Jakarta - Hampir setiap orang pernah mengalami situasi di mana mereka harus menahan buang air kecil, baik karena dalam perjalanan, sibuk bekerja, menghadiri rapat, atau kesulitan menemukan toilet yang bersih. Meskipun terlihat sepele, kebiasaan ini dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan kandung kemih jika dilakukan secara berulang.
Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai mengalami masalah dalam mengontrol kandung kemih. Kondisi ini lebih umum terjadi pada wanita hamil dan pria lanjut usia yang memiliki masalah prostat. Pertanyaannya, apakah menahan kencing dalam jangka waktu lama dapat merusak kandung kemih? Berapa banyak urine yang dapat ditampung oleh kandung kemih?
Kapasitas Kandung Kemih
Dokter spesialis urologi Chong Weiliang dari Advanced Urology Associates di Singapura menjelaskan bahwa kapasitas kandung kemih bervariasi antara individu. Secara umum, kandung kemih orang dewasa yang sehat dapat menampung antara 300 hingga 500 mililiter urine, yang setara dengan 1 hingga 2 gelas. Pada volume tersebut, biasanya akan muncul dorongan yang kuat untuk buang air kecil. Beberapa orang bahkan mulai merasakan keinginan untuk buang air kecil saat kandung kemih terisi sekitar 200-300 mililiter urine.
Dalam beberapa kasus, kapasitas kandung kemih dapat mencapai 600 hingga 800 mililiter. Namun, jika volume urine melebihi angka tersebut, rasa tidak nyaman biasanya akan mulai muncul. "Banyak yang beranggapan pria memiliki kandung kemih lebih besar dibandingkan wanita. Menurut para ahli, kapasitas kandung kemih pria memang sedikit lebih besar karena ukuran tubuh yang umumnya lebih besar. Namun perbedaannya tidak terlalu signifikan," ujarnya.
Proses Produksi Urine
Setelah mengonsumsi air, tubuh membutuhkan waktu sekitar 15-30 menit untuk mulai memproduksi urine pada individu yang sehat dan terhidrasi dengan baik. Ginjal terus-menerus menyaring darah, sehingga produksi urine adalah proses yang berkelanjutan, bukan hanya hasil dari air yang diminum langsung menuju kandung kemih. Namun, dalam kondisi tertentu, proses ini bisa berlangsung lebih lama, antara 30 menit hingga 2 jam, terutama ketika tubuh mengalami dehidrasi.
"Saat kekurangan cairan, tubuh akan berusaha mempertahankan cadangan air untuk memenuhi kebutuhan sel dan jaringan. Akibatnya, produksi urine menjadi lebih lambat," jelas dr Chong.
Frekuensi Buang Air Kecil
Beberapa faktor dapat memengaruhi frekuensi buang air kecil. Ketika seseorang duduk atau berdiri terlalu lama, cairan tubuh cenderung menumpuk di kaki dan pergelangan kaki, yang dapat menyebabkan pembengkakan. Ketika berbaring, cairan tersebut kembali ke aliran darah, meningkatkan volume darah dan merangsang ginjal untuk memproduksi lebih banyak urine. Hal yang sama juga dapat terjadi saat berada di pesawat, di mana suhu kabin yang dingin dan kelembapan rendah dapat menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil.
Dr Chong memperingatkan bahwa menahan kencing dalam waktu lama dan berulang kali dapat menyebabkan kandung kemih meregang melebihi kapasitas normal, yang dikenal sebagai overdistensi kandung kemih. "Ketika kondisi ini terjadi, otot kandung kemih dapat melemah sehingga tidak mampu mengosongkan urine dengan sempurna," tambahnya.
Risiko Menahan Kencing
Urine yang tertinggal dalam kandung kemih dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK). Selain itu, seseorang mungkin kehilangan sensitivitas terhadap rasa penuh pada kandung kemih, sehingga tidak menyadari dorongan untuk buang air kecil. Meskipun terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa pecahnya kandung kemih akibat menahan kencing adalah kondisi yang sangat jarang terjadi. "Kasus pecahnya kandung kemih umumnya berkaitan dengan trauma berat, keracunan alkohol, sumbatan saluran kemih, atau retensi urine yang parah, bukan karena kebiasaan menahan kencing sesekali dalam aktivitas sehari-hari," jelasnya.
Frekuensi buang air kecil yang normal pada orang dewasa yang sehat berkisar antara 4 hingga 8 kali per hari. Sebagian besar orang akan buang air kecil setiap 3 hingga 4 jam saat terjaga. Namun, jika seseorang harus bangun lebih dari satu kali setiap malam untuk buang air kecil dan kondisi tersebut mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis mungkin diperlukan.
Menjaga Kesehatan Kandung Kemih
Para ahli menekankan pentingnya merespons dorongan buang air kecil dan tidak membiasakan diri menundanya secara berulang. Meskipun kebanyakan orang dewasa sehat dapat menahan kencing selama beberapa jam sesekali, kebiasaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan terus-menerus. Untuk menjaga kesehatan kandung kemih, dokter menyarankan agar individu:
- Mengosongkan kandung kemih setelah bangun tidur.
- Tidak menahan kencing terlalu lama.
- Buang air kecil sebelum perjalanan jauh atau sebelum tidur.
- Memastikan asupan cairan tubuh cukup sepanjang hari.
Menariknya, terlalu sering pergi ke toilet untuk berjaga-jaga juga tidak disarankan, karena kebiasaan ini dapat mengurangi kapasitas fungsional kandung kemih seiring waktu.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Beberapa gejala yang perlu mendapatkan perhatian medis meliputi nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil, adanya darah dalam urine, infeksi saluran kemih yang berulang, perubahan mendadak pada pola buang air kecil, sulit menahan kencing, dan aliran urine yang lemah. Jika seseorang merasa kandung kemih tidak kosong sepenuhnya setelah buang air kecil, atau terbangun berkali-kali di malam hari untuk buang air kecil, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Dr Chong menegaskan bahwa keberadaan darah dalam urine, meskipun hanya sekali dan tanpa rasa sakit, tetap harus diperiksakan, terutama pada orang lanjut usia atau perokok. "Berbagai keluhan saluran kemih yang menetap tidak boleh dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Banyak gangguan kandung kemih dan saluran kemih yang dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi sejak dini," tutupnya.