Nama Iding Pardi kini semakin banyak dibicarakan di kalangan pelaku pasar modal setelah ia disebut-sebut sebagai salah satu kandidat untuk posisi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode yang akan datang. Di tengah berlangsungnya proses fit and proper test yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Iding dianggap mewakili sosok internal pasar modal yang berpengalaman dalam operasional, pengelolaan risiko, serta sistem kliring dan penjaminan transaksi bursa.
“Lancar-lancar saja, alhamdulillah. Harus optimistis,” ungkap Iding Pardi setelah mengikuti Penilaian Kemampuan dan Kepatutan di Gedung BEI Jakarta pada Rabu, 20 Mei 2026.
Karier yang Mapan di KPEI
Iding bukanlah sosok baru dalam industri pasar modal. Pria yang lahir di Majalengka pada tahun 1975 ini telah menghabiskan sebagian besar kariernya di KPEI, yang merupakan salah satu Self-Regulatory Organization (SRO) dan berperan penting dalam sistem kliring dan penjaminan transaksi bursa di Indonesia. Ia memulai kariernya di KPEI pada tahun 1999 sebagai staf pemantauan risiko. Pada saat itu, pasar modal Indonesia masih dalam proses pemulihan pasca krisis finansial Asia.
Kariernya terus berkembang secara bertahap. Dari tahun 2005 hingga 2013, Iding menjabat sebagai pemimpin Unit Pengkajian dan Pengembangan Bisnis. Selanjutnya, ia menjadi Kepala Divisi Riset dan Pengembangan Bisnis dari tahun 2013 hingga pertengahan 2018. Perjalanan kariernya berlanjut ketika ia diangkat menjadi Direktur II KPEI untuk periode 2018-2022. Pada tahun 2022, melalui keputusan RUPS Tahunan KPEI pada 22 Juni 2022, ia resmi dilantik sebagai Direktur Utama KPEI untuk masa jabatan 2022-2026.
Pendidikan dan Fokus Pengembangan Pasar Modal
Dalam bidang akademik, Iding menyelesaikan pendidikan Sarjana Administrasi Niaga di Universitas Indonesia pada tahun 1998. Ia kemudian melanjutkan studi Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Risiko di universitas yang sama dan lulus pada tahun 2006. Pengalaman yang panjang di lembaga kliring membuat Iding dikenal dekat dengan isu-isu terkait stabilitas sistem perdagangan, pengelolaan risiko transaksi, serta penguatan tata kelola pasar modal.
Dalam proses fit and proper test untuk calon direksi BEI, Iding menekankan bahwa fokus utama yang ingin ia dorong adalah penguatan governance atau tata kelola pasar modal Indonesia. “Kami ingin memperkuat governance. Itu fondasi utama agar market kita bertumbuh lebih sehat lagi,” jelas Iding.
Menurutnya, BEI tidak seharusnya hanya berfokus pada pertumbuhan transaksi harian atau kenaikan indeks saham. Bursa harus memastikan bahwa sistem perdagangan berjalan dengan prinsip prudent, transparan, adil, dan efisien. “Yang kami fokuskan adalah bagaimana mengelola pasar lebih prudent, lebih transparan, dan lebih fair,” tambahnya.
Iding juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas investor domestik serta kualitas perusahaan yang terdaftar. Ia berpendapat bahwa lonjakan jumlah investor dalam beberapa tahun terakhir perlu diimbangi dengan edukasi dan penguatan orientasi investasi jangka panjang. “Investor harus melihat pasar sebagai long term investment, bukan sekadar transaksi spekulatif jangka pendek,” tegasnya.
Selain itu, Iding memberikan perhatian pada hubungan BEI dengan penyedia indeks global seperti MSCI Inc. Ia menyatakan bahwa komunikasi dengan lembaga indeks global sangat penting karena berkaitan dengan persepsi investor asing terhadap kredibilitas pasar modal Indonesia. “Kita harus berkomunikasi dengan baik dengan mereka dan memperhatikan concern mereka terkait transparansi dan fairness,” ujarnya.
Saat ini, Iding memimpin manajemen KPEI bersama Direktur Kliring dan Penjaminan Antonius Herman Azwar serta Direktur Teknologi Informasi dan Dukungan Bisnis Umi Kulsum. Di jajaran komisaris terdapat Hoesen sebagai Komisaris Utama bersama Ronald Waas dan Uriep Budhi Prasetyo sebagai Komisaris. KPEI sendiri memiliki peran sentral dalam pasar modal Indonesia sebagai lembaga kliring dan penjaminan atau central counterparty (CCP), yang bertugas memastikan hak dan kewajiban transaksi bursa terpenuhi serta menjamin penyelesaian transaksi antar anggota kliring berjalan dengan aman dan teratur.
Proses seleksi untuk direksi baru BEI saat ini masih berlangsung di OJK. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, sebelumnya menyatakan bahwa seluruh kandidat masih dirahasiakan untuk menjaga objektivitas proses penilaian. “Itu paling lambat 7 hari sebelum pelaksanaan RUPS. RUPS ini tanggal 29. Jadi paling lambat 22 Juni sudah akan diinformasikan kepada publik melalui media juga,” tutup Hasan.