Kesehatan

Kisah Edi Utomo: Pemuda Tuban Berjuang Melawan Gagal Ginjal di Usia Muda

Edi Utomo, seorang pemuda berusia 26 tahun dari Tuban, mengalami gagal ginjal kronis stadium 5 dan rutin menjalani cuci darah. Ia membagikan pengalamannya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat te...

D
Darma Yudhistira
11 May 2026 9 pembaca
Kisah Edi Utomo: Pemuda Tuban Berjuang Melawan Gagal Ginjal di Usia Muda
Pemuda idap gagal ginjal di usia muda. (Foto: IG @edipaeji dengan izin yang bersangkutan)

Jakarta - Cerita Edi Utomo (26) menjadi viral di Instagram setelah ia membagikan pengalamannya berjuang melawan gagal ginjal kronis stadium 5 yang dialaminya di usia yang masih muda. Diagnosa pertama kali diterimanya pada tahun 2019, dan sejak saat itu ia harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu. Edi memperkirakan telah menjalani prosedur tersebut hampir 700 kali. Melalui akun Instagramnya @edipaeji, ia berharap kisahnya dapat memberikan pelajaran dan edukasi kepada masyarakat agar tidak mengalami hal serupa.

"Tujuan ngonten ya ingin membagikan pengalaman saya biar banyak orang yang nggak kena gagal ginjal seperti saya," ujar Edi saat dihubungi baru-baru ini.

Kebiasaan Makan Mi Instan yang Berbahaya

Edi menjelaskan bahwa ia mengalami gagal ginjal kronis stadium 5 akibat hipertensi yang disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi mi instan. Ia mengaku bahwa dulunya ia bisa mengonsumsi mi instan hampir setiap hari, bahkan lebih dari dua bungkus dalam satu waktu. Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak kecil.

"Aku nggak merokok dan nggak ngopi. Jadi yang menyebabkan hipertensi aku itu kebanyakan makan mi instan," katanya. "Mi instan itu kan bumbunya asin banget. Nah, natrium itu bikin tensi naik, jadi hipertensi. Aku kalau makan mi instan itu hampir setiap hari dan itu biasanya lebih dari satu. Itu terjadi selama aku masih kecil sampai gede," tambahnya, mengingatkan pentingnya memilih makanan segar dibandingkan makanan olahan.

Gejala yang Dialami Sebelum Diagnosa

Sebelum didiagnosis dengan gagal ginjal, Edi mengalami beberapa gejala awal. Ia merasakan tubuhnya sering meriang ketika berada di dekat kipas angin. Beberapa bulan setelah itu, ia merasakan penurunan tenaga yang drastis, sehingga sering merasa lelah tanpa alasan yang jelas.

"Sekitar 2-3 bulan dari yang kayak berasa meriang, ini tenaga juga habis, beda kayak biasanya," ceritanya. "Terus selang 3 bulanan, aku pulang ya itu muncul rasa mual muntah. Mual muntah sama kayak orang mau masuk angin gitu. Mau muntah, tapi nggak keluar muntahnya," lanjut Edi.

Awalnya, ia mengira gejala tersebut adalah masuk angin biasa dan sempat mengonsumsi obat untuk mengatasinya. Namun, kondisinya tidak kunjung membaik dan ia mulai merasakan nyeri di perut. Ketika diperiksakan, dokter awalnya mengira Edi mengalami masalah lambung. Setelah beberapa bulan mengonsumsi obat lambung, kondisi Edi tetap tidak membaik.

"Aku udah drop banget nggak kuat ngapa-ngapain. Aku dibawa ke RS di daerah tempatku, jadi baru ketahuan kalau aku sakit gagal ginjal kronis udah langsung stage 5," ungkapnya. "Tensi udah tinggi banget di 200-an, langsung stage 5 harus wajib cuci darah. Dan kalau gagal ginjal kronis karena hipertensi rata-rata nggak ada gejala, langsung drop gitu aja," tambahnya.

Kondisi Terkini dan Pembatasan yang Dijalani

Saat ini, kondisi Edi sudah jauh lebih stabil setelah rutin menjalani cuci darah. Namun, ia mengakui bahwa terkadang ia masih merasa mudah lelah saat beraktivitas. "Gejala yang dirasakan sekarang mungkin gampang capek aja. Cuci darah seminggu 2 kali. Total udah hampir 700 kali," katanya.

Edi juga rutin mengonsumsi obat hipertensi dan harus mematuhi beberapa pantangan terkait makanan dan aktivitas fisik. Ia harus membatasi asupan makanan yang tinggi kalium, fosfor, purin, kolesterol, dan natrium. Beberapa jenis sayur dan buah, seperti belimbing, tidak bisa ia konsumsi. Selain itu, ia juga dilarang mengonsumsi daging, susu, kacang, serta produk turunannya, dan makanan kemasan.

"Untuk aktivitas nggak boleh angkat-angkat berat di lengan yang ada ciminonya (akses pembuluh darah untuk cuci darah)," tutup Edi.

Artikel Terkait