Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengajak pesantren di seluruh Indonesia untuk mengembangkan tradisi keilmuan yang mirip dengan Baitul Hikmah, sebuah lembaga yang berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan peradaban Islam. Dalam acara Munajat Santri untuk Negeri yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada hari Jumat, ia menyatakan harapannya agar pesantren dapat kembali melahirkan ilmuwan yang memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan ilmu pengetahuan global.
"Kalau perlu Baitul Hikmah akan bangkit kembali di lingkungan pondok pesantren di Indonesia," ungkap Nasaruddin. Ia menjelaskan bahwa Baitul Hikmah merupakan contoh ideal bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan, penelitian, dan kolaborasi antar ilmuwan dari berbagai latar belakang.
Sejarah dan Kontribusi Baitul Hikmah
Nasaruddin menjelaskan bahwa Baitul Hikmah didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahun 786 Masehi dan kemudian dikembangkan oleh putranya, Khalifah Al-Ma'mun, pada tahun 813 Masehi. Tradisi keilmuan yang berkembang di Baitul Hikmah telah melahirkan banyak ilmuwan yang memberikan kontribusi besar terhadap peradaban dunia modern, seperti Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, dan Ibnu Haitsam dalam optika. Selain itu, terdapat juga Ibnu Sina yang terkenal dalam kedokteran dan Al-Razi yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu kedokteran. Nasaruddin juga menyebut Ibnu Rusyd sebagai ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk kedokteran, filsafat, dan fikih.
Keterbukaan dan Kolaborasi dalam Pendidikan
Menag menyoroti pentingnya keterbukaan dalam lingkungan pendidikan yang ada di Baitul Hikmah. Di masa itu, ilmuwan dari berbagai latar belakang agama, termasuk Muslim, Kristen, Yahudi, dan Hindu, dapat berkumpul dalam satu lingkungan untuk belajar dan melakukan penelitian. "Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan," katanya.
Nasaruddin menilai semangat kolaborasi dan keterbukaan tersebut sangat relevan untuk diterapkan di pesantren saat ini. Ia berharap pesantren tidak hanya mempertahankan tradisi pendidikan agama, tetapi juga memberikan ruang bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kerja sama lintas disiplin. Menurutnya, tantangan yang dihadapi pesantren saat ini adalah mempersiapkan santri agar mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi seiring dengan perkembangan zaman. Dengan bekal tersebut, diharapkan santri dapat berperan dalam berbagai bidang profesi dan kehidupan masyarakat.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu berharap agar semakin banyak santri yang tumbuh menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, pengusaha, ahli teknologi, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa. "Zaman telah berubah, tetapi semangat pengabdian tidak boleh berubah," tegasnya.