PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan kenaikan saham sebesar 3,70 persen, mencapai level Rp1.540, setelah sebelumnya melonjak 6,83 persen ke Rp1.485. Dua hari berturut-turut berada di zona hijau tentu menjadi kabar baik, namun PGAS masih jauh dari kondisi pemulihan. Sejak awal tahun, saham ini telah terkoreksi sekitar 22 persen dan menjadi salah satu emiten BUMN yang paling tertekan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kenaikan dalam dua hari terakhir ini menandakan awal pembalikan arah atau hanya sekadar rebound teknis di tengah sentimen pasar yang masih berat.
Melihat pergerakan harga dalam seminggu terakhir, volatilitas saham PGAS cukup tinggi. Pada 2 Juni, saham ini berada di level Rp1.825, sebelum turun menjadi Rp1.780 pada 3 Juni dan Rp1.720 pada 4 Juni. Tekanan semakin meningkat pada 5 Juni ketika harga anjlok 11,63 persen menjadi Rp1.520. Penurunan tidak berhenti di situ, pada 8 Juni, PGAS kembali kehilangan 8,55 persen dan ditutup di Rp1.390. Namun, setelah itu, terjadi pembalikan arah dengan kenaikan 6,83 persen pada 9 Juni, diikuti dengan penguatan 3,70 persen pada 10 Juni ke level Rp1.540.
Struktur Transaksi yang Menarik
Menariknya, kebangkitan saham PGAS diikuti oleh perubahan struktur transaksi yang cukup sehat. Pada perdagangan 10 Juni, saham PGAS dibuka di Rp1.485, sempat mencapai level tertinggi Rp1.560 sebelum ditutup di Rp1.540 dengan harga terendah Rp1.440. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp90,88 miliar dengan volume mencapai 606,51 juta saham dan frekuensi transaksi sebanyak 11.900 kali. Struktur orderbook juga menunjukkan gambaran yang menarik, dengan antrean beli mencapai total 141.737 lot, lebih dari tiga kali lipat antrean jual yang hanya sekitar 41.762 lot. Bid terbesar berada di level Rp1.525 sebanyak 5.909 lot, diikuti Rp1.500 sebanyak 5.297 lot dan Rp1.510 sebanyak 3.527 lot.
Sementara itu, di sisi penawaran, offer terbesar berada di level Rp1.550 sebanyak 8.226 lot, sedangkan level Rp1.545 hanya memiliki antrean sekitar 1.998 lot. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat akumulasi mulai muncul di bawah harga penutupan, sementara tekanan jual terlihat relatif lebih terbatas. Secara psikologis, struktur orderbook seperti ini biasanya menunjukkan bahwa investor mulai berani mengoleksi saham ketika harga masih berada di area diskon.
Tantangan yang Masih Ada
Meski demikian, tekanan fundamental belum sepenuhnya hilang. Sepanjang tahun ini, PGAS menghadapi ketidakpastian kebijakan energi nasional dan kenaikan harga energi yang berdampak pada volume distribusi gas. Pada kuartal pertama 2026, volume distribusi gas tercatat turun sekitar 8 persen secara kuartalan, sementara margin juga tergerus akibat biaya pembelian LNG yang mengikuti pergerakan Indonesia Crude Price (ICP). Dalam menghadapi tantangan tersebut, manajemen mulai mengalihkan fokus bisnis ke sektor midstream dan downstream. Salah satu langkah strategis yang banyak dibahas adalah potensi divestasi aset hulu melalui Saka Energi, meskipun hingga kini belum ada jadwal resmi yang diumumkan.
PGAS juga masih menghadapi ketidakpastian hukum terkait penyelesaian sengketa LNG dengan Guvnor Singapore. Perusahaan ini bahkan telah membentuk pencadangan sekitar 55 persen dari total nilai gugatan, sebuah langkah konservatif yang menunjukkan bahwa perusahaan telah mengantisipasi potensi risiko tersebut. Namun, di balik berbagai sentimen negatif ini, valuasi PGAS mulai terlihat menarik. Saat ini, saham PGAS diperdagangkan di kisaran tujuh kali price earning ratio (PER), yang tergolong murah dibandingkan rata-rata historis maupun sejumlah perusahaan energi di kawasan.
Selain itu, terdapat harapan baru dari wacana dukungan institusi milik negara yang berpotensi melakukan pembelian kembali saham-saham BUMN strategis untuk menjaga stabilitas pasar. Jika skenario tersebut terealisasi, PGAS menjadi salah satu nama yang berpotensi mendapatkan sentimen positif. Data kepemilikan saham juga menunjukkan kondisi yang cukup solid. Per Mei 2026, PT Pertamina (Persero) masih menguasai 56,964 persen saham PGAS, sementara porsi saham publik tetap stabil di 43,03 persen. Jumlah pemegang saham justru bertambah sebanyak 638 investor menjadi 73.495 investor, dengan total saham beredar tetap 24,24 miliar lembar. Ini menunjukkan bahwa di tengah koreksi harga yang mencapai 22 persen sepanjang tahun, semakin banyak investor yang memilih untuk masuk ke saham ini daripada meninggalkannya.