Politik

Heru Subagia: Jokowi Kembali ke Zona Nyaman, PSI Kalah Sebelum Bertanding

Pengamat politik Heru Subagia menilai keputusan Jokowi membatalkan safari politik di Jawa Barat dan memilih NTT menunjukkan perubahan strategi politik yang membawa dampak negatif bagi PSI.

E
Eira Orelia
20 July 2026 27 pembaca
Pengamat politik dan ekonomi, Heru Subagia
Pengamat politik dan ekonomi, Heru Subagia

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pengamat politik dan ekonomi, Heru Subagia, mengkritisi keputusan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang membatalkan agenda safari politik di Jawa Barat dan memilih untuk berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Heru berpendapat bahwa langkah tersebut menunjukkan perubahan strategi politik yang membawa Jokowi kembali ke wilayah yang selama ini menjadi basis dukungannya.

Heru mengungkapkan, "Saya mengkritisi tim pemenangan dari PSI yang didukung relawan Jokowi dan afiliasinya Gibran di dalamnya. Mereka terlalu cengeng." Menurutnya, pilihan agenda politik yang diambil Jokowi hanya berfokus pada daerah yang relatif aman secara elektoral, sehingga kegiatan safari politik hanya berkutat di zona nyaman.

Rekam Jejak Kemenangan Jokowi di NTT

Heru kemudian mengulas hasil pemilihan presiden di NTT yang menunjukkan dukungan besar terhadap Jokowi. Ia mengingatkan bahwa pada Pilpres 2014, Jokowi memperoleh sekitar 66 persen suara di provinsi tersebut. "Seperti diketahui, NTT ini dalam Pilpres 2014 Jokowi berhasil memperoleh suara 66 persen," ucapnya. Dukungan tersebut bahkan meningkat pada Pilpres 2019, di mana Jokowi memperoleh hampir 88 persen suara dengan total pemilih empat juta pada 2024 kemarin.

Berdasarkan capaian tersebut, Heru menyebut NTT sebagai salah satu basis politik Jokowi. "Artinya, NTT menjadi basis pemilih dan pengaruh secara pribadi Jokowi," imbuhnya. Ia menilai wilayah tersebut sudah menjadi kantong suara Jokowi, dan secara data serta pengaruh, NTT bisa dikatakan sudah dimenangkan.

Jokowi Masuk ke Zona Aman

Heru mengaitkan keputusan safari politik ke NTT dengan data pemilih pada Pemilu 2024. Ia berpendapat bahwa keputusan tersebut menunjukkan Jokowi memilih daerah yang relatif aman secara politik. "Jokowi (sekarang) masuk ke zona aman karena menjadi pemenang di dua Pilpres di NTT," ujarnya. Namun, ia juga mencatat bahwa jumlah pemilih di NTT tidak sebesar di sejumlah provinsi lain.

Heru berujar bahwa strategi yang ditempuh tim Jokowi menunjukkan perubahan arah dalam menghadapi dinamika politik nasional. "Hal yang sifatnya strategi pemenangan yang dilakukan tim Jokowi telah mendorong memasuki pentas politik pinggiran," tuturnya.

Safari Politik di Jawa Barat Batal

Heru menyinggung batalnya agenda safari politik Jokowi di Jawa Barat, yang menurutnya memperkuat anggapan bahwa kubu Jokowi kalah dalam pertarungan opini di ruang publik. "Safari politik yang dilakukan di NTT secara umum bisa dikatakan sebagai kekalahan peperangan di media sosial," timpalnya. Ia juga menyoroti penolakan yang sempat muncul terhadap rencana kunjungan Jokowi ke Jawa Barat.

Heru menegaskan bahwa safari politik ke Jawa Barat bisa menjadi momentum untuk menjawab berbagai opini yang berkembang. "Safari politik yang ditolak sebagai bagian dari wacana yang digaungkan sebagian masyarakat Jabar akan dibuktikan dengan rencana safari politik di Jabar," jelasnya.

Keputusan ke NTT Legitimasi Kekalahan Opini

Heru menekankan bahwa perubahan agenda tersebut melahirkan persepsi berbeda di tengah masyarakat. "Jokowi telah melakukan safari dan diputuskan akhir bulan harus ke NTT, sehingga menjadikan opini masyarakat mengatakan secara proxy kalah untuk mempertahankan target politiknya," kata Heru. Ia menyebut langkah itu sebagai kegagalan dalam konteks persaingan politik nasional.

Heru menambahkan bahwa keputusan memilih NTT sebagai tujuan safari politik memperkuat anggapan bahwa kubu Jokowi kalah dalam perang opini. "Safari Jokowi ke NTT adalah keputusan yang melegalisasi atau memberikan legitimasi atas kekalahan perang opini," tandasnya. Ia juga menyebut PSI mengambil langkah untuk melindungi posisi politik Jokowi, yang menunjukkan kondisi politik yang lemah karena berada dalam zona nyaman.

Artikel Terkait