KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini berada dalam periode krusial menjelang pengumuman hasil evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026. Di tengah harapan yang tinggi dari pasar, investor tetap perlu memperhatikan besarnya arus keluar dana asing dari Bursa Efek Indonesia.
Pada pekan lalu, IHSG berhasil mencatatkan kinerja positif dengan penutupan di level 6.177, mengalami penguatan sekitar 2,82 persen dibandingkan dengan posisi di pekan sebelumnya. Namun, penguatan ini terjadi di tengah tingginya aksi jual dari investor asing yang masih cukup signifikan.
Data pasar menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan outflow sebesar Rp4,5 triliun di pasar reguler selama seminggu terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan indeks belum sepenuhnya didorong oleh masuknya dana asing, melainkan lebih banyak didukung oleh sentimen domestik dan aktivitas dari investor lokal.
Sentimen Global dan Domestik Mempengaruhi IHSG
David Kurniawan, Analis Ekuitas di PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menyatakan bahwa kinerja IHSG dalam sepekan terakhir dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang memberikan ruang bagi pasar untuk bergerak naik. Dari sisi global, perhatian investor tertuju pada keputusan Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuannya di level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
David menambahkan bahwa keputusan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru di pasar keuangan global, karena menunjukkan bahwa inflasi di Amerika Serikat masih sulit untuk dikendalikan. "Kebijakan menahan ini bukan lagi cerminan dari strategi yang penuh kehati-hatian, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa inflasi jauh lebih bebal dan sulit ditaklukkan daripada yang mereka perkirakan semula," ujarnya dalam risetnya.
Ia juga menjelaskan bahwa narasi tentang suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama menjadi tantangan bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam kondisi tersebut, investor global cenderung memilih untuk mempertahankan dananya di aset berdenominasi dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dan risiko yang lebih rendah. Hal ini berpotensi menyebabkan pasar negara berkembang menghadapi tekanan arus keluar modal serta peningkatan volatilitas di pasar keuangan.
Kebijakan Suku Bunga dan Dampaknya
Dari sisi domestik, pasar juga merespons keputusan Bank Indonesia yang secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75 persen. Keputusan ini berada di atas ekspektasi mayoritas pelaku pasar dan langsung memicu penyesuaian harga berbagai instrumen keuangan. David menilai keputusan tersebut mencerminkan meningkatnya kewaspadaan otoritas moneter terhadap risiko global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Menurutnya, langkah ini juga menjadi sinyal bahwa Bank Indonesia lebih mengutamakan stabilitas makroekonomi dibandingkan dengan dorongan pertumbuhan jangka pendek. "Melalui langkah ini, otoritas moneter memprioritaskan stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi, meskipun harus memitigasi risiko perlambatan pada momentum pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek," jelasnya.
Selain memperhatikan kebijakan suku bunga global dan domestik, pelaku pasar juga menunggu hasil evaluasi MSCI yang diperkirakan akan menjadi sentimen utama bagi arah pergerakan IHSG. David mencatat bahwa pasar sempat mengalami tekanan setelah MSCI merilis Global Market Accessibility Review yang menurunkan penilaian indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif.
Perubahan penilaian ini dipicu oleh beberapa catatan MSCI terkait transparansi struktur kepemilikan saham publik serta indikasi aktivitas perdagangan yang dianggap terkoordinasi. Laporan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa Indonesia mungkin mengalami penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Jika hal ini terjadi, sejumlah investor institusi global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi berpotensi melakukan penyesuaian portofolio mereka.
Meski demikian, David berpendapat bahwa pasar masih memiliki alasan untuk optimis. Sebagian besar indikator aksesibilitas pasar Indonesia masih dalam kondisi yang baik. "Skenario terburuk mengenai potensi penurunan kasta menjadi Frontier Market sempat membayangi bursa. Namun, mayoritas dari 18 kriteria aksesibilitas lainnya yang tetap terjaga memberikan fondasi bagi pasar untuk merawat optimisme aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia yang memperoleh sentimen positif," tegasnya.