Nasional

Kedua Pihak Hentikan Serangan, Upaya Diplomatik Terus Berlanjut

Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk menghentikan serangan selama dua malam berturut-turut, sementara saluran diplomatik tetap terbuka untuk mencegah konflik yang semakin meluas.

J
Jaya Abdi
27 July 2026 18 pembaca
AS Setop Serangan Dua Malam Berturut-turut, Iran Ikut Hentikan Operasi
AS Setop Serangan Dua Malam Berturut-turut, Iran Ikut Hentikan Operasi

Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menghentikan aksi saling serang selama dua malam berturut-turut. Langkah ini diambil untuk mencegah eskalasi pertempuran yang telah berlangsung hampir lima bulan setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania yang mengakibatkan sedikitnya tiga korban jiwa. Juru bicara angkatan darat Iran, Mohammad Akraminia, mengonfirmasi penghentian operasi militer tersebut melalui siaran televisi pemerintah pada Minggu (28/7/2026).

“Serangan-serangan [AS] ini berlanjut hingga dua malam yang lalu, tetapi selama dua malam terakhir orang-orang Amerika telah menghentikan serangan mereka,” ungkap Akraminia. Iran juga memutuskan untuk menghentikan operasinya sebagai bagian dari strategi balasan, seiring dengan berkurangnya serangan dari pihak AS.

Strategi Militer dan Pertimbangan AS

Menurut laporan dari The Guardian, pejabat militer senior AS merekomendasikan kepada Presiden Donald Trump untuk menghentikan kampanye pengeboman, karena dianggap telah mencapai batas efektivitas. Laksamana Bradley Cooper menyatakan bahwa daftar sasaran di Iran hampir habis, dan melanjutkan operasi tempur hanya akan memberikan dampak yang minimal. Pejabat administrasi juga memberikan peringatan mengenai berkurangnya stok amunisi, termasuk pencegat Patriot dan rudal jelajah Tomahawk.

Pemberitaan dari NPR menjelaskan bahwa penghentian serangan ini terjadi setelah hampir dua pekan operasi AS yang menargetkan lokasi pesisir dan infrastruktur Iran sebagai respons terhadap penembakan kapal-kapal di Selat Hormuz. Pentagon belum mengungkapkan waktu pasti penghentian tersebut, sementara Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menegaskan bahwa Trump tetap mengutamakan jalur diplomatik, meskipun seluruh opsi tetap tersedia jika Iran kembali melakukan tindakan teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutunya.

Upaya Mediasi dan Dampak Regional

Laporan dari Axios menunjukkan bahwa penilaian Cooper turut memengaruhi keputusan Trump untuk menangguhkan serangan setelah peringatan dari Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Joint Chiefs of Staff, Jenderal Dan Caine, mengenai risiko dimulainya kembali operasi militer dalam pertemuan di Ruang Oval pada Jumat (24/7/2026). Trump kemudian membatalkan rencana serangan baru dan menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan semakin serius, meskipun ia mengaku belum yakin bahwa Iran siap untuk mencapai kesepakatan.

Dalam acara Meet the Press yang disiarkan oleh NBC, Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa serangan tambahan belum sepenuhnya dikesampingkan, dan Presiden juga tetap membuka semua opsi. Seorang pejabat regional yang terlibat dalam mediasi menyebutkan bahwa jeda saling serang ini merupakan sinyal positif yang dapat membantu upaya deeskalasi. Kedua pihak berusaha untuk memulihkan gencatan senjata sementara yang ditandatangani pada pertengahan Juni, yang kini memasuki paruh kedua masa 60 hari.

Diplomat senior Iran dan Oman sedang membahas pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi bahwa mediator terus bekerja, dan pembicaraan dengan Oman menunjukkan kemajuan. Status selat belum berubah, dan kesepakatan sementara tetap mengizinkan Iran untuk mengawasi pelayaran, sementara juru bicara angkatan darat Iran menilai bahwa AS tidak memiliki strategi yang jelas dan mengalami kelelahan dalam pengambilan keputusan strategis.

Militer AS menyatakan bahwa blokade laut terhadap Iran masih berlaku. Belasan kapal komersial telah dialihkan, dua kapal dinonaktifkan, dan dua kapal lainnya dinaiki oleh pasukan yang tetap siaga penuh. Kekhawatiran akan meluasnya konflik juga menjangkau Selat Bab el-Mandeb setelah muncul ancaman blokade pelayaran Arab Saudi oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan untuk bertemu Trump di Gedung Putih setelah menggelar sesi kabinet keamanan. Netanyahu mendesak agar tekanan terhadap program nuklir dan rudal Iran terus dilanjutkan, dan dalam wawancara di Fox News, ia menyatakan dukungannya terhadap upaya Trump untuk melemahkan Iran dan mengakhiri program nuklirnya tanpa kembali ke pertempuran militer yang intens. Ia juga memperingatkan bahwa serangan susulan dari Iran atau proksinya terhadap Israel akan menjadi kesalahan besar.

AS dan Inggris di bawah kepemimpinan PM Andy Burnham juga sedang mempertimbangkan pertemuan tingkat tinggi di London untuk membahas perlindungan pelayaran serta pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Inggris tetap menolak penggunaan pangkalannya untuk operasi ofensif terhadap Iran.

Artikel Terkait