🔴 Breaking
Pendaftaran UIN Jakarta 2026: Jalur Non Tes dengan Nilai SNBT Dividen Rp45 per Saham, Investor ARNA Dapat Keuntungan Menarik Livin' oleh Mandiri Luncurkan Fitur QR Internasional di Korea Selatan Bahlil: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Masih Dalam Pertimbangan Inovasi Deteksi Penyakit Kucing: Dosen Universitas Brawijaya Kembangkan Kit Deteksi Panleukopenia BRI Umumkan Pembagian Dividen Menggembirakan, DPR Catat Angka Mencapai 92 Persen Kementerian Pertanian Tetapkan Harga Kedelai Acuan di Rp11.500 per Kg untuk Stabilitas Pasar Pendaftaran UTBK SNBT 2026: Download Kartu Peserta Mulai Besok BRI Alokasikan Dividen Sebesar Rp52,1 Triliun, Setara Rp346 per Saham untuk Pemegang Saham Fenomena 'Inflasi Pengamat': Kesadaran Kritis atas Kualitas Informasi Pendaftaran UIN Jakarta 2026: Jalur Non Tes dengan Nilai SNBT Dividen Rp45 per Saham, Investor ARNA Dapat Keuntungan Menarik Livin' oleh Mandiri Luncurkan Fitur QR Internasional di Korea Selatan Bahlil: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Masih Dalam Pertimbangan Inovasi Deteksi Penyakit Kucing: Dosen Universitas Brawijaya Kembangkan Kit Deteksi Panleukopenia BRI Umumkan Pembagian Dividen Menggembirakan, DPR Catat Angka Mencapai 92 Persen Kementerian Pertanian Tetapkan Harga Kedelai Acuan di Rp11.500 per Kg untuk Stabilitas Pasar Pendaftaran UTBK SNBT 2026: Download Kartu Peserta Mulai Besok BRI Alokasikan Dividen Sebesar Rp52,1 Triliun, Setara Rp346 per Saham untuk Pemegang Saham Fenomena 'Inflasi Pengamat': Kesadaran Kritis atas Kualitas Informasi
Kesehatan

Kronologi Mengerikan: Dokter Internsip di Cianjur Meninggal akibat Campak

Dokter internsip di Cianjur meninggal akibat campak, apa penyebabnya?

Indriani Atmaja

Penulis

30 March 2026
7 kali dibaca
Kronologi Mengerikan: Dokter Internsip di Cianjur Meninggal akibat Campak

Baru-baru ini, sebuah tragedi mengerikan terjadi di Cianjur, Jawa Barat, ketika seorang dokter internsip meninggal akibat campak. Kejadian ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat dan tenaga kesehatan. Menurut informasi, dokter tersebut berusia relatif muda dan sedang menjalani program internsip di sebuah rumah sakit di Cianjur.

Kronologi kejadian ini bermula ketika dokter internsip tersebut mulai merasakan gejala campak, seperti demam, batuk, dan ruam kulit. Awalnya, gejala-gejala tersebut dianggap sebagai penyakit biasa, namun kondisi dokter tersebut terus memburuk. Setelah menjalani perawatan intensif, dokter tersebut akhirnya meninggal akibat komplikasi campak.

Menurut "Kami sangat terkejut dengan kejadian ini, karena dokter tersebut masih relatif muda dan sehat," kata seorang saksi yang tidak mau disebutkan namanya. "Kami berharap kejadian ini dapat menjadi peringatan bagi semua tenaga kesehatan untuk selalu menjaga kesehatan dan keselamatan mereka."

Investigasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa dokter internsip tersebut belum pernah divaksinasi campak sebelumnya. "Kami sedang menyelidiki penyebab pasti kejadian ini, termasuk apakah ada kesalahan dalam prosedur vaksinasi atau tidak," kata seorang pejabat kesehatan setempat.

Kejadian ini juga memicu perdebatan tentang pentingnya vaksinasi bagi tenaga kesehatan. "Vaksinasi adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit, terutama bagi tenaga kesehatan yang berinteraksi langsung dengan pasien," kata seorang ahli kesehatan.

Dalam beberapa hari terakhir, rumah sakit di Cianjur tersebut telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksinasi bagi semua staf medis. "Kami berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua tenaga kesehatan untuk selalu menjaga kesehatan dan keselamatan mereka, serta memastikan bahwa semua pasien mendapatkan perawatan yang aman dan efektif," kata seorang pejabat rumah sakit.

Artikel Terkait

Sumber: www.cnnindonesia.com