Ekonomi

GMFI Targetkan Pertumbuhan Pasar MRO Rp34 Triliun, Laba Kuartal I 2026 Naik 78 Persen

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) optimis mempertahankan pertumbuhan di tahun 2026 dengan memanfaatkan peluang di industri perawatan pesawat yang terus berkembang. Laba perusahaan pa...

E
Eko Prasetyo
11 June 2026 7 pembaca
GMFI Targetkan Pertumbuhan Pasar MRO Rp34 Triliun, Laba Kuartal I 2026 Naik 78 Persen
GMFI Bidik Lonjakan Pasar MRO Rp34 Triliun, Laba Kuartal I 2026 Melonjak 78 Persen

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk, yang dikenal dengan kode saham GMFI, menunjukkan optimisme dalam mempertahankan pertumbuhan yang positif sepanjang tahun 2026. Hal ini terjadi di tengah prospek yang cerah untuk industri perawatan pesawat, atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO), baik di tingkat global maupun domestik. Perseroan telah menyiapkan berbagai strategi untuk ekspansi, diversifikasi bisnis, serta penguatan manajemen risiko guna memanfaatkan peluang pasar yang terus berkembang.

Dalam acara Public Expose, GMFI mempresentasikan kinerja keuangan, strategi pengembangan usaha, serta arah pertumbuhan perusahaan ke depan. Pada kuartal pertama tahun 2026, GMFI mencatat pendapatan sebesar USD114,94 juta, meningkat 20,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Seiring dengan kenaikan pendapatan, laba bersih GMFI juga melonjak menjadi USD6,76 juta, tumbuh 78,28 persen secara tahunan.

Strategi Pertumbuhan dan Peluang Pasar

Manajemen GMFI menjelaskan bahwa pertumbuhan yang signifikan ini didorong oleh strategi ekspansi pasar, peningkatan kualitas dan kapasitas layanan, serta optimalisasi operasional melalui program perbaikan berkelanjutan. Prospek industri MRO dianggap sangat menjanjikan, dengan GMFI mengungkapkan bahwa industri MRO global telah sepenuhnya pulih dari dampak pandemi, diperkirakan mencapai nilai pasar USD114 miliar pada 2024 dan akan meningkat menjadi USD156 miliar dalam sepuluh tahun ke depan.

Fenomena yang dikenal sebagai MRO Supercycle muncul akibat meningkatnya kebutuhan perawatan pesawat, yang disebabkan oleh tingginya utilisasi armada dan bertambahnya usia pesawat di berbagai negara. Di sisi lain, kapasitas industri MRO global yang masih terbatas membuka peluang besar bagi pelaku usaha di sektor ini. Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu pasar penerbangan terbesar di dunia, dengan estimasi jumlah armada nasional meningkat dari sekitar 600 unit menjadi 974 unit pada tahun 2034.

Ekspansi dan Diversifikasi Bisnis

Pertumbuhan armada tersebut diperkirakan akan mendorong kebutuhan jasa MRO domestik hingga mencapai USD2,1 miliar atau sekitar Rp34 triliun pada tahun 2034. Segmen pemeliharaan mesin diperkirakan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 48 persen, diikuti oleh pemeliharaan komponen sebesar 23 persen dan pemeliharaan lini sebesar 20 persen. Selain itu, GMFI juga melihat potensi besar dari sektor pertahanan, terutama terkait dengan program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dijalankan pemerintah.

GMFI menilai posisi perusahaan sangat strategis untuk menangkap peluang di sektor ini. Namun, manajemen menekankan bahwa pertumbuhan jangka panjang tidak hanya bergantung pada ukuran pasar, tetapi juga pada kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko secara disiplin. Untuk mengurangi ketergantungan pada pelanggan dari grup, GMFI terus memperluas basis pelanggan dari kalangan non-grup, baik domestik maupun internasional, termasuk sektor pemerintah dan pertahanan.

Dalam upaya menjaga likuiditas, GMFI menerapkan empat langkah utama, yaitu memperkuat disiplin konversi kas, memprioritaskan pengelolaan modal kerja, mengelola kewajiban secara disiplin, serta memperkuat struktur ekuitas perusahaan. Memasuki fase pertumbuhan berikutnya, GMFI mengandalkan enam pendorong utama bisnis yang mencakup pertumbuhan industri penerbangan dan MRO, posisi strategis sebagai pemain regional, momentum pemulihan kinerja, diversifikasi usaha, disiplin pengelolaan risiko, serta upaya meningkatkan daya tarik saham di pasar modal.

Untuk mendukung target pertumbuhan, GMFI menjalankan sejumlah proyek ekspansi strategis sepanjang tahun 2026. Salah satunya adalah perluasan kapasitas pemeliharaan melalui kerja sama dengan PT Pelita Air Service di Bandar Udara Pondok Cabe, yang dijadwalkan beroperasi pada Juni 2026. Fasilitas ini akan digunakan untuk perawatan pesawat turboprop, ATR, serta helikopter Bell-412 dan jenis rotary wing lainnya.

GMFI juga memperluas jangkauan internasional melalui pengembangan fasilitas hanggar MRO di kawasan Timur Tengah dan Afrika melalui skema joint venture. Di dalam negeri, GMFI bersama Kementerian PPN/Bappenas dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) terus mengembangkan proyek Aerospace Park, yang diharapkan menjadi pusat industri dirgantara nasional di masa depan.

Selain fokus pada bisnis inti perawatan pesawat, GMFI juga memperkuat lini usaha aerostructure dan manufaktur komponen pesawat, didukung oleh kemampuan engineering dan sertifikasi AS9100. Melalui langkah ini, GMFI berupaya meningkatkan keterlibatan dalam rantai pasok industri dirgantara global dan menciptakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan.

GMFI juga terus memperkuat bisnis non-aviasi melalui pengembangan segmen Industrial Solutions dan Power Services. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari pelanggan di luar grup melalui ekspansi peluang usaha, akuisisi yang selektif, dan peningkatan kontrak berulang. Di sektor Pemerintah dan Pertahanan, GMFI mencatat sejumlah pencapaian penting, termasuk penyelesaian perawatan helikopter Bell-412 milik TNI Angkatan Darat.

Dengan prospek industri yang positif dan berbagai proyek ekspansi yang sedang berjalan, GMFI optimis dapat mempertahankan tren pertumbuhan sepanjang tahun ini. Perusahaan menargetkan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui penguatan kapasitas layanan, ekspansi pasar internasional, peningkatan kontribusi pelanggan non-grup, serta diversifikasi usaha dan peningkatan efisiensi operasional.

GMFI merupakan perusahaan penyedia jasa perbaikan, perawatan, dan overhaul pesawat terbesar di Indonesia. Sejak resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017, GMFI terus memperluas bisnis ke sektor power services dan industri pertahanan guna memperkuat posisinya sebagai perusahaan MRO yang kompetitif di tingkat global.

Namun, pada data perdagangan saham yang tercatat pada 11 Juni 2026, harga saham GMFI berada di level 51 per lembarnya, dengan freefloat di bawah ketentuan bursa yaitu 6,52 persen, sementara regulator mewajibkan perusahaan tercatat memiliki saham beredar minimal 15 persen.

Artikel Terkait