Kesehatan

--- Kisah Inspiratif Perempuan Muda Jakarta Berjuang Melawan Gagal Ginjal Akibat Autoimun ---

--- Seorang perempuan berusia 27 tahun di Jakarta Pusat harus menjalani cuci darah akibat gagal ginjal stadium 5 yang disebabkan oleh lupus. Ia membagikan pengalamannya di media sosial untuk memberika...

A
Ananta Prana
20 June 2026 20 pembaca
Kisah wanita Gen Z di Jakpus kena gagal ginjal. (Foto: @thecinnamonroli dengan izin yang bersangkutan)
Kisah wanita Gen Z di Jakpus kena gagal ginjal. (Foto: @thecinnamonroli dengan izin yang bersangkutan)
---TITLEEXCERPT--- Seorang perempuan berusia 27 tahun di Jakarta Pusat harus menjalani cuci darah akibat gagal ginjal stadium 5 yang disebabkan oleh lupus. Ia membagikan pengalamannya di media sosial untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. ---CONTENT---

Jakarta - Di media sosial, viral sebuah kisah tentang seorang perempuan berusia 27 tahun dari Jakarta Pusat yang menjalani cuci darah akibat gagal ginjal kronis stadium 5. Perempuan bernama Rolivia Virginia ini membagikan perjalanan hidupnya di Instagram untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kondisi yang dihadapinya.

Rolivia pertama kali didiagnosis dengan gagal ginjal stadium 5 pada tahun 2020 saat usianya masih 21 tahun. Menurut penjelasan dokter, kondisi tersebut disebabkan oleh penyakit autoimun lupus yang telah dideritanya. "Jadi lupus aku itu terakhir menyerang ginjal sampai benar-benar turun fungsi. Aku lupusnya sekitar 2017 pas awal-awal aku kuliah," ungkap Rolivia.

Perjuangan Melawan Penyakit

Penyakit lupus yang diderita Rolivia tidak hanya menyerang ginjal, tetapi juga organ-organ lain seperti saraf otak, paru-paru, dan kulit. Ketika pertama kali menerima diagnosis, Rolivia mengaku merasa sangat terpuruk, terutama karena harus menjalani cuci darah secara rutin. "Pada saat itu, berat badanku juga naik hingga 30 kg akibat cairan yang menumpuk di tubuhku," katanya.

Rolivia menjelaskan bahwa ia harus menjalani operasi untuk memasang alat cuci darah. Meskipun awalnya merasa sulit menerima kenyataan, ia berusaha untuk menerima kondisinya dengan perlahan. "Sampai sekarang juga masih suka 'kenapa gue?' tapi ya sudah berusaha menerima aja sih," tambahnya.

Menjaga Kesehatan Mental

Dalam menjalani rutinitasnya, Rolivia berusaha untuk tetap bahagia dan menjalani aktivitas sehari-hari meskipun harus melakukan cuci darah. Ia percaya bahwa menjaga kesehatan mental sangat penting untuk stabilitas fisiknya. "Lebih baik ya udah kita jalanin aja dengan happy walaupun nggak tiap hari happy ya namanya manusia kadang sedih, kadang masih ada yang aku nggak terimanya," ujarnya.

Rolivia juga merasa bersyukur atas kemajuan yang telah dicapainya. "Toh semuanya sudah getting so much better dibanding dulu aku cuma bisa bolak-balik rumah sakit, cuma bisa di kursi roda, sekarang sudah bisa aktivitas normal. Yaitu syukurin aja jadi mungkin kuncinya adalah bersyukur itu yang bikin aku juga bisa berdamai dengan segala penyakit aku," tutupnya.

Artikel Terkait