenai Taiwan dapat mengganggu hubungan kedua negara. Menariknya, ringkasan resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai pertemuan tersebut tidak menyentuh isu Taiwan sama sekali.

Sementara itu, pemerintah India mengumumkan pembatasan impor emas maksimal 100 kilogram dalam skema otorisasi awal yang selama ini digunakan untuk mendukung sektor industri tertentu. Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot mengalami penurunan sebesar 4,1 persen menjadi USD84,36 per ons. Harga platinum juga turun 3,3 persen menjadi USD2.066,75 per ons, sedangkan paladium melemah 3,5 persen menjadi USD1.447,73 per ons.

Artikel Terkait